free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Pemerintahan

Pendapa Kabupaten Kediri Punya Nama Baru: Panjalu Djayati

Penulis : Eko Arif Setiono - Editor : Yunan Helmy

19 - Mar - 2021, 05:13

Loading Placeholder
Bupati Kediri bersama budayawan dan sejarawan usai memutuskan nama pendapa Kabupaten Kediri. (Eko arif s/JatimTIMES)

KEDIRITIMES - Pendapa Kabupaten Kediri akhirnya punya nama.  Penetapan nama pendapa dilakukan setelah melalui diskusi dengan sejumlah budayawan dan pelaku kesenian yang memahami sejarah Kabupaten Kediri dan Kota Kediri. 

“Karena jika membicarakan budaya , tidak bisa memisahkan kabupaten dan kota yang merupakan satu kesatuan,” ujar Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Kamis (18/03/2021).

Baca Juga : DPRD Beri Rekomendasi Lengkap atas LKPJ Bupati Banyuwangi Tahun Anggaran 2020

Dari diskusi tersebut, pilihan nama jatuh pada Panjalu Djayati. Nama Panjalu Djayati, yang berarti Kediri Menang, terpilih dari empat nama terakhir yang telah diusulkan 

"Sebenarnya ada banyak nama yang masuk, tapi setelah diskusi dengan teman-teman pelaku budaya dan sejarah yang paham setelah dirumuskan, namanya jatuh pada Pendapa Panjalu Djayati " ujar Mas Dito , sapaan akrab bupati Kediri. 

Sebelumnya empat nama yang masuk dalam usulan terakhir adalah Kameswara (cikal bakal ceritera legenda Panji bersama Ratu Kirana serta menyatukan Dhaha dan Jenggala). Kemudian Acalapati (bahasa Sansekerta, dapat diartikan sebagai paling tinggi yang merujuk pada keberadaan Gunung Kelud/Kampud di Kediri), Samarawiajaya (raja pertama Jerajaan Panjalu setelah pembagian Kerajaan Kahuripan 1042 Masehi), lalu terakhir Panjalu Djayati (slogan yang terukir melintang pada bagian atas Prasasti Hantang) yang akhirnya terpilih sebagai nama. 

Nama baru akan diresmikan bertepatan dengan hari jadi Kediri. “Peresmian namanya dilakukan di pendapa, bertepatan dengan hari jadi kediri 25 Maret nanti,” kata Mas Dito.

Sementara itu ,menurut budayawan Imam Mubarok, kilas balik sejarah dan pemilihan Panjalu Djayati, sesungguhnya Kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. 

"Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha," terang Imam Mubarok.

Ditambahkan Imam Mubarok, pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. 

Baca Juga : Waktu Mepet, Joko Susilo Tak Ingin Terburu-buru Rekrut Pemain Asing

“Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan,” bebernya.

Pada mulanya, nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Kadiri. 

Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaan pada masa Sri Jayabhaya (1135-1157). Itu juga dikutip dari tulisan bertajuk “Sejarah Panji" dalam Majalah Adiluhung (edisi 14: 2017). Catatan China berjudul Ling Wai Tai Ta yang ditulis oleh Chou Ku-Fei pada 1178 memperkuat hal tersebut.

 


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Eko Arif Setiono

Editor

Yunan Helmy

Pemerintahan

Artikel terkait di Pemerintahan

--- Iklan Sponsor ---