Oleh Mohamad Sinal*
JATIMTIMES - Pramoedya Ananta Toer melalui novel Anak Semua Bangsa tidak sekadar melanjutkan kisah Minke setelah Bumi Manusia. Novel tersebut sesungguhnya merupakan perjalanan intelektual seorang anak muda yang mulai memahami bahwa pengetahuan tidak boleh berhenti pada keberhasilan pribadi. Pengetahuan harus berkembang menjadi kesadaran untuk membela kepentingan bangsanya.
Dari sinilah lahir pertanyaan yang layak diajukan kepada Indonesia hari ini sebagai berikut. Masihkah kita menjadi "anak semua bangsa", atau justru telah kehilangan kesadaran sebagai sebuah bangsa?
Baca Juga : Bupati Sanusi Dorong Pembentukan Satgas Perlindungan Anak
Dalam Anak Semua Bangsa, Pramoedya menggambarkan perubahan cara pandang Minke. Pendidikan Barat yang semula dianggap sebagai simbol kemajuan ternyata tidak selalu menghadirkan keadilan. Minke mulai menyadari bahwa kolonialisme tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga mengendalikan ekonomi, perdagangan, hukum, pendidikan, bahkan cara berpikir masyarakat.
Kesadaran tersebut menjadi titik balik yang mengubah seorang pelajar menjadi seorang pemikir yang mulai memikirkan nasib bangsanya. Indonesia memang telah merdeka secara politik. Namun, tantangan yang dihadapi bangsa ini mengalami perubahan bentuk.
Jika dahulu penjajahan hadir melalui kekuatan militer, kini pengaruh global datang melalui ekonomi, teknologi, budaya, dan informasi. Dunia yang semakin terbuka menghadirkan banyak peluang. Namun, juga membawa risiko hilangnya identitas kebangsaan apabila tidak disikapi dengan kebijaksanaan.
Globalisasi telah mempertemukan seluruh bangsa dalam satu ruang digital yang nyaris tanpa batas. Anak-anak muda Indonesia dapat belajar dari universitas terbaik dunia, membangun bisnis lintas negara, dan berkomunikasi dengan siapa saja hanya melalui telepon genggam. Namun, globalisasi juga menghadirkan paradoks.
Di tengah keterhubungan yang semakin luas, rasa memiliki terhadap bangsa sendiri justru sering kali melemah. Tidak sedikit yang lebih mengenal budaya asing daripada sejarah bangsanya sendiri. Bahkan, lebih mengikuti dinamika politik negara lain daripada memahami persoalan masyarakat di sekitarnya.
Fenomena tersebut mengingatkan kita pada pesan utama Anak Semua Bangsa. Menjadi bagian dari masyarakat dunia bukan berarti kehilangan akar kebangsaan. Justru seseorang akan mampu berkontribusi bagi peradaban global apabila terlebih dahulu memahami identitas bangsanya sendiri.
Nasionalisme yang dimaksud Pramoedya bukanlah nasionalisme yang sempit atau menutup diri terhadap dunia luar. Akan tetapi, nasionalisme yang percaya diri untuk belajar dari siapa pun tanpa kehilangan jati diri. Dalam konteks Indonesia saat ini, tantangan tersebut semakin nyata.
Persaingan global menuntut bangsa ini memiliki sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan adaptif. Namun, pembangunan manusia tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan akademik. Bangsa ini juga membutuhkan karakter, integritas, serta kesadaran bahwa ilmu pengetahuan pada akhirnya harus diabdikan untuk kepentingan masyarakat.
Pendidikan yang menghasilkan individu-individu cerdas tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap bangsanya hanya akan melahirkan kompetisi individual, bukan kemajuan kolektif. Pesan inilah yang terasa sangat relevan ketika menyaksikan berbagai persoalan nasional. Polarisasi politik, penyebaran disinformasi, korupsi, ketimpangan sosial, hingga rendahnya budaya literasi menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan semata-mata persoalan ekonomi atau teknologi, melainkan juga persoalan karakter kebangsaan.
Kemajuan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kuatnya rasa tanggung jawab setiap warga negara terhadap kepentingan bersama. Dalam konteks ini, Pramoedya juga mengajarkan bahwa nasionalisme lahir dari kemampuan melihat penderitaan orang lain sebagai bagian dari penderitaan kita sendiri. Minke mulai berubah ketika menyaksikan bagaimana petani, buruh, dan masyarakat kecil menjadi korban sistem kolonial.
Baca Juga : Ribuan Bendera Merah Putih Dibagikan, Plt Bupati Tulungagung: Jaga Nilai Kebangsaan
Kesadaran tersebut mendorongnya keluar dari zona nyaman sebagai kaum terpelajar. Pelajaran itu tetap relevan hingga kini. Pendidikan yang sesungguhnya bukanlah pendidikan yang hanya menghasilkan ijazah, melainkan pendidikan yang melahirkan empati sosial dan keberanian untuk memperjuangkan keadilan.
Di era digital, tantangan lain yang tidak kalah besar adalah derasnya arus informasi yang sering kali membentuk cara berpikir masyarakat. Algoritma media sosial cenderung memperkuat kelompok yang sepemikiran dan mempersempit ruang dialog. Akibatnya, masyarakat semakin mudah terjebak dalam polarisasi, saling mencurigai, dan kehilangan kemampuan untuk berdiskusi secara sehat.
Padahal, bangsa yang besar dibangun melalui dialog, penghormatan terhadap perbedaan, dan kemampuan menemukan kepentingan bersama di tengah keberagaman. Dalam hal ini, Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial yang sangat kuat. Pancasila mengajarkan persatuan dalam keberagaman, sementara semboyan Bhinneka Tunggal Ika menegaskan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekuatan.
Namun, nilai-nilai tersebut hanya akan hidup apabila terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Nasionalisme tidak cukup diwujudkan melalui upacara atau slogan. Namun juga diwujudkan melalui kejujuran dalam bekerja, kepedulian terhadap sesama, penghormatan terhadap hukum, serta kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Pramoedya melalui Anak Semua Bangsa, sesungguhnya sedang mengingatkan bahwa menjadi bangsa adalah proses yang tidak pernah selesai. Kemerdekaan politik hanyalah langkah awal. Setelah itu, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan berpikir, memperkuat pendidikan, membangun ekonomi yang berkeadilan, serta memastikan bahwa kemajuan bangsa dinikmati oleh seluruh rakyat.
Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari tantangan, melainkan bangsa yang mampu menjawab tantangan tersebut dengan persatuan, kecerdasan, dan integritas. Oleh karena itu, pertanyaan "Masihkah kita menjadi Anak Semua Bangsa?" sejatinya merupakan ajakan untuk melakukan refleksi bersama. Apakah kita masih menempatkan kepentingan bangsa sebagai orientasi utama dalam setiap kebijakan, pendidikan, dan pembangunan? Ataukah kita mulai larut dalam arus global hingga kehilangan kesadaran tentang siapa diri kita sebagai bangsa Indonesia?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan arah perjalanan Indonesia pada masa depan. Sebab, sebagaimana diingatkan Pramoedya, bangsa yang kehilangan kesadaran terhadap jati dirinya akan mudah dipengaruhi oleh kepentingan pihak lain. Sebaliknya, bangsa yang mengenal dirinya sendiri akan mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain, bukan sebagai pengikut, melainkan sebagai mitra yang bermartabat.
*Penulis: Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema