JATIMTIMES - Ketepatan arah kiblat merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan salat. Seiring berkembangnya teknologi, penentuan arah Kakbah kini dapat dilakukan melalui berbagai perangkat digital.
Namun, jauh sebelum era satelit dan sistem navigasi modern, ilmuwan Muslim telah mengembangkan metode astronomi yang memiliki tingkat akurasi sangat tinggi. Metode tersebut dikenal sebagai Rashdul Kiblat.
Baca Juga : 5 Film Bioskop Terbaru yang Tayang Akhir Pekan Ini: Ada Horor, Komedi hingga Drama Menyentuh
Prinsip Rashdul Kiblat memanfaatkan fenomena ketika Matahari tepat berada di atas Kakbah. Pada saat itulah, bayangan benda yang berdiri tegak di wilayah yang masih menerima sinar Matahari dapat dijadikan penunjuk arah kiblat. Hingga kini, metode tersebut tetap dimanfaatkan para ahli falak untuk memverifikasi arah kiblat masjid maupun musala karena memiliki tingkat ketelitian yang tinggi.
Pentingnya menghadap kiblat sendiri telah ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 144, Allah berfirman: "Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu." (QS. Al-Baqarah: 144).
Ayat tersebut menjadi dasar syariat bahwa umat Islam diperintahkan menghadap Masjidil Haram saat menunaikan salat. Karena itu, berbagai upaya ilmiah untuk memastikan arah kiblat, termasuk melalui Rashdul Kiblat, menjadi bagian dari ikhtiar menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat.
Sejarah metode ini tidak dapat dipisahkan dari sosok Abu Rayhan Al-Biruni, ilmuwan Muslim yang hidup pada abad ke-10 hingga ke-11 Masehi. Tokoh yang dikenal sebagai ahli astronomi, matematika, geografi, dan fisika itu menjadi salah satu pelopor pengembangan ilmu falak dalam peradaban Islam.
Sekitar tahun 1000 Masehi, Al-Biruni melakukan pengamatan dan perhitungan astronomis mengenai hubungan posisi Matahari dengan Kakbah. Dari kajian tersebut, ia menjelaskan bahwa ketika Matahari berada tepat di zenit Kakbah, arah bayangan benda tegak di berbagai wilayah yang masih mendapatkan penyinaran Matahari akan mengarah berlawanan dengan kiblat. Prinsip ilmiah itulah yang kemudian menjadi dasar lahirnya metode Rashdul Kiblat.
Temuan Al-Biruni kemudian terus dikembangkan oleh ilmuwan Muslim generasi berikutnya, di antaranya Al-Khazin dan Nasir al-Din al-Tusi. Melalui penyempurnaan perhitungan astronomi dan matematika, metode penentuan arah kiblat menjadi semakin presisi dan dapat diterapkan di berbagai belahan dunia.
Guru besar astronomi sekaligus peneliti astronomi dan astrofisika BRIN Prof Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa Rashdul Kiblat merupakan salah satu metode paling akurat untuk mengecek kembali arah kiblat karena menggunakan fenomena astronomi yang dapat diamati secara langsung.
Baca Juga : Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Safar 2026, Catat Tanggal Versi NU, Muhammadiyah, dan Pemerintah
"Ketika Matahari berada tepat di atas Kakbah, arah bayangan benda tegak akan menunjukkan arah kiblat secara sangat akurat. Momen ini menjadi kesempatan terbaik untuk melakukan verifikasi arah kiblat rumah maupun masjid," ujarnya dalam berbagai kesempatan edukasi mengenai ilmu falak.
Dalam praktiknya, masyarakat hanya perlu menegakkan sebuah benda lurus pada saat fenomena Rashdul Kiblat berlangsung. Arah kiblat dapat diketahui dari posisi bayangan yang terbentuk sesuai dengan kaidah astronomi. Cara ini relatif sederhana, tetapi memiliki tingkat ketelitian yang sangat tinggi apabila dilakukan pada waktu yang tepat.
Selain Rashdul Kiblat, verifikasi arah kiblat juga dapat dilakukan menggunakan kompas yang telah dikalibrasi terhadap deklinasi magnet Bumi maupun perangkat theodolite yang lazim digunakan dalam survei dan pemetaan. Meski demikian, banyak ahli falak tetap memanfaatkan fenomena Matahari di atas Kakbah sebagai acuan utama karena tidak dipengaruhi gangguan medan magnet maupun kesalahan kalibrasi alat.
Warisan keilmuan Al-Biruni membuktikan bahwa peradaban Islam telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan astronomi dunia. Rashdul Kiblat bukan sekadar metode penentuan arah salat, melainkan juga cerminan bagaimana ilmu pengetahuan, observasi, dan nilai-nilai keagamaan berpadu menghasilkan solusi yang tetap relevan hingga saat ini.