free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Internasional

Trump Hentikan Operasi Militer AS di Selat Hormuz, Pertanda Konflik Segera Mereda?

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

06 - May - 2026, 09:13

Loading Placeholder
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto @realdonaldtrump)

JATIMTIMES - Kabar terbaru datang dari Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penghentian sementara operasi militer negaranya di Selat Hormuz, Selasa waktu setempat. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.

Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Trump melalui akun media sosial Truth Social. Ia menyebut langkah ini merupakan respons atas permintaan sejumlah pihak, termasuk Pakistan, yang berperan sebagai mediator dalam upaya meredakan konflik.

Baca Juga : Cuaca Ekstrem Berpotensi Landa Indonesia hingga 11 Mei 2026, Ini Sebaran Wilayahnya

Menurut Trump, penghentian operasi dilakukan untuk memberi ruang bagi proses negosiasi yang disebutnya menunjukkan kemajuan signifikan. “Kami telah sepakat bahwa, meskipun blokade tetap berlaku sepenuhnya, Project Freedom akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat guna melihat apakah perjanjian dapat diselesaikan dan ditandatangani,” ujarnya, seperti dikutip AFP, Rabu (6/5/2026).

Sebelumnya, Trump meluncurkan “Project Freedom”, yakni operasi militer yang bertujuan mengawal kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut menjadi pusat ketegangan setelah Iran melakukan pemblokiran di tengah konflik dengan AS dan Israel.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa operasi ofensif Amerika terhadap Iran telah berakhir. Operasi yang diberi nama “Epic Fury” itu disebut telah menyelesaikan misinya.

“Operasi telah berakhir. Epic Fury sudah selesai, seperti yang diberitahukan presiden kepada kongres. Kita sudah melewati fase itu,” kata Rubio di Gedung Putih.

Ia juga menekankan bahwa aktivitas militer AS di Selat Hormuz bersifat defensif, bukan ofensif. “Ini bukan operasi ofensif. Ini adalah operasi defensif. Tidak ada tembakan kecuali kami ditembak terlebih dahulu,” jelasnya.

Ketegangan di kawasan tersebut sempat memuncak dalam beberapa hari terakhir. Iran mengklaim telah menembaki kapal militer AS, sementara pihak Gedung Putih menyatakan telah menenggelamkan tujuh kapal Iran.

Konflik ini bermula sejak 28 Februari, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei serta menghancurkan sejumlah fasilitas penting. Namun, serangan itu tidak mampu menggulingkan pemerintahan Teheran.

Baca Juga : Playground Rusak di Alun-Alun Merdeka, Bukan Wahana Baru Tapi Modul Lama Dipaksakan Bertahan

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai wilayah di Timur Tengah yang memiliki keterkaitan dengan kepentingan AS dan Israel.

Pada 8 April, Trump sempat mengumumkan gencatan senjata dengan Iran. Meski sempat diperpanjang, negosiasi antara kedua pihak masih berjalan alot.

Rubio menyebut AS telah mencapai tujuan utama dalam konflik tersebut, namun tetap membuka jalan bagi penyelesaian damai. “Presiden tetap lebih memilih solusi melalui kesepakatan yang dinegosiasikan,” ujarnya.

Meski situasi di Selat Hormuz masih menyisakan ketegangan, keputusan penghentian sementara operasi militer ini menjadi sinyal penting bahwa peluang menuju penyelesaian damai masih terbuka. Dunia kini menanti apakah langkah diplomasi yang sedang berjalan benar-benar mampu mengakhiri konflik secara permanen.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

Internasional

Artikel terkait di Internasional

--- Iklan Sponsor ---