Situasi Politik Masih Panas, Ini Tugas Besar Prabowo Gibran Menurut Pakar
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Dede Nana
27 - Apr - 2024, 02:57
JATIMTIMES - Pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka telah resmi ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI dan tinggal menunggu pelantikan. Meski begitu, pakar menyebut, bahwa Prabowo masih mempunyai PR besar.
Seperti diketahui kondisi perdebatan politik masih terjadi pasca putusan MK itu. Terlebih pasca putusan itu, kondisi koalisi partai pendukung Ganjar- Mahfud maupun Anies-Muhaimin goyah.
Baca Juga : Respon PDIP Kabupaten Malang Terkait Pertemuan Sanusi-Lathifah: Semua Harus Melalui Proses
Nasdem dan PKB kini berbalik arah mendukung dan bergabung dengan koalisi Prabowo. Bahkan PPP yang sebelumnya berkoalisi dengan PDIP, kini menunjukkan arah dukungan para Prabowo.
Dari sini, otomatis menyisakan PDIP dan PKS
yang sejauh ini masih belum menyampaikan rencana bergabung dengan pemerintah atau oposisi. Ketidak-legowoan pun nampaknya masih terus ada.
Melihat hal tersebut, Pakar Ilmu Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Prof Rachmat Kriyantono memandang hal ini menjadi tugas besar atau PR Prabowo Gibran.
Dalam konteks komunikasi politik semua elit, dijelaskan Prof Rachmat Kriyantono, semua elit politik harus bersikap terbuka, dalam artian legowo, menerima hasil keputusan dari MK.
Meski ada rasa keberatan, namun saat ini telah ada aturan yang mengikat. Lebih dari itu, mekanisme atau upaya untuk membatalkan atau menganulir keputusan MK tersebut juga sudah maksimal.
Sikap legowo ini, menurutnya memang masih memerlukan waktu. Tetapi, peran Prabowo sebagai aktor utama dan pihak pemenang dalam upaya mengkondusifkan tentunya juga sangat penting.
"Jadi sifat legowo ini saya kira perlu waktu dan aktor utama yang bisa tentu pihak yang menang, ini tugas besar Prabowo dan Gibran bersama timnya untuk bersilaturahmi dan pendekatan politik," katanya saat ditemui di FISIP UB.
Dalam diskusi politik, dikatakan Prof Rachmat itu terdapat bergaining position atau sistem tawar-menawar. Hal ini memang lumrah terjadi apalagi untuk untuk kemaslahatan bersama. Maka, dalam hal inilah dapat dimanfaatkan atau dijadikan upaya dalam merangkul kelompok tertentu, meski semua keputusan kembali pada masing-masing pihak.
"Tapi ini pasti butuh waktu. Proses komunikasi tidak bisa jalan tiba-tiba atau langsung...