Kisah Abu Hurairah Dengan Ganjalan Batu di Perut dan Keberkahan Susu dari Rasulullah

Editor

Dede Nana

09 - Aug - 2026, 10:45

Ilustrasi Abu Hurairah mendapatkan susu dari Rasulullah (ist)


JATIMTIMES - Kemiskinan pernah menjadi bagian dari kehidupan Abu Hurairah RA. Sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal luas sebagai salah satu periwayat hadis terbanyak itu, pernah merasakan lapar yang begitu berat hingga harus menahan sakitnya dengan mengganjal perut menggunakan batu.

Kisah tersebut bukan sekadar gambaran tentang kesulitan ekonomi yang dialami sebagian sahabat Rasulullah SAW. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang menjaga kehormatan diri, kesabaran, ketaatan, serta bagaimana keberkahan dapat hadir melalui sesuatu yang secara kasat mata sangat terbatas.

Baca Juga : Musim Kemarau Bikin Kekeringan? Ini Cara Mengatasinya Menurut Islam

Abu Hurairah sendiri pernah bersumpah bahwa dirinya mengalami kondisi lapar yang begitu parah.

"Demi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Aku pernah menempelkan perutku ke tanah karena lapar, bahkan pernah mengikat batu di perutku karena rasa lapar."

Pengakuan tersebut tercantum dalam hadis sahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Pada suatu hari, rasa lapar kembali membuat tubuh Abu Hurairah melemah. Ia kemudian berada di sebuah jalan yang biasa dilalui para sahabat. Namun, ia tidak secara langsung mengatakan bahwa dirinya sedang membutuhkan makanan.

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq RA melintas, Abu Hurairah mengajukan pertanyaan mengenai sebuah ayat Al-Qur'an. Pertanyaan itu sebenarnya menjadi cara halus untuk menyampaikan keadaannya. Ia berharap Abu Bakar memahami isyarat tersebut dan mengajaknya makan.

Namun, maksud itu tidak tertangkap. Hal serupa terjadi ketika Umar bin al-Khaththab RA melewati tempat tersebut. Abu Hurairah kembali bertanya mengenai ayat Al-Qur'an dengan harapan mendapatkan pertolongan tanpa harus meminta secara langsung.

Umar juga tidak memahami bahwa di balik pertanyaan tersebut terdapat rasa lapar yang sedang ditahan Abu Hurairah.

Situasi berubah ketika Rasulullah SAW datang. Nabi SAW melihat keadaan Abu Hurairah dan langsung mengetahui bahwa ada sesuatu yang sedang dialaminya. Beliau tersenyum dan memanggilnya, "Wahai Abu Hir."

"Labbaik, wahai Rasulullah," jawab Abu Hurairah.

Rasulullah SAW kemudian memintanya mengikuti beliau pulang. Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana Rasulullah SAW memperhatikan keadaan orang-orang di sekitarnya. Beliau tidak selalu menunggu seseorang mengeluhkan persoalannya untuk kemudian memberikan .

Allah SWT menggambarkan sifat Rasulullah SAW tersebut dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, serta sangat penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman." (QS At-Taubah: 128).

Sesampainya di rumah, Rasulullah SAW ternyata memiliki semangkuk susu yang diberikan seseorang sebagai hadiah.

Bagi Abu Hurairah yang sedang kelaparan, susu tersebut tentu menjadi sesuatu yang sangat dinantikan. Namun, sebelum dirinya mendapatkan kesempatan untuk meminumnya, Rasulullah SAW justru memerintahkannya memanggil Ahlus Shuffah.

Ahlus Shuffah merupakan kelompok sahabat yang hidup dalam kondisi serba terbatas dan tinggal di serambi Masjid Nabawi. Mereka meninggalkan kampung halaman demi Islam dan sebagian di antara mereka tidak memiliki rumah maupun sumber penghidupan yang memadai.

Perintah itu sempat menguji Abu Hurairah.
Dalam kondisi lapar, ia berpikir apakah semangkuk susu tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang akan datang. Bahkan, ia merasa dirinya sendiri sangat membutuhkan beberapa teguk susu untuk memulihkan tenaga.

Namun, Abu Hurairah tidak membantah perintah Rasulullah SAW.

Ia memanggil Ahlus Shuffah hingga mereka berdatangan. Setelah itu, Rasulullah SAW memintanya menuangkan susu kepada mereka.

Satu per satu mereka minum. Abu Hurairah terus memberikan susu kepada para sahabat tersebut sampai mereka merasa kenyang. Yang mengejutkan, susu di dalam mangkuk itu seolah tidak berkurang sebagaimana yang semestinya.

Setelah semua anggota Ahlus Shuffah selesai minum, Rasulullah SAW berkata kepada Abu Hurairah bahwa kini giliran mereka berdua. Abu Hurairah kemudian diminta minum. "Minumlah."

Baca Juga : Rekomendasi 5 Film Bioskop Terbaru Untuk Akhir Pekan, Ada Deep Water dan Dear You

Ia pun minum. Rasulullah SAW kembali memintanya minum. Abu Hurairah kembali meminumnya.  Perintah tersebut terus diulangi hingga akhirnya Abu Hurairah mengatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki ruang lagi untuk menampung susu.

"Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku sudah tidak menemukan lagi tempat untuk menampungnya."

Setelah itu, Rasulullah SAW meminum sisa susu tersebut. Kisah ini dikenal sebagai salah satu peristiwa yang menunjukkan keberkahan makanan yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW.

Namun, sisi lain dari kisah tersebut juga tidak kalah penting. Abu Hurairah berada dalam kondisi sangat lapar, tetapi ia tetap mendahulukan ketaatan ketika Rasulullah SAW memintanya memberikan susu kepada orang lain. Di sinilah terlihat bagaimana kemuliaan Abu Hurairah tidak dibangun dari kondisi hidup yang serba berkecukupan.

Ia justru ditempa oleh keterbatasan. Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan salah satu pelajaran dari hadis tersebut berkaitan dengan sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan. Abu Hurairah tidak secara terang-terangan meminta makanan kepada orang lain. Ia memilih memberikan isyarat melalui pertanyaan yang diajukannya.

Sikap tersebut berkaitan dengan menjaga kehormatan diri atau 'iffah. Al-Qur'an juga menggambarkan orang-orang yang membutuhkan tetapi tetap menjaga diri dari meminta-minta secara berlebihan.

"Orang lain yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain." (QS Al-Baqarah: 273).

Kendati demikian, Islam tidak menjadikan rasa lapar atau kondisi membutuhkan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan sampai membahayakan diri. Pesan yang lebih tepat dari kisah Abu Hurairah adalah menjaga kehormatan ketika seseorang masih mampu bersabar dan tidak berada dalam keadaan darurat.

Kisah susu tersebut juga menjadi pembahasan ulama mengenai persoalan makan hingga kenyang.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis itu dapat menjadi dalil bolehnya seseorang makan sampai kenyang apabila terjadi sesekali. Hal tersebut tidak bertentangan dengan hadis-hadis lain yang mengingatkan umat Islam agar tidak berlebihan dalam makan.

Yang tercela bukan sekadar rasa kenyang, tetapi menjadikan makan berlebihan sebagai kebiasaan.
Sebab, berlebihan dalam makan dapat membuat tubuh berat, menumbuhkan kemalasan, mengurangi kekhusyukan dalam beribadah, dan dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi keadaan hati.

Namun, pelajaran paling kuat dari kisah Abu Hurairah bukan hanya tentang susu yang seakan tidak habis. Ada urutan penting yang layak direnungkan.

Abu Hurairah sedang lapar. Ia memiliki kesempatan untuk segera mendapatkan makanan. Tetapi ketika Rasulullah SAW memintanya memanggil orang-orang Ahlus Shuffah, ia memilih menjalankan perintah tersebut. Justru setelah mendahulukan kepentingan orang lain dan menaati Rasulullah SAW, datang keberkahan yang melampaui perkiraannya.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa seseorang tidak selalu dapat mengukur keberkahan dengan perhitungan materi. Dalam banyak keadaan, manusia takut berbagi karena khawatir apa yang dimilikinya akan berkurang.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa harta dan makanan bukan hanya persoalan jumlah, tetapi juga keberkahan. Perjalanan hidup Abu Hurairah sendiri menjadi bukti bahwa kondisi miskin tidak menentukan nilai seseorang di hadapan sejarah.

Ia pernah merasakan lapar hingga mengganjal perut dengan batu. Ia pernah berada pada keadaan ketika seteguk susu begitu berarti. Namun, dari kehidupan yang penuh keterbatasan itu lahir sosok yang kemudian menjadi salah satu periwayat hadis paling produktif di kalangan sahabat.

Lebih dari 5.000 hadis Rasulullah SAW diriwayatkan melalui Abu Hurairah. Namanya tetap dikenang hingga berabad-abad kemudian, bukan karena harta yang dimilikinya, melainkan karena ilmu, ketakwaan, kesabaran, dan pengabdiannya kepada Rasulullah SAW.


Topik

Agama, abu hurairah, sahabat nabi, kisah abu hurairah,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette