JATIMTIMES – Upaya menjadikan Kabupaten Blitar sebagai salah satu sentra tembakau unggulan di Indonesia terus digulirkan dengan serius. Setelah melepas lima varietas tembakau lokal pada 2021, Kementerian Pertanian melalui Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Pemanis dan Serat melangkah ke fase krusial: pengujian dosis pupuk yang tepat. Program ini dimulai pada 2025 dan direncanakan berjalan selama tiga tahun ke depan.
Agung Pangestu Aji, staf teknis balai tersebut, menyampaikan bahwa pengujian pupuk ini merupakan bagian dari tahapan panjang pembangunan sistem perbenihan dan budidaya tembakau lokal khas Blitar. “Setelah varietas kita lepas, dan benih kita sediakan, kita butuh rekomendasi budidaya. SOP-nya harus dibangun dari riset lapangan,” ujarnya saat ditemui Senin, 26 Mei 2025.
Baca Juga : Pimpinan Lapas Malang Ganti, Komitmen Bebas Narkoba dan Handphone Ilegal
Lima varietas lokal Blitar yang telah dilepas secara resmi adalah Kalituri, Mancung, Lulang, Sedep, dan Kenongo. Masing-masing memiliki karakteristik khas yang dinilai potensial untuk dikembangkan secara lebih luas. Sejak 2022, pihak kementerian memastikan ketersediaan benih dasar. Lalu, pada 2023 dan 2024 dilakukan produksi benih sebar yang disiapkan untuk luasan 10 ribu hektare lahan.
Rancangannya, selama lima tahun ke depan, benih unggul itu akan dibagikan secara gratis kepada para petani tembakau di Blitar. “Kami ingin mendampingi dari hulu ke hilir. Tidak hanya lepas varietas, tapi juga pastikan petani paham cara tanamnya yang efektif,” ujar Agung.
Tahun ini, pengujian pupuk difokuskan pada dua varietas, yaitu Kenongo dan Lulang. Lahan uji seluas satu hektare dijadikan lokasi untuk mencoba berbagai dosis dan kombinasi pupuk organik dan kimia. Dari proses ini, akan dihasilkan analisis yang mencakup grade, harga jual, dan hasil produksi.
Nantinya, hasil tersebut akan menjadi acuan penyusunan SOP budidaya tembakau khas Blitar. “Ketika PPL ditanya petani soal pupuk varietas Kenongo, mereka tak lagi menjawab berdasarkan perkiraan. Ada referensi berbasis data uji lapang,” kata Agung.
SOP ini juga akan menjadi dasar dalam penyusunan bantuan pertanian dan anggaran program di tingkat dinas. Sebuah pendekatan ilmiah yang menegaskan bahwa pertanian masa kini tak bisa lepas dari data dan validasi riset.
Pengujian pupuk akan berlanjut hingga 2027 dan mencakup kelima varietas lokal yang sudah dilepas. Agung memastikan bahwa program ini bukan proyek satu kali jalan, melainkan upaya berkelanjutan untuk memperkuat kemandirian benih dan teknologi budidaya tembakau Blitar.
Tak hanya itu, pengujian tersebut didukung fasilitas laboratorium lengkap milik balai yang berada di Jalan Raya Karangploso, Kabupaten Malang. Total ada delapan laboratorium yang digunakan untuk mendukung program ini, mulai dari laboratorium benih, uji mutu benih, hingga laboratorium kimia tanaman.
Laboratorium tersebut sudah terakreditasi ISO 17025, yang berarti hasil pengujiannya diakui secara internasional. Bahkan, tersedia laboratorium molekuler untuk uji DNA guna melihat kekerabatan antarvarietas, serta laboratorium khusus untuk mengukur kadar nikotin dan gula dalam tembakau. “Untuk tebu, kami juga bisa ukur kadar gulanya,” tambah Agung.
Dalam konteks pembangunan daerah, langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan komoditas lokal tak cukup hanya pada aspek produksi. Butuh intervensi ilmu pengetahuan, strategi jangka panjang, dan kemitraan antara pusat dan daerah.
Kementerian Pertanian melalui proyek ini sedang menyiapkan fondasi pertanian tembakau yang lebih berdaulat. Kabupaten Blitar, yang selama ini dikenal lewat sejarah dan pertanian, kini tengah bersiap menapaki babak baru sebagai lumbung tembakau nasional berbasis riset.