JATIMTIMES - Ada nasihat yang terasa sederhana, tetapi justru paling sulit dilakukan oleh orang yang sedang berada di tengah keramaian : menjauh sejenak dari suara manusia agar dapat mendengar suara hati sendiri.
Imam al-Ghazali, dalam Bidayatul Hidayah, mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga lisan, menghindari gunjingan, serta tidak mudah menempatkan diri dalam ruang-ruang yang membuka pintu prasangka. Bukan karena setiap prasangka itu benar, melainkan karena seorang yang ingin menjaga kehormatan dirinya dan agamanya kadang harus menghindari tempat yang memungkinkan kehormatannya dipertukarkan menjadi bahan percakapan.
Ada kalanya uzlah bukan tanda kalah. Uzlah adalah keberanian untuk berhenti sejenak. Menepi. Tidak menjelaskan segala sesuatu kepada setiap orang. Tidak merasa harus memenangkan seluruh perdebatan. Tidak merasa setiap tuduhan harus dijawab, setiap bisik-bisik harus diluruskan, dan setiap kritik harus dibalas dengan pembelaan.
Sebab ada keadaan ketika seseorang sebenarnya benar, tetapi cara ia mempertahankan kebenaran justru membuat keadaan semakin gaduh.
Dalam tradisi tasawuf, menyendiri bukan semata-mata meninggalkan manusia. Ia adalah perjalanan kembali kepada diri sendiri: memeriksa niat, mengukur ambisi, menghitung kesalahan, dan bertanya dengan jujur kepada hati—apakah yang sedang kita perjuangkan benar-benar kemaslahatan, atau diam-diam ada sesuatu dari diri kita yang ingin terus dipertahankan?
Pertanyaan semacam itu menjadi semakin penting ketika seseorang telah berada di tempat yang tinggi.
Sebab semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin banyak mata yang memandangnya. Dan semakin besar sebuah lembaga, semakin besar pula kemungkinan setiap keputusan dibaca dari banyak arah.
Ada sebuah kisah yang masyhur dalam tradisi nasihat para ulama tentang seorang perempuan yang bekerja pada malam hari. Pekerjaannya halal. Penghasilannya baik. Tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukannya. Namun, lingkungan tempat tinggalnya mulai membicarakannya. Bukan karena ia melakukan keburukan, melainkan karena waktu kerjanya dianggap tidak lazim. Perempuan yang sering keluar malam kemudian menjadi bahan dugaan. Dari dugaan lahir cerita. Dari cerita lahir stigma.
Dalam keadaan demikian, nasihat yang diberikan bukan karena pekerjaannya haram, melainkan karena menjaga diri dari pintu fitnah juga merupakan bagian dari kebijaksanaan.
Kisah itu memberi kita pelajaran yang lebih luas daripada sekadar soal seorang perempuan dan pekerjaannya. Kadang-kadang, tidak cukup bagi seseorang untuk mengatakan, “Saya tidak melakukan kesalahan.”
Sebab dalam kehidupan sosial, terutama dalam kehidupan organisasi keagamaan, marwah bukan hanya perkara apakah seseorang benar secara pribadi. Marwah juga menyangkut bagaimana sebuah keputusan dipersepsikan, bagaimana sebuah keadaan dibaca oleh jamaah, dan apakah keberadaan kita masih membawa ketenteraman atau justru tanpa sengaja memperpanjang kegaduhan.
Di sinilah kebesaran seorang pemimpin diuji. Bukan ketika ia mendapatkan pujian, bukan pula ketika semua orang berdiri di belakangnya.
Kebesaran seorang pemimpin justru tampak ketika ia mampu bertanya: “Apakah keberlanjutan saya di sini masih lebih maslahat bagi organisasi daripada pengunduran diri saya?”
Pertanyaan tersebut mungkin terasa pahit. Tetapi bukankah kepemimpinan pada hakikatnya adalah kesediaan mengutamakan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri?
Organisasi keislaman yang telah tumbuh bersama sejarah bangsa tentu bukan milik satu periode kepengurusan. Ia lebih tua daripada jabatan kita dan, insyaallah, akan lebih panjang umurnya daripada usia kita. Karena itu, siapa pun yang sedang memegang amanah di dalamnya sesungguhnya hanya sedang memegang sebuah estafet.
Estafet tidak pernah dimaksudkan untuk digenggam selamanya, ada waktunya menerima dan ada waktunya berlari, serta ada waktunya menyerahkan tongkat kepada orang lain dengan hati lapang.
Dalam beberapa tahun terakhir, setiap organisasi besar tentu mengalami dinamika. Kritik bermunculan. Perbedaan pandangan semakin mudah tersebar. Media sosial menjadikan satu percakapan kecil dapat menjadi konsumsi ribuan bahkan jutaan orang. Apa yang dahulu selesai di serambi pesantren, ruang rapat, atau meja musyawarah, kini dapat berubah menjadi perdebatan panjang di ruang digital.
Dalam keadaan semacam ini, seorang pemimpin membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar kemampuan mempertahankan posisi. Ia membutuhkan kejernihan batin. Sebab tidak semua kritik harus dianggap sebagai kebencian. Tidak semua kritik pula harus dianggap sebagai kebenaran. Namun, kritik yang datang berulang kali dari berbagai arah setidaknya layak dijadikan cermin.
Boleh jadi cermin itu retak. Boleh jadi orang yang bercermin tidak sepenuhnya setuju dengan bayangan yang dilihatnya. Tetapi seseorang yang bijaksana tidak akan memecahkan cermin hanya karena tidak menyukai pantulannya.
Ia akan bertanya: mengapa banyak orang melihat sesuatu yang sama? Pertanyaan itulah yang semestinya hadir dalam setiap pergantian kepemimpinan. Bukan untuk menjatuhkan siapa pun, bukan untuk memenangkan kelompok tertentu, bukan pula untuk menghidupkan kembali luka lama. Melainkan untuk memastikan bahwa organisasi tetap menjadi rumah bersama.
Kadang seorang pemimpin merasa bahwa dirinya masih diperlukan. Itu manusiawi. Bahkan mungkin benar. Ia merasa memahami persoalan organisasi, mengetahui jalan keluar dari berbagai krisis, dan memiliki pengalaman yang tidak mudah digantikan. Tetapi justru di situlah ujian keikhlasan dimulai.
Apakah menyelamatkan organisasi selalu berarti harus tetap berada di kursi kepemimpinan? Belum tentu. Kadang organisasi diselamatkan oleh seseorang yang memilih tetap bertahan. Tetapi pada keadaan tertentu, organisasi justru diselamatkan oleh seseorang yang memilih untuk tidak lagi maju.
Baca Juga : PARI Jombang Genjot Screening TBC di Kota Santri, Tuntas Akhir Tahun Ini
Bukan karena ia mengakui dirinya gagal. Bukan karena semua tuduhan kepadanya benar, dan bukan pula karena ia tidak mampu memimpin.
Ia memilih mundur karena memahami bahwa jabatan yang dipertahankan dalam suasana penuh kecurigaan dapat membuat lembaga yang dicintainya terus-menerus menjadi bahan perbincangan. Dan bagi seorang yang benar-benar mencintai organisasi, mungkin itulah pengorbanan yang paling sunyi. Membiarkan namanya berhenti disebut agar nama lembaga tetap disebut dengan hormat.
Ini bukan perkara siapa menang dan siapa kalah. Dalam tradisi kepemimpinan para ulama, jabatan seharusnya tidak menjadi sesuatu yang dikejar dengan segala cara. Amanah diterima karena kebutuhan umat, bukan karena kebutuhan pribadi untuk terus diakui.
Maka ketika masyarakat mulai lelah dengan perdebatan tentang seorang figur, ketika pembicaraan mengenai kepemimpinan lebih banyak menghabiskan energi daripada membicarakan kerja-kerja keumatan, mungkin sudah waktunya seorang pemimpin melakukan uzlah politik—menepi sejenak dari arena pencalonan, bukan karena takut, tetapi karena ingin memberikan ruang bagi organisasi untuk bernapas.
Ada kemuliaan tertentu pada orang yang mampu berkata: “Cukuplah sampai di sini. Saya tidak perlu menjelaskan diri saya kepada semua orang. Saya percaya sejarah akan menemukan jalannya sendiri. Yang lebih penting adalah organisasi ini tetap utuh.”
Kalimat semacam itu mungkin tidak terdengar heroik, tidak akan selalu menjadi judul berita, tidak pula menghasilkan tepuk tangan. Tetapi justru karena itulah ia memiliki nilai moral. Sebab pengorbanan yang paling tulus sering kali tidak memiliki penonton.
Kita barangkali perlu mengembalikan tradisi kepemimpinan ke tempat yang lebih teduh. Bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu menang dalam setiap forum. Tidak harus selalu mendapatkan periode kedua. Tidak harus selalu membuktikan bahwa kritik kepadanya keliru.
Ada saat ketika kemenangan terbesar seorang pemimpin adalah mampu meninggalkan jabatan tanpa meninggalkan permusuhan. Ia dapat tetap dihormati meskipun tidak lagi memimpin, Ia dapat tetap mengabdi meskipun tidak lagi memiliki kewenangan, Ia bahkan mungkin akan menemukan bentuk pengabdian yang lebih luas setelah terbebas dari beban administratif dan politik organisasi.
Bukankah para ulama dahulu mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh tingginya kursi yang ia duduki, tetapi oleh seberapa sedikit dunia berhasil menguasai hatinya Karena itu, kepada siapa pun yang sedang berada di pucuk amanah—tanpa perlu menyebut nama, tanpa perlu menunjuk siapa-siapa—barangkali ada satu nasihat sederhana yang layak direnungkan bersama.
Jika kehadiran kita mulai lebih banyak melahirkan perbincangan daripada ketenteraman, mungkin menepi adalah salah satu bentuk pengabdian. Jika pencalonan kita kembali membuka luka lama, mungkin tidak maju adalah cara paling lembut untuk menutupnya. Jika nama kita terus menjadi pusat perdebatan, mungkin membiarkan nama itu berhenti dari gelanggang adalah bentuk kecintaan kepada lembaga, dan jika kita sungguh-sungguh yakin bahwa organisasi harus diselamatkan, jangan selalu beranggapan bahwa hanya kita yang mampu menyelamatkannya.
Organisasi besar tidak boleh bergantung kepada satu orang. Ia harus lebih besar daripada figur, Ia harus lebih panjang umurnya daripada periode, Ia harus lebih kuat daripada kepentingan kelompok, dan terutama, ia harus mampu menjadi rumah bagi mereka yang berbeda pendapat tanpa membuat perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Mungkin sudah waktunya kita belajar bahwa mundur tidak selalu berarti menyerah. Ada mundur yang lahir dari kekalahan, Tetapi ada pula mundur yang lahir dari kedewasaan.
Ada orang yang mundur karena tidak sanggup menghadapi kenyataan. Namun ada orang yang mundur justru karena terlalu mencintai kenyataan yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Yang kedua inilah yang patut kita doakan. Sebab pada akhirnya, jabatan akan selesai. Periode akan berganti. Nama-nama akan perlahan menjadi bagian dari sejarah. Tetapi marwah sebuah organisasi harus tetap dijaga oleh generasi demi generasi.
Mungkin kelak, ketika hiruk-pikuk telah reda, orang tidak lagi mengingat siapa yang paling keras mempertahankan kursinya. Mereka justru akan mengingat siapa yang memiliki kebesaran hati untuk menyerahkan kursi itu ketika suasana membutuhkan keteduhan.
Barangkali itulah bentuk uzlah yang paling indah bagi seorang pemimpin: bukan pergi dari umat, melainkan menepi dari ambisi agar umat tetap memiliki ruang untuk berjalan. Sebab ada saatnya seseorang harus berhenti menjelaskan bahwa dirinya benar. Bukan karena ia salah, tetapi karena ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada pembuktian dirinya sendiri.
"Marwah umat". Dan bila untuk menjaga marwah itu seseorang harus mengorbankan ambisinya, maka barangkali itulah harga yang paling layak dibayar oleh seorang yang benar-benar mengerti arti amanah. Karena pada akhirnya, pemimpin yang besar bukanlah mereka yang selalu ingin dikenang sebagai orang yang pernah berkuasa. Melainkan mereka yang bersedia dilupakan namanya, asalkan jalan yang mereka tinggalkan tetap terang bagi orang-orang yang datang sesudahnya.
Penulis : Mahrus Ali