JATIMTIMES - Perubahan kurikulum pendidikan tinggi kembali menjadi bahan diskusi hangat sejak lahirnya Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023. Regulasi tersebut menekankan pentingnya mutu pendidikan berkelanjutan, termasuk pada bidang pendidikan matematika.
Sebagai bentuk respon, Indonesian Mathematics Educators Society (I-MES) menggelar Sarasehan Program Studi Pendidikan Matematika Indonesia belum lama ini di Oakwood Hotel & Apartments, TMII Jakarta Timur. Forum ini mempertemukan para ketua dan dosen program studi pendidikan matematika dari berbagai kampus, salah satunya Universitas Islam Malang (Unisma).
Baca Juga : RPJMD Dapat Evaluasi Kemenpan-RB, Pemkot Malang Lakukan Penyesuaian
Unisma mengirimkan perwakilannya, yakni Isbadar Nursit, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Prodi S1 Pendidikan Matematika, bersama Dr. Surya Sari Faradiba, S.Si., M.Pd., Ketua Prodi S2 Pendidikan Matematika. Kehadiran keduanya menjadi langkah strategis kampus dalam memperkuat arah pengembangan kurikulum.

Dalam sesi pemaparan, dua pakar nasional, Dr. Muhammad Irfan, M.Pd. dan Dr. Cecep Anwar Hadi Firdos Santosa, menekankan pentingnya Outcome-Based Education (OBE). Menurut mereka, kurikulum tak boleh lagi bersifat kaku, melainkan harus lentur, relevan, serta adaptif terhadap kebutuhan zaman dan dunia kerja.
Isbadar Nursit menilai forum ini menjadi kesempatan berharga bagi Unisma. “Kurikulum tidak boleh hanya berhenti pada tataran dokumen. Ia harus hidup, bisa diimplementasikan sesuai kebutuhan mahasiswa serta tuntutan dunia kerja. Dari forum ini kami memperoleh banyak masukan untuk memperkuat arah kurikulum di Unisma,” jelasnya.
Selain diskusi akademik, sarasehan juga menghasilkan kesepakatan bersama melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antarprogram studi pendidikan matematika. MoU tersebut membuka jalan untuk kerja sama riset, pertukaran dosen, hingga pengembangan modul pembelajaran berskala nasional.
Ketua Umum I-MES, Prof. Dr. Sri Adi Widodo, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya memperkuat sinergi antarprodi. “Tidak ada kampus yang bisa berjalan sendirian. Kolaborasi menjadi kunci agar pendidikan matematika di Indonesia semakin maju. Dengan berbagi sumber daya, saling melengkapi, dan bekerja bersama, kita dapat melahirkan kurikulum yang lebih relevan dan kontekstual,” ujarnya.
Baca Juga : Kalender September 2025: Siap-Siap Ada Long Weekend
Ia menambahkan, I-MES siap berperan sebagai jembatan yang mempererat jejaring nasional. “Prinsipnya adalah maju bersama. Dengan jejaring yang solid, kita bisa mencetak lulusan yang kompeten, inovatif, dan siap bersaing di era global,” tambah Prof. Sri Adi.
Melalui forum ini, pendidikan matematika di Indonesia menunjukkan kesiapannya untuk beradaptasi. Kolaborasi antara asosiasi, perguruan tinggi, dan para pendidik diyakini mampu melahirkan kurikulum yang modern, relevan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.