JATIMTIMES - Salat istikharah menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan ketika seorang Muslim dihadapkan pada pilihan penting dalam kehidupannya. Baik terkait pendidikan, pekerjaan, pernikahan, maupun urusan lainnya, istikharah dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk menuju pilihan yang terbaik.
Di tengah masyarakat, masih berkembang anggapan bahwa jawaban dari shalat istikharah harus hadir melalui mimpi. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa petunjuk Allah tidak selalu datang dalam bentuk tersebut. Sering kali, jawaban justru hadir melalui kemantapan hati, kemudahan dalam mengambil keputusan, atau terbukanya jalan menuju pilihan yang lebih baik setelah seseorang berdoa dan berserah diri kepada Allah.
Setelah melaksanakan salat istikharah, seorang Muslim dianjurkan tetap berikhtiar dengan mempertimbangkan berbagai aspek dari pilihan yang dihadapinya. Ia dapat meminta nasihat kepada orang-orang yang dipercaya dan memiliki pengetahuan lebih baik, kemudian mengambil keputusan dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan hasil terbaik bagi dirinya.
Petunjuk dari Allah juga dapat dirasakan melalui ketenangan batin. Hubungan seorang hamba dengan Tuhannya tidak hanya melibatkan akal, tetapi juga hati dan jiwa. Karena itu, kepekaan spiritual menjadi bagian penting dalam memahami arah yang diberikan Allah. Dalam beberapa keadaan, petunjuk memang dapat hadir melalui mimpi, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya bentuk jawaban dari istikharah.
Pandangan ini juga dijelaskan oleh para ulama. Dalam kitab Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan bahwa inti istikharah adalah memohon pilihan terbaik kepada Allah, lalu menjalani keputusan yang diambil dengan penuh keyakinan dan tawakal. Sementara itu, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa tanda kebaikan setelah istikharah dapat terlihat dari kemudahan suatu urusan, kelapangan hati, atau terbukanya jalan menuju pilihan tertentu. Karena itu, mimpi tidak menjadi syarat mutlak untuk mengetahui jawaban dari shalat istikharah.
Meski demikian, para ulama juga mengakui bahwa mimpi dapat menjadi salah satu sarana datangnya ilham dari Allah. Dalam sejarah kenabian, sebagian wahyu memang disampaikan melalui mimpi para nabi. Namun, umat Islam tidak dianjurkan menjadikan mimpi sebagai satu-satunya dasar dalam menentukan keputusan hidup.
Saat seseorang tidur, kesadaran dirinya berada di luar kendali. Pada kondisi tersebut, Allah memiliki kuasa penuh atas keadaan hamba-Nya. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan menjaga kebersihan hati, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah agar lebih mudah memahami petunjuk yang diberikan-Nya.
Semakin dekat hubungan seorang hamba dengan Allah, semakin mudah pula ia mengenali tanda-tanda kebaikan yang datang dalam hidupnya. Sikap husnuzan atau berprasangka baik kepada ketentuan Allah menjadi kunci penting dalam menjalani proses istikharah dan menerima hasilnya.
Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya istikharah dalam setiap urusan kehidupan. Dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW mengajarkan kami shalat istikharah dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan satu surah dari Al-Qur'an" (HR Bukhari). Hadis tersebut menunjukkan bahwa istikharah bukan hanya diperuntukkan bagi perkara besar seperti pernikahan atau pekerjaan, tetapi juga berbagai keputusan penting yang membutuhkan petunjuk Allah SWT.
Baca Juga : Pantau Pengambilan PIN di Malang, Komisi E DPRD Jatim: SPMB 2026 On The Track
Dalam hadis yang sama, Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang Muslim melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, kemudian memanjatkan doa istikharah. Melalui doa tersebut, seorang hamba memohon agar Allah memilihkan perkara yang terbaik, memudahkan jalannya apabila membawa kebaikan, serta menjauhkannya apabila mengandung keburukan bagi agama maupun kehidupannya.
Pada akhirnya, tujuan utama istikharah bukanlah mencari tanda-tanda luar biasa, melainkan menumbuhkan keyakinan bahwa Allah akan membimbing hamba-Nya menuju pilihan terbaik. Setelah berdoa, berusaha, dan mempertimbangkan berbagai aspek, seorang Muslim dituntut untuk bertawakal serta menerima keputusan Allah dengan lapang dada.
Allah SWT berfirman, "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk" (QS Al-Baqarah: 186).
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mendengar setiap doa yang dipanjatkan. Karena itu, jawaban istikharah tidak harus dicari melalui mimpi semata. Petunjuk dapat hadir dalam bentuk ketenangan hati, kemudahan jalan yang terbuka, nasihat yang menguatkan, maupun keyakinan untuk menerima ketentuan terbaik yang telah Allah tetapkan.