Webinar 'Menakar Peluang Pilwali Kota Blitar di Era Pandemi Covid-19 tahun 2020 digelar Unisba dan KPU Kota Blitar
Webinar 'Menakar Peluang Pilwali Kota Blitar di Era Pandemi Covid-19 tahun 2020 digelar Unisba dan KPU Kota Blitar

Pelaksanaan pemilu serentak tahun 2020 di masa pandemi covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan juga para Calon Bupati maupun Wali Kota. Tak terkecuali di Kota Blitar, peluang masing-masing Pasangan Calon (Paslon) dalam Pemilihan Umum Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwali) Kota Blitar menjadi sulit untuk diprediksi.

Untuk itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar bersama KPU Kota Blitar menggelar webinar 'Menakar Peluang Pilwali Kota Blitar di Era Pandemi Covid-19 tahun 2020', Senin (23/11/2020).

Baca Juga : Redesign Logo Baru TWSL, Pemuda Probolinggo Gelar Pameran Virtual

Dalam webinar tersebut, hadir dan bertindak sebagai pemateri di antaranya Drs. Hery Basuki, MM (Dekan Fisipol Unisba Blitar), Rangga Bisma Aditya, S.Sosio (Kepala Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kota Blitar), Nanang Habibi S.Sos (Pimred Suara Indonesia), Fatkhur Rohman, S.Pd (Ketua Jaringan Pemilih Pendidi untuk Rakyat JPPR Kota Blitar), Saiful Hakam, SS, MA (Staff Peneliti Muda P2SDR LIPI) dan juga dimoderatori oleh Novi Catur Puspita S.Pd, M.Si (Kaprodi Sosiologi Fisipol Unisba Blitar).

Dekan Fisipol Unisba Blitar, Drs. Basuki, MM kepada BLITARTIMES mengatakan, dalam webinar ini setidaknya ada beberapa instrumen yang menjadi tolak ukur untuk menakar peluang dalam Pilwali Kota Blitar 2020 ini. Di antaranya yakni strategi kampanye di masa pandemi, mesin politik serta elektabilitas masing-masing Paslon Wali Kota.

"Sesuai dengan tema webinar yakni menakar peluang, bagaimana menakar peluang dalam Pilwali Kota Blitar 2020 ini tentunya ada beberapa instrumen, pertama untuk mengukur kinerja dari mesin politik dari masing-masing kandidat. Jadi dari JPPR, Media Suara Indonesia itu harapan kita harapkan bisa menjadi narasumber untuk mengetahui tingkat elektabilitas masing-masing calon sampai pada hari H pelaksanaan Pilwali Kota Blitar," jelas Hery Basuki.

Menurutnya, mendekati pelaksanaan Pilwali Kota Blitar 2020 ini setidaknya ada beberapa hal yang perlu dievaluasi oleh masing-masing Paslon. Terutama pada mesin politik yang digunakan masing-masing Paslon dalam kampanye di masa pandemi seperti saat ini.

"Tentu ada strategi terobosan sampai pada masa-masa minggu tenang mendatang. Sekali lagi saya melihat, kinerja mesin politik ini harus dievaluasi. Apabila kinerja mesin politik ini hanya untuk menyenangkan para calon saja maka kasian para calon ini. Melalui webinar ini harapanya, gagasan dari para narasumber bisa ditangkap sehingga peluang para calon bisa maksimal dalam Pilwali Kota Blitar 2020 ini," terangnya.

Hery menilai, diskusi online ini sangat penting untuk menjadi pertimbangan para stakeholder yang berkecimpung dalam Pilwali Kota Blitar ini. Menurutnya, analisis serta gagasan akademisi dan para pemateri sangat penting guna menunjang dialektika politik maupun perencaan pembangunan di Kota Blitar.

Baca Juga : Di Hari Guru, Dua Guru Honorer Ini Berbagi Tips Mendapatkan Penghasilan Tambahan

"Sampai saat ini kita belum melihat apakah diskusi kemarin ini diikuti oleh para stakeholder yang punya kepentingan dalam hal itu. Akan tetapi lewat webinar kemarin, LIPI menyambut baik diskusi kemarin. Bahkan mereka menyampaikan, seharusnya para stakeholder ini bisa mendayagunakan Lembaga Pendidikan tinggi lokal untuk kepentingan sebuah perencanaan pembangunan, ini memang sudah waktunya," imbuhnya. 

Lebih dalam Hery mengkritisi, bahwa perencanaan dan pembangunan daerah saat ini seyogyanya penting untuk memperhatikan aspek-aspek ideologi politik, ekonomi, sosial dan budaya, pertahanan, dan keamanan (Ipoleksosbudhankam). Menurutnya, hal ini merupakan sebuah urgensi dalam perencanaan dan pembangunan berkelanjutan dalam suatu daerah.

"Berbicara pembangunan saat ini kan meliputi Poleksoshankam, jadi meliputi pembangunan fisik dan non fisik, politik, sosial dan budaya, hal ini yang juga disinyalir oleh para narasumber kemarin. Selain itu, saya juga mengkritisi agar menggunakan Bahasa daerah dalam pelaksanaan debat. Jadi penggunaan Bahasa daerah ini juga harus diuri-uri dengan baik, karena dalam bahasa daerah banyak mengandung Bahasa sastra, hierarki sosial, jadi kemarin waktu debat terlihat mana pasangan yang kurang menguasai bahasa daerah," tuntasnya.