Setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa, Pemkab Tulungagung selalu menggelar Jamasan Kiai Upas, pusaka kebanggaan masyarakat Tulungagung.
Jamasan (penyucian) tombak ini dilakukan setiap hari Jum'at di atas tanggal 10 Suro. Seperti hari ini, Jum'at (4/9/20) Jamasan kembali dilakukan.
Baca Juga : Nelayan Pantai Popoh Larung Semboyo, Wujud Rasa Syukur
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo yang hadir dalam Jamasan ini mengatakan acara ini merupakan budaya yang harus dilestarikan.
“Ini merupakan adat dan budaya turun menurun,” ujar Maryoto.
Prosesi jamasan diawali dengan iring-iringan reog kendang dan prajurit yang mengawal air untuk mensucikan tombak ini.
Air yang digunakan berasal dari 9 air berbeda.l, yang masing-masing dibawa oleh perempuan yang masih perawan.
Selanjutnya air itu diserahkan kepada pejabat tertinggi, yang dalam hal ini Bupati Tulungagung. Setelah diserahkan pada Bupati, air selanjutnya diserahkan pada pemelihara Kiai Upas.
Selanjutnya, Bupati bersama Forkopimda mengangkat tombak Kiai Upas dari penyimpanan, untuk dibawa ke lokasi penyucian yang berada tak jauh dari lokasi penyimpanan, di kantor Arsip Kabupaten Tulungagung di Jalan Urip Sumoharjo.
Setelah di lokasi jamasan, kain pembungkus tombak dilepas.
Tombak lalu dijamas dengan menggunakan air 9 sumber, jeruk nipis dan tatap kayu secara berulang, hingga tombak benar-benar bersih.
“Jamasan ini juga wujud permohonan do'a dan rasa syukur kepada Tuhan YME,” kata Maryoto.
Setelah dijamas, tombak selanjutnya dibawa kembali ke tempat penyimpananya.
Selama prosesi jamasan, diringi kepulan asap kemenyan dan lantunan Tahlil. Jamasan dijaga ketat oleh “Wadya Wimbasara”, dari warga sekitar.
Disinggung terkait perawatan pusaka ini, Maryoto mengungkapkan jika sudah diserahkan ke Pemkab. Sebelumnya pusaka ini diliki dan dirawat oleh keluarga Pringgokusumo, dan disimpan di gedung kanjengan, tepat di samping kantor arsip.
Baca Juga : Peringatan Hari Jadi Trenggalek Tetap Terselenggara, Ini Pesan Bupati
“Karena sudah diserahkan ke Pemkab, tentu saja kita dari Pemkab yang merawat,” pungkasnya.
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan kenduri yang diikuti oleh tokoh agama, tokoh masyarakat dan warga sekitar.
Uniknya, warga sekitar berebut air sisa jamasan, yang dianggap berkah. Salah satu warga sekitar, Wandi menganggap air ini mempunyai berkah dan bisa menyembuhkan penyakit.
“Menurut warga, air ini mempunyai berkah, sehingga diperebutkan,” ujarnya.
Dari penuturan sejarah, Tombak Kiai Upas merupakan pusaka yang berasal dari lidah ular raksasa, Baru Klinthing.
Sebagian warga percaya, adanya tombak ini mampu menjaga Tulungagung dari bencana.