Hearing Komisi II DPRD Kab Blitar dengan pedagang pasar Srengat dan Stakeholder.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Hearing Komisi II DPRD Kab Blitar dengan pedagang pasar Srengat dan Stakeholder.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blitar merespons cepat permasalahan yang terjadi di pasar Srengat. Para pedagang pasar Srengat belakangan mengeluh menurunnya pendapatan akibat keberadaan pasar pagi. Para pedagang juga menilai pedagang pasar pagi tidak tertib aturan. 

Aspirasi tersebut diserap kalangan wakil rakyat dan menindaklanjutinya dengan gelar sidak ke pasar Srengat. Setelah sidak, Dewan melaksanakan Hearing atau dengar pendapat bersama pedagang dan Stakeholder terkait pada Rabu (16/9/2020). Dalam Hearing ini dewan memanggil Disperindag, Satpol PP dan Muspika Kecamatan Srengat untuk duduk bersama memecahkan permasalahan yang terjadi di pasar Srengat. 

Baca Juga : Dandim 0808/Blitar Ingatkan Pentingnya Keluarga

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Blitar, Idris Marbawi, mengungkapkan pihaknya telah menggelar sidak ke pasar Srengat pada 30 Juli 2020. Dari sidak tersebut ada beberapa kesepakatan yang bersama-sama akan dijalankan. Seperti pendisiplinan pasar pagi yang ada diluar pasar Srengat. Rencananya, kesepakatan akan ditindaklanjuti oleh OPD terkait.

“Sudah ada kesepakatan, namun kenyataannya hingga 8 Agustus 2020 kesepakatan tersebut belum dijalankan oleh OPD terkait. Nah, terkait ini paguyuban pasar Srengat dalam, meminta Hearing kepada komisi II untuk mendengarkan keinginan pedagang di pasar Srengat. Dan kita laksanakan Hearing kali ini adalah untuk mencari solusi terbaik bagi semua pihak,” tegas Idris Marbawi. 

Dalam kesempatan ini, Siti Mutmainah selaku ketua paguyuban pasar srengat, menyampaikan setelah sidak yang dilaksanakan dewan hingga har ini belum ada upaya penyelesaian masalah. Sebagai pedagang pasar dalam, dia mewakili rekan sejawatnya berharap keadilan. Hal ini mengingat turunnya pendapatan pedagang pasar dalam belakangan ini.

“Sempat ada kesepakatan pedagang akan ditertibkan, namun nyatanya tidak tindakan nyata di lapangan. Tujuan kami hanya keadilan karena pendapatan kami terus menurun. Sebenarnya awalnya mula hanya adanya pasar pagi, ada 5 pedagang diluar dan menjadi banyak sehingga pada akhirnya menimbulkan permasalahan,” jlentrehnya.

Menanggapi hal tersebut, Yuswardi selaku ketua Paguyuban Pasar Pagi menegaskan sejatinya dalam situasi ini tidak ada permasalahan. Konflik ini terjadi menurutnya akibat dari kurangnya komunikasi yang baik antara pedagang dalam dan pedagang pagi. Dia menilai jika terjalin komunikasi yang baik permasalahan ini dipastikan selesai. 

Baca Juga : Tim Penggerak PKK Desa Tiron Gelar Sosialisasi MPASI, Wujudkan Generasi Sehat Hebat

“Tidak ada masalah sebenarnya. Jika kita berkomunikasi dengan baik maka permasalahan ini akan selesai. Seharusnya bukan menciptakan pro kontra tetapi bisa dibicarakan dengan baik tanpa adanya masalah,” tegasnya. 

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Blitar, Tavip Wiyono, menegaskan Pemkab Blitar sudah berupaya maksimal memecahkan permasalahan yang terjadi di pasar Srengat. Dia juga memaparkan ada 13 pasar di kabupaten Blitar dan semuanya ada pasar pagi. Tetapi pedagang pasar dalam dan pasar pagi sudah mempunyai kesepakatan bersama dan mempunyai kedisiplinan dalam melakukan kesepakatan tersebut.

“Anggota dewan dan paguyuban pedagang pasar sudah berkali-kali melakukan hearing, tetapi kesepakatan tersebut belum terlaksana. Jadi, kita harus bisa melakukan evaluasi di lapangan untuk pasar Srengat baik pasar dalam dan pasar pagi. Solusi harus ada agar pedagang pasar dalam dan pasar pagi benar-benar merasa nyaman, begitu juga dengan pembeli juga nyaman belanja ke pasar Srengat,” tukasnya.