Rencana Israel Kuasai Kota Gaza, Dunia Memanas: Arab Saudi, AS, China, hingga Jerman Turun Tangan
Reporter
Mutmainah J
Editor
Nurlayla Ratri
09 - Aug - 2025, 06:26
JATIMTIMES - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel mengumumkan rencana ambisius untuk mengambil alih Kota Gaza. Keputusan ini memicu gelombang reaksi keras dari berbagai negara di dunia, termasuk Arab Saudi, Amerika Serikat, China, hingga Jerman.
Langkah tersebut dianggap berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah lama melanda wilayah yang diblokade itu, serta menambah panas konflik Israel–Palestina yang tak kunjung menemukan titik damai.
Baca Juga : Disperindag Kota Blitar Perketat Pengawasan: Beras Oplosan Ditarik, Pasar Kini Lebih Aman
Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (9/8/2025), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengutuk keras rencana Israel tersebut. Riyadh menilai langkah itu sebagai bentuk kelaparan massal dan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.
"Mengutuk dengan sekeras-kerasnya dan sekeras-kerasnya keputusan otoritas pendudukan Israel untuk menduduki Jalur Gaza,” demikian pernyataan resmi Arab Saudi di akun X.
Gelombang Penolakan dari Berbagai Negara
Amerika Serikat, yang selama ini dikenal sebagai sekutu strategis Israel turut menyuarakan penolakan tegas. Pemerintah AS menuding Israel terus melakukan praktik brutal, kejahatan kelaparan, dan pembersihan etnis terhadap warga Palestina di Gaza. Meski belum ada sanksi ekonomi atau diplomatik yang diumumkan, pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa hubungan kedua negara berpotensi mengalami ketegangan diplomatik.
China juga menyampaikan keprihatinan mendalam. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa Kota Gaza adalah bagian integral dari wilayah Palestina.
"China sangat prihatin dengan keputusan Israel, dan mendesak Israel untuk segera menghentikan langkah berbahaya tersebut,” ujar Guo dalam pernyataan tertulis di Beijing.
Di Eropa, Jerman mengambil langkah paling konkret. Kanselir Friedrich Merz mengumumkan penghentian ekspor peralatan militer apa pun yang dapat digunakan di Jalur Gaza.
“Dalam situasi ini, pemerintah Jerman tidak akan mengizinkan ekspor peralatan militer apa pun yang dapat digunakan di Jalur Gaza hingga pemberitahuan lebih lanjut,” tegas Merz.
Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri Jerman terhadap Israel.
Latar Belakang Rencana Israel
Rencana pengambilalihan Kota Gaza ini berasal dari usulan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang disetujui oleh mayoritas anggota kabinet keamanan. Langkah tersebut diklaim sebagai bagian dari strategi untuk “mengalahkan” Hamas di Jalur Gaza.
Kabinet keamanan Israel menetapkan lima prinsip utama dalam rencana ini:
1. Pelucutan senjata Hamas demi menghilangkan ancaman militer.
2. Pengembalian semua sandera, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
3. Demiliterisasi Jalur Gaza untuk mencegah potensi serangan di masa depan.
Baca Juga : Datang dari Serie B Brasil, Matheus Blade Siap Jadi Tembok Kokoh Arema
4. Kontrol keamanan Israel di Jalur Gaza sebagai bentuk pengawasan permanen.
5. Pembentukan pemerintahan sipil alternatif yang bukan berasal dari Hamas maupun Otoritas Palestina.
Meski begitu, Israel menyatakan akan tetap mendistribusikan bantuan kemanusiaan kepada penduduk sipil yang berada di luar zona pertempuran. Namun, pernyataan ini dianggap banyak pihak sebagai upaya meredam kritik, karena risiko korban sipil tetap tinggi.
Krisis Kemanusiaan yang Memburuk
Langkah Israel ini dikhawatirkan memperparah kondisi kemanusiaan di Gaza, yang selama bertahun-tahun telah mengalami blokade ketat. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari dua juta warga Gaza kini hidup dalam keterbatasan pangan, akses kesehatan yang minim, dan kerusakan infrastruktur parah akibat perang berkepanjangan.
Pengamat hubungan internasional, Dr. Luthfi Maulana, menilai bahwa rencana ini bisa memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
“Jika Israel benar-benar mengambil alih Kota Gaza, kemungkinan besar akan terjadi perlawanan besar-besaran yang bisa menyeret negara-negara lain untuk terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung,” ujarnya.
Potensi Dampak Global
Selain ancaman kemanusiaan, rencana ini juga berpotensi memicu gejolak politik dan ekonomi global. Timur Tengah merupakan wilayah strategis yang memengaruhi pasokan energi dunia. Ketegangan yang semakin parah dapat berdampak pada harga minyak, stabilitas perdagangan internasional, hingga meningkatkan risiko serangan teror di luar kawasan.
Hingga saat ini, Israel belum memberikan rincian lebih lanjut terkait timeline atau strategi militer spesifik untuk merealisasikan pengambilalihan Kota Gaza. Namun, dengan semakin banyaknya negara yang menyatakan penolakan keras, langkah ini diperkirakan akan mendapat sorotan tajam di forum internasional, termasuk di Dewan Keamanan PBB.
