JATIMTIMES - Selasa memiliki tempat tersendiri dalam sejumlah catatan sejarah dan khazanah Islam. Sejumlah peristiwa penting dikisahkan berlangsung pada hari ini, mulai dari wafatnya para nabi hingga berpulangnya Siti Khadijah, perempuan yang menjadi salah satu sosok paling penting dalam fase awal dakwah Rasulullah SAW.
Pandangan mengenai Selasa pernah disampaikan almarhum KH Maimoen Zubair. Menurut putranya, Taj Yasin Maimoen, Mbah Moen melihat Selasa dan Rabu sebagai bagian dari tahapan penyempurnaan kehidupan dunia melalui ilmu.
Baca Juga : Rayakan Kemerdekaan, Warga Parang Magetan Gelar Drama Kolosal Abdi Kinasih
"Seperti yang didawuhkan beliau, pembangunan dunia ada dua tahapan dengan yang pertama pada hari Ahad sama Senin. Tahap kedua adalah penyempurnaan saat bumi disempurnakan dengan ilmu. Maka dimulailah ilmu itu hari Selasa dan Rabu," ujar Taj Yasin Maimoen.
Kisah tersebut terasa semakin menarik karena KH Maimoen Zubair sendiri wafat pada Selasa, 6 Agustus 2019, ketika sedang menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Ia kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman Al Ma'la, Mekah, Arab Saudi.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengingatkan manusia bahwa perjalanan waktu merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Allah berfirman dalam Surat Al-Furqan ayat 62:
"Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur."
Ayat tersebut menunjukkan bahwa pergantian waktu semestinya tidak hanya dipandang sebagai perubahan hari, tetapi juga menjadi kesempatan bagi manusia untuk mengambil pelajaran.
Dalam sejumlah literatur sejarah Islam, Selasa dikaitkan dengan kisah Nabi Jirji. Sosok yang dalam beberapa riwayat disebut Jirjis-I-Baqia ini dikisahkan berasal dari Byzantium dan pernah tinggal di Palestina.
Nabi Jirji disebut menghadapi penyiksaan dan kematian karena mempertahankan dakwah tauhid. Dalam kisah yang berkembang, ia bahkan disebut kembali hidup atas izin Allah SWT setelah mengalami penyiksaan dan pembunuhan, sebelum kembali kepada kaumnya untuk meneruskan dakwah.
Namun, perjuangannya tidak serta-merta membuat penguasa dan masyarakat menerima ajaran tersebut. Raja Kooraazaanaa dan para pengikutnya tetap menolak dakwah Nabi Jirji. Ia kemudian diperintahkan untuk meninggalkan wilayah kekuasaan kerajaan dan akhirnya menghadapi kematian.
Jejak kisah Nabi Jirji juga pernah dikenang melalui sebuah kompleks masjid dan makam bersejarah di Mosul, Irak. Bangunan yang dikaitkan dengan penghormatan terhadap Nabi Jirji tersebut kemudian dihancurkan ISIS pada Juni 2014.
Nama Nabi Yahya AS juga muncul dalam catatan sejarah yang mengaitkannya dengan hari Selasa. Putra Nabi Zakariya AS ini dikenal sebagai nabi yang berani menyampaikan kebenaran meski berhadapan dengan kekuasaan.
Dalam kisah yang berkembang, Nabi Yahya AS menentang rencana pernikahan penguasa Palestina dengan seorang perempuan yang memiliki hubungan keluarga dekat dengannya. Penolakan tersebut membuat sang penguasa murka hingga akhirnya memerintahkan pembunuhan Nabi Yahya AS.
Kisah Nabi Yahya AS sekaligus memperlihatkan keteguhan seorang nabi dalam menyampaikan kebenaran. Al-Qur'an menggambarkan karakter Nabi Yahya AS sebagai sosok yang mendapatkan hikmah sejak usia dini.
Allah SWT berfirman dalam Surat Maryam ayat 12:
Baca Juga : Doa Khatam Al-Qur'an: Lengkap Arab, Latin dan Artinya, Ini Hukum Membacanya
"Ya Yahya, ambillah Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak."
Sementara itu, Nabi Zakariya AS, ayah Nabi Yahya AS, juga mengalami akhir kehidupan yang penuh ujian. Dalam riwayat yang berkembang, Nabi Zakariya AS berusaha menyelamatkan diri dari orang-orang yang hendak membunuhnya.
Ia kemudian dikisahkan bersembunyi di dalam batang sebuah tanaman dengan pertolongan Allah SWT. Namun persembunyiannya diketahui setelah informasi tersebut sampai kepada pihak yang mengejarnya. Nabi Zakariya AS akhirnya dibunuh bersama tanaman yang menjadi tempat persembunyiannya.
Al-Qur'an sendiri mengabadikan perjuangan Nabi Zakariya AS sebagai seorang hamba yang senantiasa berdoa kepada Allah. Dalam Surat Maryam ayat 4, ia berkata:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku."
Selain kisah para nabi, sejarah Islam juga mengenang wafatnya Siti Khadijah sebagai salah satu kehilangan terbesar bagi Rasulullah SAW.
Siti Khadijah merupakan istri pertama Nabi Muhammad SAW dan termasuk orang pertama yang menyatakan keimanannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ia tidak hanya menjadi pendamping Rasulullah SAW, tetapi juga memberikan dukungan besar ketika dakwah Islam masih menghadapi tekanan berat di Mekah.
Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, Khadijah dikenal sebagai perempuan terpandang, cerdas, dan berhasil dalam dunia perdagangan. Ia juga dikenal dengan gelar At-Tahira yang berarti perempuan suci.
Siti Khadijah wafat pada 619 M dalam usia sekitar 64 atau 65 tahun. Kepergiannya terjadi tidak lama setelah wafatnya Abu Thalib, paman Rasulullah SAW. Dua kehilangan tersebut menjadi pukulan berat bagi Rasulullah SAW sehingga periode itu kemudian dikenang sebagai salah satu masa penuh duka dalam perjalanan dakwah beliau.