JATIMTIMES - Jumlah ternak sapi di Kabupaten Malang yang terindikasi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) mengalami kenaikan cukup siginifikan. Selama kurang lebih dalam waktu dua pekan, jumlah ternak sapi yang terindikasi PMK ada sebanyak 509 ekor.
Berdasarkan catatan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang, dari jumlah tersebut, paling tinggi atau sebanyak 388 ekor diantaranya terdapat di wilayah Kecamatan Ngantang. Kemudian sisanya menyebar di 11 kecamatan.
Baca Juga : Salip Truk, Jungkir Balik di Depan SPBU, Wajah Mahasiswa Luka-Luka
Plt Kepala DPKH Kabupaten Malang, Nurcahyo mengatakan bahwa pihaknya hingga saat ini masih terus melakukan upaya untuk menekan penyebaran wabah PMK. Salah satunya dengan melakukan upaya sistomatik pada hewan terindikasi PMK yang sudah muncul gejala.
"Misalkan luka diobati dengan antibiotik. Lalu panas dikasih obat penurun panas, kemudian dibiosecurity. Seperti disinfektan
jadi itulah yang dilakukan agar dia (ternak) bisa sembuh," ujar Nurcahyo.
Dirinya tidak menampik kabar bahwa penyebaran PMK ini memang terjadi sangat cepat. Bahkan, dalam waktu kurang lebih selama dua pekan, jumlah sapi terindikasi PMK menjadi 509, setelah sebelumnya sebanyak 280 ekor.
"Jadi virus PMK ini penyebarannya sangat cepat. Jadi apabila gejala klinisnya tidak tahu, kelihatan sehat, lalu dibawa ke kandang, dan disitu ada ternak-ternak yang lain. Maka hari itu juga dipastikan kena, nah itu yang membuat cepat," terang Nurcahyo.
Baca Juga : Angkat Nama Kampus, UIN Maliki Malang Terbitkan Pedoman Menulis Jurnal Ilmiah
Namun begitu, dirinya memastikan bahwa hingga saat ini, masih belum ada ternak yang terindikasi PMK yang sampai meninggal. Namun sudah ada yang bergejala parah dan harus dilakukan pemotongan paksa.
"Kalau yang mati tidak ada. Kalau yang dipotong paksa itu ada, dan (dagingnya) masih bisa dijual dengan harga normal. Yang rentan itu yang usianya muda, kalau yang dewasa itu biasanya imunnya lebih kuat," pungkas Nurcahyo.