free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Kisah Pemuda Maksiat yang Dimuliakan Allah, Karena Merayakan Maulid Nabi 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

25 - Sep - 2023, 13:58

Placeholder
Ilustrasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. (Foto: Google)

JATIMTIMES - Dalam hitungan kalender Islam atau Hijriyah, bulan Rabiul Awal jatuh pada bulan ketiga dari total 12 bulan Hijriyah. Berdasarkan kalender Hijriyah Indonesia 2023 yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, 1 Rabiul Awal 1445 jatuh pada Minggu 17 September 2023. 

Bulan ini dimuliakan oleh umat Islam karena bertepatan dengan sejumlah peristiwa penting. Terutama adalah hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, yakni pada 12 Rabiul Awal atau tahun 2023 ini jatuh pada 28 September. 

Baca Juga : Begini Cara Warga Lokal Tangkap Peluang Usaha di Kayutangan Heritage

Dalam kitab I‘anatut Thalibin juz III halaman 365, menurut Syekh Syatho ad Dimyathi diceritakan kisah pemuda yang suka maksiat menjadi wali Allah karena merayakan Maulid Nabi.

Alkisah, diceritakan pada masa Khalifah Harun al-Rasyid, ada seorang pemuda di Basra yang hidup dengan akhlak yang tercela dan suka melalaikan ibadah. Penduduk kota pun memandangnya dengan sebelah mata karena perbuatannya yang buruk.

Meski dinilai sebagai orang yang maksiat, namun setiap bulan Rabiul Awal datang, pemuda ini akan mencuci pakaiannya, memakai wewangian, berhias, dan mengadakan pesta. Pesta tersebut dilakukan dengan membacakan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Meski sering melalaikan ibadah, namun pemuda tersebut selalu merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan sungguh-sungguh pada tiap tahunnya. “Dia terus melakukan hal ini selama waktu yang lama,” demikian cerita dalam kitab I‘anatut Thalibin, halaman 365, dikutip akun X (Twitter) @BincangSyariah. 

Lantas di akhir hayatnya, saat pemuda tersebut meninggal seluruh penduduk kota mendengar suara agar datang ke pemakaman pemuda tersebut. “Wahai penduduk Basra, datanglah dan saksikan pemakaman wali dari wali-wali Allah. Dia sangat dicintai oleh-Ku,” demikian suara yang didengar oleh para penduduk. 

Mendengar seruan itu, para penduduk kota pun menghadiri pemakaman dan menguburkan pemuda tersebut. Tak hanya seruan, para penduduk juga bermimpi pemuda yang dinilai kerap bermaksiat itu tengah mengenakan pakaian dari sutra. Lantas penduduk bertanya kepada pemuda tersebut, “Dengan apa engkau memperoleh keutamaan ini?," Dia menjawab, “Dengan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.”

Baca Juga : Lantik 6 Pj Bupati, Gubernur Khofifah Tekankan Pentingnya Menjaga Pembangunan Berkelanjutan

Demikianlah kisah pemuda yang bermaksiat namun dimuliakan oleh Allah hingga akhir hayatnya karena merayakan hari kelahiran Nabi SAW. Hal ini pun membuat para penduduk terkejut, lantaran mereka kerap meremehkan amalan pemuda tersebut karena dinilai suka bermaksiat. 

Dari kisah tersebut, disimpulkan bahwa pentingnya menghormati dan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meskipun pemuda tersebut awalnya memiliki perilaku yang buruk, perubahan positif dalam hidupnya terjadi ketika ia mulai menghargai momen kelahiran Nabi.

Dari kisah ini juga menunjukkan bahwa cinta dan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik dan lebih saleh, bahkan setelah masa lalu yang buruk.

Demikian penjelasan terkait kisah pemuda jadi waliyullah karena merayakan Maulid Nabi. Semoga kisah ini memberikan manfaat dan istiqamah dalam menjalankan perayaan maulid Nabi. 


Topik

Agama Nabi Muhammad maulid nabi kelahiran nabi muhammad



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni