Cuaca Ekstrem, Kota Malang Waspada Longsor di Tiga Sempadan Sungai | Jatim TIMES

Cuaca Ekstrem, Kota Malang Waspada Longsor di Tiga Sempadan Sungai

Feb 21, 2021 18:59
Kondisi bangunan di Perumahan Griya Sulfat Inside yang berada di sepadan daerah aliran sungai ambrol disebabkan oleh intensitas hujan lebat, Senin (18/2/2021). (Foto: Dok. JatimTIMES)
Kondisi bangunan di Perumahan Griya Sulfat Inside yang berada di sepadan daerah aliran sungai ambrol disebabkan oleh intensitas hujan lebat, Senin (18/2/2021). (Foto: Dok. JatimTIMES)

MALANGTIMES - Kewaspadaan pada tiga titik aliran sungai di wilayah Kota Malang ditingkatkan. Yakni pada aliran Sungai Brantas, Sungai Metro dan Sungai Bango. Itu menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait prakiraan terjadinya hujan ekstrem pada tanggal 23 hingga 25 Februari mendatang. 

Di sempadan aliran tiga sungai tersebut, rawan terjadi bencana longsor. "Seandainya airnya itu sudah keruh, artinya kita harus waspada. Bahwa di atas sudah terjadi hujan yang lebat. Kita juga lakukan persiapan baik dari SDM (sumber daya manusia, red) dan sarana prasarananya," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Alie Mulyanto kepada MalangTIMES, Minggu (21/2/2021). 
 

Alie mengatakan, sejumlah persiapan telah dilakukan menindaklanjuti peringatan BMKG atas adanya hujan ekstrem pada 23 hingga 25 Februari 2021. Dia menyebutkan, persiapan dilakukan di antaranya dengan meningkatkan kewaspadaan pada bangunan di sempadan sungai. 

Di Kota Malang sebut Alie terdapat tiga sungai besar yakni Sungai Brantas, Sungai Metro dan Sungai Bango. Alie mengatakan bahwa bangunan yang berada di daerah aliran sungai berpotensi rawan terjadi longsor.  "Kalau rawan longsor di semua daerah aliran sungai. Karena itu menjadi titik rawan untuk tanah longsor. Yang parah di Penanggungan, Samaan, Rampal celaket, Karangbesuki, Bandulan," jelasnya. 

Setidaknya disampaikan Alie bahwa BPBD Kota Malang juga telah mencatat selama awal tahun 2021 di Kota Malang telah terjadi sebanyak 35 titik bangunan yang mengalami longsor. Mayoritas berada di sempadan daerah aliran sungai. 

Terkait sosialisasi, Alie mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat bergerak sendiri untuk memberi peringatan kepada masyarakat terkait cuaca ekstrem beserta dampaknya. Pihaknya akan memanfaatkan jaringan komunikasi melalui kelurahan tangguh dan relawan. 

"Kita punya kelurahan tangguh, kita ada relawan, kita sampaikan jika ada tanda-tanda di seputaran daerah aliran sungai ada air yang keruh, berarti itu sudah ada peningkatan volume maupun sedimen yang ada di sungai. Makanya kita harus tetap waspada," terangnya. 

Sementara itu, senada dengan Alie, Kepala DPUPRPKP Kota Malang Hadi Santoso juga memberikan peringatan kepada seluruh masyarakat, terutama para developer yang membangun rumah atau perumahan di sepadan daerah aliran sungai. 

Selain itu, pihaknya juga menegaskan jika terdapat bangunan-bangunan liar di sepadan daerah aliran sungai tak berizin dan kewenangan melekat pada DPUPRPKP, pihaknya tidak segan-segan akan melakukan pembongkaran. "Jika kawasan itu melekat sesuai tugas pokok dan fungsi kami (DPUPRPKP), akan kami eksekusi secara langsung," tegas pria yang akrab disapa Sonny ini. 

Sonny melanjutkan bahwa sepengetahuannya memang masih banyak bangunan yang berada di sepadan daerah aliran sungai. Salah satunya yang masih baru terjadi di Kota Malang yakni di Perumahan Griya Sulfat Inside Jalan Sadang, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing yang menelan satu korban jiwa. "Pihak pengembangnya sudah kami panggil. Padahal sesuai aturan harus mematuhi aturan jarak sempadan selebar 20 meter dari tepi sungai," tandasnya.

Topik
Berita Malang Waspada Bencana BMKG BPBD Kota Malang

Berita Lainnya