Anang Mustofa, Kades Millenial Kendalbulur Kecamatan Boyolangu / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Anang Mustofa, Kades Millenial Kendalbulur Kecamatan Boyolangu / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Mendapat kunjungan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, kepala desa Kendalbulur Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung Anang Mustofa, senang. Pasalnya, kerja keras yang selama ini dilakukan ternyata mendapat respons dari pemerintah pusat.

Sebelum diluncurkan secara resmi, aplikasi Simpel Desa telah diuji coba di dua RT dan hasilnya cukup memuaskan. Pihaknya yakin sistem itu akan memberikan manfaat banyak bagi masyarakat. "Hanya warga Kendalbulur saja yang bisa masuk, karena basisnya adalah NIK (Nomor Induk Kewarganegaraan)," imbuhnya. 

Baca Juga : Langganan Juara Kearsipan dan Administrasi Jatim, Ini Kiat Kades Karangtalun

 

Aplikasi digital Simpel Desa yang digagas Kades milenial ini disebut Anang, tidak hanya berupa layanan administrasi, namun juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti pasar desa, hingga layanan darurat atau Panic Button.

"Ini beda misalnya dengan group media sosial (WhatsApp), aplikasi yang sudah kita uji coba untuk 2 RT ini sangat membantu berbagai informasi di desa ini," kata Anang.  

Anang juga mencontohkan kerja aplikasi ini dalam pelayanan kepada masyarakat, misalnya permohonan pembuatan surat bagi warga Desa Kendalbulur bisa dilayani dengan cepat. "Tinggal memilih jenis suratnya, ini terhubung dengan perangkat desa bahkan BPD dan pelayanan kesehatan termasuk ke kepala desa," jelasnya.

Jika terkait surat, setelah dipilih warga maka segera bisa dicetak di kertas dan kepala desa tinggal tanda tangan. Jika urusan kesehatan, warga bisa chat langsung dengan bidan desa dan layanan lain terkait pelayanan di desa.

Pemangkasan waktu juga otomatis akan semakin cepat, bagi pemohon tidak lagi harus menunggu berhari-hari untuk mendapatkan surat yang diinginkan, dengan digitalisasi ini pemohon hanya butuh waktu lebih kurang 5 menit untuk bisa mendapatkan surat sesuai yang diinginkannya. “Paling 3 sampai 5 menit sudah jadi. Tidak usah nunggu berhari-hari,” ujarnya.

Aplikasi Simpel Desa sendiri juga dilengkapi dengan Panic Button yang terhubung dengan akun milik desa dan warga sekitar. Jadi jika terjadi keadaan darurat, warga terdekat bisa langsung melihat dan melakukan pertolongan. Mirip dengan fungsi kentongan di masa lalu.

 “Warga terdekat dengan lokasi bisa langsung memeriksa keadaan yang terjadi, saat ada kejahatan, kecelakaan dan hal hal lain bisa langsung dikabarkan,” ucap Anang.

Masih menurut Anang, kemudahan memasarkan produk hasil kebun warga, maupun hasil usaha warga juga menjadi kelebihan lain dari aplikasi yang telah terhubung dengan Market Place ini.

Anang menyebut, di Jawa Timur desa Kendalbulur merupakan desa pertama dan satu-satunya yang meluncurkan digitalisasi ini. Dikatakan, desa lain yang sudah memiliki aplikasi yang serupa ada di Jawa Barat dan Karanganyar Jawa Tengah.

Sebelumnya, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar meluncurkan Desa Digital di Desa Kendalibulur, Kecamatan Boyolangu,  Kabupaten Tulungagung, Kamis (29/10/2020).

Baca Juga : Ubah Sampah Koran Bekas jadi Kerajinan Bernilai Tinggi

 

Peluncuran Desa Digital di Desa Kendalbulur ini sekaligus menandai pelayanan desa yang berbasis teknologi dan jaringan, yang mudah dan cepat. “Desa digital merupakan keniscayaan. Dengan digitalisasi desa akan menunjukan kehadiran pemerintah desa di hadapan warganya,” ucap Abdul Hakim Iskandar.

Pemanfaatan teknologi dalam pelayanan masyarakat, menggantikan sistem lama yang terkesan kuno dan lama. Warga tak perlu lagi menunggu lama untuk mengurus sebuah surat, misalnya. Cukup melalui aplikasi, surat yang diinginkan akan diurus oleh pihak desa. “Tidak eranya lagi warga desa harus nongkrong di balai desa untuk mengurus sebuah surat,” katanya.

Abdul Halim berujar, bahwa aplikasi Desa Digital seperti ini sudah sepatutnya dipelajari oleh desa-desa lain untuk melayani warganya. “Iya pasti akan kita adopsi dan dijadikan patokan untuk desa-desa lain. Silahkan belajar ke Desa Kendalbulur ini,” imbuhnya. 

Tidak hanya memuji pengelolaan Desa Digital di Kendalbulur, pihaknya juga mengapresiasi pemerintah desa yang telah memberdayakan Dana Desa hingga bisa membangun Nangkula Park yang dalam 4 bulan mampu meraup omzet hingga Rp 1,5 milliar dengan rata rata pemasukan perharinya sebesar Rp 12 juta.

“Pak Kades ini prinsipnya uang masuk sebanyak banyaknya. Tapi jangan sampai keluar, makanya digunakan untuk subsidi benih padi, kesehatan, hingga pajak PBB tadi,” ujarnya. 

Dihadapan undangan yang mengikuti Launching,  Abdul Halim menyebut, Desa Kendalbulur akan menjadi desa yang akan terbebas dari kelaparan dan kemiskinan selama terus dikelola dengan baik seperti yang selama ini telah ditunjukkan oleh Kepala Desa dan jajarannya.

Tidak hanya meresmikan Desa Digital Kendalbulur, kehadiran Abdul Halim juga menandai pembangunan perluasan wisata buatan Nangkula Park di Desa Kendalbulur yang sejak pertama berdiri sudah dioperasionalkan oleh Bumdes setempat.