free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Internasional

Perang Thailand vs Kamboja Semakin Panas, 16 Tewas dan 120 Ribu Ngungsi

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

25 - Jul - 2025, 18:55

Loading Placeholder
Bendera Thailand dan Kamboja. (Foto: Pixabay)

JATIMTIMES - Perang antara Thailand dan Kamboja semakin menjadi-jadi. Akibatnya, 16 orang tewas dan lebih dari 120.000 warga yang tinggal di perbatasan mengungsi per hari ini, Jumat (25/7).

Lebih rinci, korban tewas di Thailand mencapai 14 orang dan satu tentara. Kementerian Dalam Negeri Thailand juga melaporkan lebih dari 30 orang terluka dan 15 tentara mengalami luka-luka.

Baca Juga : Momentum Hari Kesatuan Gerak PKK ke-53, Bupati Sanusi Kukuhkan Pengurus TP PKK se-Kabupaten Malang

Selain itu, Thailand mengungkap 100.672 warga yang tinggal di perbatasan dievakuasi ke tempat lebih aman. Mereka yang dipindahkan mayoritas berasal dari Provinsi Surin, Sisaket, Buriram, dan Ubon Ratchathani.

Sementara itu, pejabat provinsi perbatasan Oddar Meanchey, Kamboja, mengatakan satu orang tewas dan lima orang terluka dalam serangan Thailand. Sekitar 20.000 warga juga telah dievakuasi dari perbatasan.

Pemicu Awal Perang

Akar konflik memuncak pada Rabu (23/7/2025), ketika Thailand menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan mengusir diplomat Kamboja. Langkah itu menyusul insiden mengerikan, seorang tentara Thailand kehilangan anggota tubuh akibat ranjau darat yang dituduhkan baru-baru ini dipasang pasukan Kamboja.

Namun, Kamboja membantah keras tudingan itu. Kementerian Pertahanan dan otoritas penanganan ranjau Kamboja justru menuduh Thailand melanggar hukum internasional dengan menggunakan amunisi tandan.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Thailand, yang bukan penanda tangan Konvensi Munisi Tandan, belum memberikan komentar resmi.

Jet Tempur Dikerahkan, Dunia Mengecam

Thailand untuk kali pertama  sejak lama mengerahkan jet tempur F-16 dalam serangan udara terhadap target militer Kamboja.

Tindakan ini langsung menuai reaksi keras dari Phnom Penh yang menyebutnya sebagai “agresi militer brutal dan sembrono”. Kamboja juga telah melayangkan protes resmi ke Dewan Keamanan PBB.

Baca Juga : Jumlah Penduduk Miskin Jatim 3,876 Juta Jiwa, Masih Jadi yang Terbanyak di Indonesia

Langkah Thailand ini menegaskan keunggulan militernya atas Kamboja, yang tidak memiliki jet tempur serta memiliki keterbatasan dalam persenjataan dan personel.

Seruan Damai dan Penolakan Mediasi

Sejumlah negara menyerukan deeskalasi. Amerika Serikat, sebagai sekutu lama Thailand dan Malaysia yang kini memimpin ASEAN mendesak penghentian permusuhan.

PM Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan telah berbicara dengan kedua belah pihak dan menyambut baik sinyal positif untuk berdialog.

Namun, Bangkok bersikeras untuk tetap menggunakan mekanisme bilateral. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand Nikorndej Balankura mengatakan, “Kami tetap pada posisi kami bahwa mekanisme bilateral adalah jalan keluar terbaik.”

Konflik Thailand dan Kamboja menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan Asia Tenggara saat ini. Dengan keterlibatan artileri berat, jet tempur, serta korban sipil yang terus bertambah, dunia mendesak kedua negara agar segera menghentikan kekerasan dan mengedepankan dialog damai.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

Internasional

Artikel terkait di Internasional

--- Iklan Sponsor ---