Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Sisi Kelam Tumbal Penambang Kobalt Demi Energi Go Green Dunia

Penulis : Nabilla Erlika Putri Yessynta - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

28 - Nov - 2023, 21:29

Placeholder
Penambang Kobat Kongo (Foto: cowriermail)

JATIMTIMES –Untuk pencegahan krisis iklim yang semakin buruk, kampanye revolusi energi hijau banyak digencarkan oleh banyak pihak. Terobosan yang diyakini menghasilkan dampak yang sangat signifikan adalah transisi energi bersih, yang salah satunya dengan pembuatan kendaraan listrik. 

Namun sangat disayangkan adanya tren peralihan sumber energi bersih ini juga menimbulkan masalah baru. Dengan maraknya peralihan sumber energi dan bahan bakar, kini kampanye “Go green” telah merajalela menyuarakan listrik sebagai alternatif karena dianggap lebih bersih dan ramah lingkungan. 

Baca Juga : Listrik di Indonesia Masih Gunakan Batu Bara, Bagaimana Negara Lain?

Namun tidak semua peralihan energi ini menimbulkan dampak positif bagi keseluruhan masyarakat. Karena faktanya banyak penduduk Republik Demokratik Kongo yang menjadi tumbal dalam pembuatan kendaraan listrik yang digadang-gadang sebagai upaya penyongkong energi Go Green.

Salah satu bahan yang dapat membuat baterai jadi dapat diisi ulang adalah kobalt, dengan demikian kobalt menjadi elemen utama dalam pembuatan baterai. Jadi tidak mengherankan jika sumber kendaraan listrik penggeraknya berasal dari unsur kobalt. Yang menjadi masalah di sini adalah kebanyakan kobalt ditambang.

Republik Demokratik Kongo adalah negara termiskin yang menjadi produsen kobalt terbesar di dunia, setidaknya 70% hasil kobalt di dunia berasal dari Kongo. 15-30% kobalt Kongo dihasilkan oleh tambang-tambang kecil atau yang biasa disebut dengan tambang artisanal yang dikelola oleh badan usaha warga dan memperkejarkan penduduk setempat.

Jika berbicara mengenai tambang artisanal, tambang ini hanya berupa galian kecil yang diameternya muat untuk beberapa orang saja, bahkan naasnya banyak galian yang hanya dapat dimasuki oleh satu orang karena ukurannya yang sangat kecil dengan kedalamanya mencapai 100m.

Karena tambang artisanal ini tidak dinaungi oleh badan pemerintah, tentunya alat gali yang dipakai sangat sederhana dan manual, mirisnya lagi tidak ada alat-alat keselamatan yang menjamin saat penambangan berlangsung. Karena ruang geraknya yang kecil, supply oksigen pun juga sangat buruk, sehingga banyak pekerja yang pingsan saat menambang.

Selain resiko keselamatan kerja sangat tinggi, ironisnya masyarakat RDK juga harus mengalami ancaman yang lebih panjang. Fakta menemukan bahwa telah banyak wanita hamil yang terpapar logam berat ditubuh mereka akibat seringnya menghirup debu tambang. Hal ini menjadikan banyak kelahiran cacat yang terjadi di Kongo.

Baca Juga : Curah Hujan Tinggi, Aliran Banjir Lahar Semeru Meningkat 

Selain debu tambang yang beracun, limbah penambangan juga berimbas pada aliran air disana. Bahkan ditemui kandungan uranium aktif yang berada di sungai-sungai Kongo yang menyebabkan banyaknya sungai gersang yang tidak berfungsi. Melihat kondisi tersebut, lingkungan dan kesehatan untuk masayarakat yang tinggal dipesisir tambang sangatlah buruk dan tidka layak, mereka harus tinggal di daerah tercemar untuk tetap menambang dan melanjutkan hidup.

Penduduk lokal tetap memilih bekerja sebagai penambang kecil karena hanya pekerjaan tersebut yang dapat mereka lakukan, mereka lebih memilih kerja di tambang mereka sendiri daripada tambang industri yang dikuasai perusahaan asing.

Ketika kami menambang mineral untuk China, mereka mencurangi kami pada kualitas dna beratnya, bagaimana bisa kami orang Kongo mendapatkan untung dengan cara kerja seperti ini,” ujar Deo Masika selaku penduduk sipil sekaligus penambang kobalt Kongo.

Kini energi Go Green yang digadang-gadang dapat menyelematkan lingkungan dan meningkatkan taraf hidup manusia malah mengancam banyak nyawa di salah satu negara dunia. Hal tersebut tentunya harus menjadi poin himbauan pemerintah Kongo atau bahkan pemerintah dunia.


Topik

Peristiwa Energi Terbarukan motor listrik kobalt rakyat kongo kongo



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nabilla Erlika Putri Yessynta

Editor

Sri Kurnia Mahiruni