free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Serba Serbi

Pakubuwono X dan Gapura Gading: Mengungkap Sejarah dan Simbolisme Gerbang Selatan Keraton Surakarta

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : A Yahya

25 - Jul - 2024, 09:59

Loading Placeholder
Lukisan Pakubuwono X di Keraton Surakarta (kiri) dan Pakubuwono X saat meresmikan Gapura Gading (kanan). (Foto kiri: Aunur Rofiq/JatimTIMES, foto kanan: KITLV)

JATIMTIMES - Kota Surakarta, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Solo, bukan hanya pusat budaya Jawa, tetapi juga tempat bersemayamnya sejarah panjang dan kaya. Salah satu simbol yang mencolok dari warisan budaya ini adalah Gapura Gading, gerbang yang terletak di bagian selatan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

 Gapura ini bukan sekadar bangunan biasa; ia menyimpan makna mendalam dalam filosofi Jawa, khususnya terkait dengan perjalanan hidup dan akhir hayat seorang raja. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi sejarah, simbolisme, dan peran penting Gapura Gading dalam budaya dan sejarah Surakarta, khususnya di masa pemerintahan Pakubuwono X.

Sejarah dan Simbolisme Gapura Gading

Baca Juga : Sambut Program Makan Bergizi Gratis, Bupati Sanusi Siapkan Petani, Peternak dan Nelayan Jadi Supplier

Gapura Gading, seperti namanya, mengambil inspirasi dari kata "Gading" yang dalam bahasa Jawa berarti "selatan." Ini bukan hanya kebetulan; gerbang ini melambangkan arah selatan dalam filosofi Jawa, yang sering dikaitkan dengan akhir hidup dan kembalinya manusia kepada Sang Maha Pencipta. Dalam tradisi kerajaan Jawa, gerbang selatan kraton merupakan jalur yang digunakan untuk mengantarkan jenazah raja yang telah wafat menuju tempat peristirahatan terakhir di Imogiri, Mataram. Prosesi ini dikenal sebagai "ratapralaya," dan Gapura Gading menjadi saksi bisu dari tradisi ini, yang menggambarkan akhir perjalanan hidup seorang raja.

Di Kasunanan Surakarta, tradisi ini tetap dijaga dengan ketat. Menurut kepercayaan setempat, seorang raja yang masih hidup, termasuk Pakubuwono X, tidak diperbolehkan melewati gerbang ini. Hanya ketika seorang raja telah wafat, ia akan diangkut melewati Gapura Gading dengan menggunakan keretalaya, kereta jenazah khas kerajaan Jawa, menuju Imogiri. Namun, ada satu pengecualian menarik yang terjadi pada masa pemerintahan Pakubuwono X.

Pakubuwono X dan Pemugaran Gapura Gading

Pakubuwono X, yang memerintah dari tahun 1893 hingga 1939, dikenal sebagai salah satu raja terbesar dalam sejarah Kasunanan Surakarta. Ia tidak hanya dikenal karena kecerdasannya dalam ilmu pemerintahan dan politik, tetapi juga karena usahanya yang gigih dalam memodernisasi Surakarta. Pada tahun 1938, Pakubuwono X melakukan langkah yang mengejutkan dengan meresmikan pemugaran Gapura Gading. Pemugaran ini merupakan bagian dari proyek yang lebih besar, yang dikenal sebagai "Margi Tri Gapuraning Ratu," yang mencakup tiga gerbang utama: Gapura Batangan, Gapura Gading (Gapuranendra), dan Gapura Klewer.

Ketiga gapura ini memiliki bentuk yang menyerupai plengkung dengan simbol Karaton Surakarta (radyalaksana) di bagian tertinggi dari gapura. Tindakan Pakubuwono X ini menunjukkan sikap progresif dan keterbukaannya terhadap perubahan, sambil tetap menghormati tradisi dan simbolisme yang ada. Hal ini berbeda dengan di Yogyakarta, di mana sultan yang masih hidup dianggap tabu untuk berada di sekitar Plengkung Gading, gerbang selatan kraton Yogyakarta yang memiliki fungsi dan makna serupa dengan Gapura Gading di Surakarta.

Pakubuwono X: Raja Modern Surakarta

Pakubuwono X lahir pada 29 November 1866 dengan nama Raden Mas Sayidin Malikul Kusno, putra dari Pakubuwono IX dan KRAy Kustiyah. Sejak usia muda, ia sudah ditunjuk sebagai putra mahkota dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram. Setelah ayahnya wafat pada tahun 1893, ia diangkat menjadi Susuhunan Surakarta. Di bawah kepemimpinannya yang berlangsung selama 46 tahun, Surakarta mengalami masa keemasan dalam berbagai bidang, mulai dari sosial, ekonomi, hingga budaya.

Pakubuwono X adalah sosok yang kaya akan kearifan dan kecerdasan. Ia dikenal sebagai seorang raja yang murah hati dan progresif. Salah satu kontribusinya yang paling menonjol adalah dalam bidang pendidikan. Ia mendirikan Sekolah Mambaul Ulum pada tahun 1914, yang berfokus pada pendidikan agama dan berhasil mengirimkan lulusannya ke universitas ternama di luar negeri, termasuk Universitas Al Azhar di Kairo. Langkah ini menunjukkan komitmen Pakubuwono X dalam memajukan pendidikan dan memberikan akses pengetahuan yang luas bagi rakyatnya.

Selain di bidang pendidikan, Pakubuwono X juga dikenal karena dukungannya terhadap Sarekat Islam, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak pribumi dan kemerdekaan Indonesia. Ia memberikan berbagai fasilitas keraton untuk mendukung kegiatan organisasi ini, menunjukkan bahwa ia tidak hanya peduli pada kemajuan budaya dan pendidikan, tetapi juga pada pergerakan nasional yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan.

Gapura Gading dalam Konteks Sejarah dan Budaya

Baca Juga : Mengenal Bahaya Hipersomnia, Ternyata Bisa Menjadi Tanda Penyakit Serius

Gapura Gading di Surakarta dan Plengkung Gading di Yogyakarta memiliki kesamaan fungsi sebagai gerbang yang digunakan dalam prosesi pemakaman raja. Namun, keduanya juga memiliki perbedaan dalam hal tradisi dan kebijakan yang diterapkan. Di Yogyakarta, Plengkung Gading lebih dikenal sebagai Plengkung Nirbaya, yang berarti "bebas dari bahaya duniawi." Nama ini menggambarkan fungsi gerbang sebagai jalur untuk jenazah raja yang telah bebas dari urusan duniawi menuju tempat peristirahatan terakhir. Bangunan ini juga merupakan salah satu dari lima plengkung yang menghubungkan benteng dengan kraton di Yogyakarta.

Di Surakarta, Gapura Gading tidak hanya berfungsi sebagai gerbang pemakaman, tetapi juga menjadi simbol kebesaran dan kemegahan kraton. Pada tahun 1938, Pakubuwono X melakukan pemugaran yang meliputi pembangunan ulang struktur asli gapura, menjaga keasliannya sambil menambahkan elemen-elemen modern. Pemugaran ini mencerminkan sikap terbuka Pakubuwono X terhadap perubahan, sambil tetap menghormati tradisi dan simbolisme yang telah ada.

Pentingnya Gapura Gading dalam Filosofi Jawa

Dalam filosofi Jawa, Gapura Gading dan Plengkung Gading bukan hanya gerbang fisik; mereka melambangkan perjalanan hidup manusia dari kelahiran hingga kematian. Gerbang selatan kraton adalah simbol dari akhir perjalanan duniawi dan awal dari perjalanan spiritual. Ini adalah bagian dari filosofi Sangkan Paraning Dumadi, yang berarti "asal muasal dan tujuan akhir dari penciptaan." Filosofi ini mengajarkan bahwa semua yang ada di dunia ini berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

Pakubuwono X, sebagai seorang raja yang bijaksana dan spiritual, memahami makna mendalam dari filosofi ini. Oleh karena itu, ia tidak hanya meresmikan pemugaran Gapura Gading, tetapi juga memastikan bahwa tradisi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dijaga. Ini terlihat dari bagaimana ia mendukung pendidikan agama dan pergerakan nasional, yang semuanya bertujuan untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan lebih beradab.

Warisan Pakubuwono X dan Gapura Gading

Warisan Pakubuwono X tidak hanya terlihat dalam kemajuan fisik dan material yang dicapai oleh Surakarta selama masa pemerintahannya, tetapi juga dalam bagaimana ia menjaga dan mempromosikan nilai-nilai budaya dan spiritual. Gapura Gading, dengan segala simbolisme dan sejarahnya, menjadi saksi dari kebijaksanaan dan visi Pakubuwono X. Ia tidak hanya melihat masa lalu sebagai sesuatu yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai dasar untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Pakubuwono X, melalui tindakannya yang bijaksana, telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah Surakarta. Gapura Gading, sebagai simbol dari warisan budaya dan spiritual ini, akan terus menjadi pengingat akan kebijaksanaan dan visi yang ia miliki. Dengan demikian, kita tidak hanya menghormati sejarah dan tradisi, tetapi juga belajar untuk menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Gapura Gading dan Pakubuwono X adalah bukti nyata dari kekayaan budaya dan spiritual yang dimiliki oleh Surakarta. Melalui artikel ini, kita berharap dapat lebih memahami dan menghargai warisan ini, serta menjaga agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan di masa kini dan masa depan.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---