JATIMTIMES - Islam mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam memperlakukan alam. Manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi, sehingga keberadaan lingkungan bukan sekadar tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga titipan yang harus dirawat dan dijaga keberlangsungannya.
Persoalan lingkungan saat ini semakin mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kebakaran hutan, kekeringan, pencemaran udara, kerusakan ekosistem hingga berbagai bencana alam menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam tidak boleh diabaikan.
Baca Juga : Bertemu Fadli Zon, Bupati Rijanto Dorong Penguatan Cagar Budaya dan Pariwisata Blitar
Dalam kondisi seperti ini, kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari tanggung jawab sosial yang perlu mendapat perhatian umat Islam.
Khutbah Jumat kali ini mengajak jemaah melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang Islam. Menjaga kebersihan, menghindari tindakan yang merusak alam, menggunakan sumber daya secara bijak, serta ikut menjaga kelestarian lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab yang dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa memperbanyak rasa syukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Terlebih pada kesempatan Jumat yang penuh keberkahan ini, kita masih diberi kesehatan, kesempatan, dan kekuatan untuk berkumpul di rumah Allah dalam rangka menunaikan kewajiban salat Jumat.
Pada saat yang sama, marilah kita memperkokoh ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa hendaknya tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan dalam seluruh perilaku kehidupan. Kita menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta berusaha menjadi manusia yang membawa kemaslahatan bagi sesama dan lingkungan tempat kita hidup.
Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,
Belakangan ini kita kembali dihadapkan pada berbagai kabar tentang bencana alam dan kerusakan lingkungan. Di Nusa Tenggara Timur, gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) telah menimbulkan duka yang mendalam. Berdasarkan data BNPB hingga Kamis (20/8/2026), tercatat 75 orang meninggal dunia, 907 orang mengalami luka-luka, sementara jumlah warga yang mengungsi mencapai 92.735 orang.
Gempa tersebut juga masih diikuti aktivitas gempa susulan. Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah terdampak harus tetap waspada dan berhati-hati, terutama ketika hendak kembali memasuki bangunan yang mungkin mengalami kerusakan.
Di tempat lain, ancaman bencana juga datang dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8/2026), BNPB mencatat terdapat 1.487 titik panas atau hotspot yang tersebar di wilayah Kalimantan.
Jumlah tersebut tersebar di sejumlah provinsi. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 767 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik. Sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing tercatat 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara tiga titik.
Kondisi ini menjadi pengingat bagi kita bahwa persoalan lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia. Kerusakan hutan, kebakaran lahan, pencemaran air, kekeringan, hingga perubahan iklim pada akhirnya akan kembali berdampak kepada manusia sendiri.
Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam ajaran Islam, manusia tidak ditempatkan sebagai pihak yang bebas memperlakukan alam sesuka hati. Manusia diberi amanah untuk memelihara bumi beserta seluruh makhluk yang hidup di dalamnya.
Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan juga merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. Bentuknya dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti mengurangi produksi sampah, menanam dan merawat pohon, menghemat serta menjaga sumber air, hingga mendukung berbagai kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan.
Bagi seorang Muslim, merawat lingkungan juga dapat menjadi bagian dari ibadah. Ketika alam dijaga, kita tidak hanya mendapatkan manfaat bagi kehidupan saat ini, tetapi juga ikut melindungi hak generasi yang akan datang.
Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-A’raf:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat ini memberikan pesan yang sangat jelas bahwa manusia tidak diperkenankan membuat kerusakan setelah Allah menciptakan bumi dalam keadaan yang baik. Sebaliknya, manusia diperintahkan untuk menjaga kebaikan tersebut.
Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,
Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah jilid V, halaman 123, menjelaskan bahwa larangan membuat kerusakan di bumi mencakup berbagai tindakan yang mengganggu keseimbangan alam. Di antaranya pencemaran lingkungan, penebangan hutan secara liar, hingga peperangan.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia menerima sebuah amanah yang besar. Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 72:
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا٧٢
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia sangat zalim lagi sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72).
Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Imam al-Baghawi dalam Tafsir Ma'alimut Tanzil, jilid VI, halaman 380, menjelaskan bahwa amanah yang disebutkan dalam ayat tersebut mencakup berbagai tanggung jawab manusia, baik tanggung jawab kepada Allah maupun kepada sesama makhluk. Dalam pengertian ini, menjaga alam dan lingkungan juga menjadi bagian dari amanah yang harus dijalankan manusia.
Langit, bumi, dan gunung-gunung digambarkan enggan menerima amanah tersebut karena menyadari beratnya tanggung jawab yang harus dipikul.
Baca Juga : 6 Ciri-ciri Orang yang Pandai Berbohong Menurut Psikologi, Bisa Terlihat dari Sikapnya?
Sementara manusia menerima amanah itu, meskipun memiliki konsekuensi yang berat. Hal ini berkaitan dengan manusia yang diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan sekaligus harus mempertanggungjawabkan pilihan tersebut.
Senada dengan itu, Syekh Ali Jum'ah dalam kitab al-Bi'ah wal Hifazh 'alaiha, halaman 23, menjelaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah sekaligus tanggung jawab spiritual.
Seorang Muslim diajarkan untuk memperlakukan seluruh ciptaan Allah dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan berbagai makhluk lainnya adalah bagian dari ciptaan Allah yang harus dihormati.
Karena itu, seorang Muslim tidak semestinya merusak alam, menyia-nyiakan sumber daya, ataupun bersikap tidak peduli terhadap lingkungan yang telah Allah amanahkan kepada manusia.
Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah saw. juga telah memberikan teladan bagaimana seharusnya seorang Muslim memperlakukan sumber daya alam secara bijaksana. Salah satunya terlihat dari larangan menggunakan air secara berlebihan.
Rasulullah saw. bersabda:
لَا تُسْرِفْ فِي الْمَاءِ وَلَوْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ
Artinya: “Janganlah berlebih-lebihan dalam menggunakan air, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini mengajarkan bahwa menggunakan air secukupnya bukan sekadar persoalan menghemat sesuatu yang kita miliki. Lebih dari itu, sikap tidak berlebihan merupakan bagian dari akhlak dan tanggung jawab seorang Muslim terhadap alam.
Bayangkan, jika dalam keadaan air melimpah saja Rasulullah saw. mengajarkan agar kita tidak berlebihan, tentu pesan tersebut semakin penting untuk kita renungkan ketika dunia menghadapi ancaman kekeringan dan krisis air.
Dengan demikian, menghemat air merupakan salah satu bentuk sederhana yang dapat dilakukan setiap Muslim untuk ikut menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi.
Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt.,
Islam mengajarkan bahwa seluruh alam merupakan amanah dari Allah. Karena itu, manusia memang diperbolehkan memanfaatkan apa yang tersedia di bumi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi pemanfaatan tersebut harus dilakukan secara bertanggung jawab.
Kita tidak boleh hanya mengambil manfaat dari alam, sementara pada saat yang sama membiarkannya rusak. Tidak cukup bagi kita menikmati hasil bumi, menggunakan air, memanfaatkan hutan, dan menghirup udara, tetapi lupa bahwa semua itu juga memiliki hak untuk dijaga kelestariannya.
Pesan tersebut terasa semakin penting ketika kita melihat krisis lingkungan yang terjadi di berbagai tempat, khususnya di Indonesia. Kerusakan hutan, kekeringan, bencana alam, serta perubahan iklim merupakan persoalan yang dampaknya dirasakan manusia secara langsung.
Karena itu, amanah Allah terhadap bumi harus melahirkan kesadaran ekologis dalam kehidupan kita. Kesadaran tersebut perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab spiritual sebagai seorang Muslim.
Mari kita mulai dari diri sendiri. Kurangi sampah yang tidak perlu, gunakan air dengan bijak, rawat pohon dan lingkungan sekitar, serta jangan membuang sesuatu sembarangan. Hal-hal yang tampak kecil tersebut, jika dilakukan bersama-sama dan terus-menerus, dapat memberikan manfaat yang besar.
Jangan sampai kita mewariskan bumi yang rusak kepada anak cucu kita. Sebab, menjaga lingkungan hari ini bukan hanya bentuk kepedulian terhadap diri sendiri, tetapi juga bentuk tanggung jawab kepada generasi yang akan datang.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menjaga amanah-Nya, tidak membuat kerusakan di muka bumi, serta senantiasa berusaha menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh makhluk.
Semoga kepedulian kita terhadap lingkungan menjadi amal saleh yang bernilai di sisi Allah Swt. dan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga kehidupan di bumi agar tetap lestari bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ
وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ