Prilla dan Dalilah perintis sekaligus owner dari Skooci saat berada di salah satu kedainya yang berada di Turen, Minggu (30/8/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Prilla dan Dalilah perintis sekaligus owner dari Skooci saat berada di salah satu kedainya yang berada di Turen, Minggu (30/8/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

Merintis sebuah usaha, jika hanya sebuah angan-angan dan tidak pernah mencoba akan berakhir sia-sia dan hanya jadi impian kosong saja. 

Tindakan jadi langkah awal untuk membangun impian yang sifatnya abstrak.

Baca Juga : Joni, Bebas dari Lembah Hitam Narkoba Setelah "Ketagihan" Surfing di Ombak Pantai Selatan

 

Hal itu pula yang dilakukan oleh dua perempuan tangguh asal Malang, yakni Prilla Widyanisa dan Dalilah Naja Farahdiba yang merintis usaha olahan kopi dan susu mulai dari nol hingga sekarang telah memiliki sembilan kedai dalam waktu kurang dari satu tahun. 

Prilla yang merupakan perempuan asal Wajak, Kabupaten Malang dan Dalilah perempuan asal Kota Malang, mencoba memadumadankan keinginan mereka berdua dalam satu usaha yang telah menjamur di Kota Malang akan tetapi masih kurang banyak pengusaha muda yang melirik wilayah Kabupaten Malang untuk membuka kedai olahan kopi dan susu. 

Mereka berdua menamai kedainya dengan nama singkat, padat dan penuh makna, yakni Skooci. Dalilah mengatakan, bahwa pengambilan nama Skooci sendiri terinspirasi dari sebuah kapal besar yang selalu memiliki perahu kecil bernama skoci untuk digunakan dalam keadaan darurat. 

"Hanya saja kita plesetkan dengan tambahan huruf 'O' di tengahnya yang digambarkan dengan bulan. Serta ada gambar daun teh yang diibaratkan sebagai perahu kecil dengan kopi sebagi pendayung yang sedang menyusuri air yang diibaratkan sebagai susu," jelasnya saat dikonfirmasi pewarta, Minggu (30/8/2020) kemarin. 

Dalilah sendiri menyebutkan, bahwa dengan adanya nama skooci ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh orang banyak. Di mana kebermanfaatan itu didapat melalui penyajian menu yang tidak mengecewakan. Serta membuka peluang orang berwirausaha dengan franchise serta membuka lapangan pekerjaan. 

"Di skooci sendiri sekarang telah memiliki 5 pegawai tetap dan sekarang kita lagi mengadakan open recruitement pegawai," sebutnya. 

Berbicara terkait franchise, Dalilah menjelaskan, bahwa saat ini telah ada 5 kedai yang merupakan kerjasama franchise dengan pihak kedua. Kedai-kedai tersebut seluruhnya terletak di wilayah Kabupaten Malang. 

"Kalau yang kerjasama franchise, kedainya ada di Bululawang, Singosari, Sawahan, Dampit dan Krebet," ungkapnya. 

Sedangkan untuk kedai Skooci milik Prilla dan Dalilah sendiri sudah mencapai 4 kedai yang juga semuanya terletak di Kabupaten Malang. 

"Kalau yang punya kita sendiri itu ada di Stadion Barat Turen, Wajak, Gondanglegi. Sama yang mau baru buka di daerah Gedogwetan. Dan bulan depan kita akan membuka kedai lagi yang berada di wilayah Turen," ungkapnya. 

Untuk harga franchise Skooci-nya sendiri, Prilla dan Dalilah mematok harga yang lumayan tinggi. Tetapi mereka berdua berani menjamin harga tinggi, barang dan rasa tetap terjaga kualitasnya. 

"Kalau awal buka franchise itu kita buka dengan harga Rp 17 juta. Sekarang karena permintaan dan kedai juga sudah banyak, harga franchise kita patok dengan harga Rp 25 hingga 30 juta," sebutnya. 

Dalilah menambahkan, bahwa omzet yang didapat dari pengelolaan kedai Skooci yang dikelola oleh dirinya bersama Prilla secara langsung, per bulannya bisa mencapai puluhan juta rupiah. 

Baca Juga : Salah Satu Polwan Tangguh Polres Malang, Mulai Ajudan Dubes Hingga Jabat Kasat Lantas

 

"Kalau omzet dari tiga kedai yang sudah berjalan dan kita kelola langsung ya bisa mencapai Rp 50 juta tiap bulannya. Tapi itu naik turun ya," tambahnya. 

Sementara itu, Prilla juga mengatakan bahwa mereka berdua merintis usaha olahan kopi dan susu tidak serta merta langsung mendapatkan kesuksesan dengan sembilan kedainya saat ini. Tetapi mereka benar-benar merintis dari nol dengan percobaan-percobaan yang gagal selama dua bulan awal merintis. 

"Kita merintis mulai Bulan Agustus sampai September 2019. Diawali jualan online yang dipasarkan ke teman terdekat. Setelah itu, pembeli online di luar teman dekat semakin banyak. Akhirnya kita memberanikan diri buka offline dalam bentuk kedai," jelas Prilla. 

Prilla pun menyebut dengan sangat lantang dan tegas bahwa dirinya membuka kedai Skooci secara offline pertama kali di Turen pada tanggal 18 Oktober 2019 yang semua pengolahan mereka berdua lakukan sendiri. Mulai membeli bahan, mengolah pesanan pelanggan, hingga menyajikan minuman tersebut. 

Prilla pun mengungkap alasan mereka berdua membuka seluruh kedai Skooci berlokasi di wilayah Kabupaten Malang, karena jika mereka berdua nekat untuk membuka kedai di Kota Malang akan terlalu banyak saingan. 

"Dan juga untuk di Kabupaten Malang, masih belum menjamur kedai olahan kopi dan susu. Maka dari itu untuk sementara ini kita masih membuka di wilayah Kabupaten Malang terlebih dahulu," ungkapnya. 

Lebih jauh Prilla juga mengatakan bahwa dirinya bersama Dalilah memiliki target ke depan agar Skooci dapat membuka cabang yang lebih banyak legi di seluruh wilayah Kabupaten Malang, Malang Raya hingga ke luar daerah.

"Target kita ke depan ingin perbanyak cabang dan mengoptimalkan kedai yang ada untuk mencapai target di tiap harinya," ujarnya. 

Serta mereka berdua juga berharap, agar Skooci lebih dikenal oleh banyak orang, bukan hanya dari Kabupaten Malang melainkan seluruh wilayah yang ada di Indonesia. 

"Semakin banyak peminatnya dan semakin bisa menjaga konsistensi rasa agar pelanggan terus banyak," pungkasnya.