Petani di Kota Batu mengeluhkan hama ulat yang menyerang tanaman. Seperti yang terjadi di Dusun Rejoso, Desa Junrejo, Kota Batu.
Petani yang menanam jagung di Desa Junrejo, itu mengadu dengan adanya serangan hama ulat. Karena keluhan itu Dinas Pertanian Kota Batu menerjunkan Tim Cepat Respon Opini Publik (CROP). Tim itu dibentuk untuk menangani keluhan para petani di Kota Batu.
Baca Juga : Pertahankan Produksi Pangan, Bupati Lumajang Ingin Lindungi Lahan Produktiv
“Tim langsung diterjunkan ke sana. Di sana pertanian jagung petani terkena hama ulat mencapai 26,67 persen.” ucap Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono.
Bagi para petani di Kota Batu yang memiliki keluhan lanjutnya, bisa langsung mengeluhkan keluhannya melalui Aplikasi Balaikota Among Tani Teknologi. "Di sana bisa mengeluhkan tentang organisme pengganggu tanaman (OPT)," ujarnya.
OPT itu terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura. Untuk mengatasi hal ini pihaknya pun lebih intens berkoordinasi dengan Petugas Pengendali Organisme Tumbuhan (POPT) wilayah Kota Batu.
Dengan demikian timnya bisa bergerak cepat untuk mengidentifikasi karakteristik serangan OPT ke lapangan. Sehingga bisa dilakukan tindakan selanjutnya untuk menindaklanjuti serangan hama tersebut agar tidak menyebar.
Baca Juga : Tindaklanjuti Perda 13 Tahun 2016, Pemkot Mojokerto Serahkan Tanah Aset ke BPRS
Untuk mempercepat penanganan, upaya yang dilakukan dengan menggunakan drone sprayer untuk pengendalian serangan OPT. Sebab selain hama ulat jagung juga penyakit trotol lada bawang merah dan hawa wereng batang coklat yang menyerang tanaman padi.
“Upaya lain yang dilakukan dengan penggunaan mikroba entomopatogen secara periodik. Lalu penggunaan insektisida berbahan aktif, pengendalian hama ulat secara mekanis dengan mencari dan membunuh ulat di kelompok telur, dan sebagainya,” tutup Sugeng.