Produksi Makin Menurun, Pemkot Batu Anggarkan Rp 400 Juta untuk Revitalisasi Pertanian Apel
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Yunan Helmy
17 - Feb - 2025, 06:46
JATIMTIMES - Pemkot Batu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) kembali menganggarkan khusus untuk revitalisasi pertanian apel. Buah yang jadi ikon kota itu semakin menurun akibat mengecilnya lahan pertanian.
Kepala Distan-KP Heru Yulianto menyampaikan pihaknya menyiapkan Rp 400 juta untuk revitalisasi pertanian apel tahun 2025 ini. Program ini bertujuan mempertahankan apel sebagai komoditas unggulan dan meningkatkan kembali produktivitas petani yang terdampak.
Baca Juga : Efisiensi Anggaran Kementerian Perdagangan, Pemkot Batu Sebut Tak Pengaruhi Ekspor dan UMKM
Nilai anggaran tersebut diketahui menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 800 juta. Di samping itu, Heru mengungkapkan bahwa revitalisasi pertanian apel mendapat dukungan dari pemerintah pusat.
"Tahun lalu kami juga mendapatkan bantuan sekitar Rp 400-600 juta untuk mendukung sarana dan prasarana pertanian, termasuk penyediaan pupuk organik," ujar Heru, Senin (17/2/2025).
Dikatakannya, revitalisasi lahan apel ini mencakup tujuh lokasi utama yang mayoritas berada di Kecamatan Bumiaji. Program ini difokuskan pada peremajaan pohon apel, perbaikan sistem budidaya, serta pengurangan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
"Apel itu kan merupakan ikon Kota Batu. Jadi, bagaimanapun harus tetap kita pertahankan. Kami juga dibantu teman-teman petani apel, banyak kok, walaupun mereka merasa rugi tetapi mereka tetap bertahan. Walaupun dulunya di 2017 itu lahan apel sekitar masih 1.800 an hektare, sekarang tinggal 900 an hektare saja," jelasnya.
Data Distan-KP menunjukkan, produksi apel di Kota Batu mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada triwulan pertama 2020, produksi apel masih mencapai 72.274 kuintal dari 1.569.145 pohon yang ada. Namun, pada triwulan kedua tahun yang sama, jumlahnya merosot menjadi 43.652 kuintal dari 1.119.100 pohon.
Pohon produktif jumlahnya terus menyusut. Dari 602.190 pohon produktif pada awal 2020, hanya tersisa 335.717 pohon di triwulan kedua. Kondisi ini diperparah dengan lahan perkebunan yang semakin berkurang.
Heru berujar, tahun 2017 luas lahan apel di Kota Batu masih sekitar 1.800 hektare. Sedangkan tahun 2020 luasnya menyusut menjadi 1.200 hektare, kemudian turun lagi menjadi 1.092 hektare di tahun 2022, dan hanya tersisa 1.044 hektare pada tahun 2023.
Baca Juga : Polres Batu Selidiki Dugaan Pemerasan Melibatkan Oknum LSM dan Wartawan
"Selain faktor cuaca, banyak lahan apel di Kota Batu yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Produktivitasnya pasti menurun. Di masa lalu, petani juga cenderung menggunakan pupuk kimia dan obat-obatan secara berlebihan, yang akhirnya merusak kesuburan tanah," tutur Heru.
Heru berujar, menurunnya produktivitas apel tidak hanya terjadi di Kota Batu, tetapi juga di daerah lain seperti Pasuruan dan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Ia menyebut perubahan iklim sebagai salah satu faktor utama yang memperburuk kondisi pertanian apel.
Heru menambahkan, Distan-KP Kota Batu juga mulai mendorong penggunaan pupuk organik. Dengan begitu diharapkan bisa memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kembali hasil panen apel dalam jangka panjang.
"Selain bantuan sarana dan prasarana, juga dilakukan edukasi kepada petani mengenai metode budidaya yang lebih ramah lingkungan. Harapannya dapat memperbaiki kualitas tanah dan membuat produksi apel kembali stabil," imbuhnya.
