Ilustrasi program KB (istimewa)
Ilustrasi program KB (istimewa)

Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang menilai promosi keluarga berencana (KB) yang sulit adalah ketika tidak terbiasa melakukan perencanaan. Hal itu berkaitan pada perempuan yang merencanakan siklus reproduksinya.

Pada masa pandemi Covid-19, kehamilan di Kota Malang bisa saja dikatakan turun, namun hal itu bisa terjadi karena perempuan bisa melakukan perencanaan agar angka kehamilan tidak mengalami lonjakan tinggi karena kondisi Covid-19 yang sudah meluas.

Baca Juga : Kasus Covid-19 Masih Tinggi, Tiap ASN di Kota Malang Wajib Lakukan Sosialisasi ke 10 KK

Dalam kenyataannya di lapangan terkadang perencanaan justru berada di luar kendali perempuan. Terutama perencanaan mengenai kehamilan dan anak yang dikandungnya.

"Hal ini erat kaitannya dengan kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga. Hal lain lagi adalah perempuan itu memiliki hak yang terkait dengan reproduksinya adalah hak untuk mendapatkan informasi yang penuh dan pelayanan yang baik," kata Kepala Dinsos-P3AP2KB, Penni Indriani.

Di sisi lain, Penni mengatakan bahwa KB bukan hanya soal pertumbuhan penduduk dan kontrasepsi, namun menciptakan keluarga yang sejahtera harmonis dengan anak-anak yang berkualitas.

"Dua anak cukup itu sebenarnya bisa membuat keluarga bahagia, tapi pada kenyataannya juga banyak orang yang memiliki anak 3, 4 bahkan 5," kata Penni.

Baca Juga : Haul Bung Karno, Pemkab Blitar Gelar Doa Lintas Agama dan Pengajian Akbar via Virtual

Sebelumnya, Dinsos-P3AP2KB juga terus menggaungkan program KB agar kesejahteraan masyarakat bisa merata dan pengendalian penduduk tidak meningkat secara drastis.