JATIMTIMES - Deretan bencana yang terus bermunculan di berbagai wilayah Indonesia seolah menjadi sinyal dari alam. Setiap hari, berita tentang banjir, tanah longsor hingga gempa mengingatkan kita bahwa bumi tidak lagi baik-baik saja.
Khutbah Jumat 28 November 2025 kali ini mengajak umat untuk merenung kembali, sudah sejauh mana kepedulian kita menjaga lingkungan demi masa depan generasi mendatang?
Baca Juga : Unikama Siapkan Generasi Bebrilliant Menyambut PMB 2026/2027
Khutbah I
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا نِعَمًا، وَأَظْهَرَ فِي الْكَوْنِ آيَاتٍ تُذَكِّرُنَا حِكَمًا، وَبَسَطَ لَنَا فِي الْأَرْضِ خَيْرًا نَجْنِيهِ فَهْمًا، وَنَبَّهَنَا إِلَى مَا نُحْدِثُهُ فِيهَا رَشَدًا وَاهْتِمَامًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا وَوَعْيًا وَالْتِزَامًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي هَدَانَا نُورًا وَرَحْمَةً وَسَلَامًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى ،
وَقَدْ قَالَ:وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Jemaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Mari kita panjatkan segala puji kepada Allah Swt, Tuhan yang terus melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita tanpa henti. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, sosok pembawa risalah kebenaran dengan akhlaknya yang agung dan penuh kasih, serta kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umat Islam yang senantiasa mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Marilah kita memperkuat ketakwaan kepada Allah Swt dengan meningkatkan amal kebaikan yang diridhai-Nya dan menjauhi segala larangan yang telah ditetapkan-Nya. Setiap perbuatan kita berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah Swt, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Maidah ayat 8:
وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Jika kita memperhatikan kondisi alam di negeri kita saat ini, terlihat begitu banyak perubahan yang memprihatinkan. Sungai yang dulunya bersih berubah menjadi keruh penuh limbah. Udara yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini tercemar polusi. Hutan yang dahulu subur dan menjadi tempat berkembang biaknya makhluk hidup, sedikit demi sedikit musnah karena penebangan massal tanpa upaya penanaman kembali.
Semua kerusakan ini muncul akibat kelalaian manusia dalam menjaga bumi. Ketika yang dikejar hanyalah keuntungan sesaat, ketika kerakusan mengalahkan kepedulian, dan ketika nafsu lebih mendominasi daripada rasa tanggung jawab, maka alam pun memberi peringatan.
Allah Swt telah menjelaskan bahwa kerusakan yang tampak di darat maupun di laut tidak terjadi begitu saja, tetapi merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri agar kita kembali sadar dan memperbaiki diri. Hal ini dijelaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ كَالْجَدْبِ وَالْمَوْتَانِ وَكَثْرَةِ الْحَرْقِ وَالْغَرَقِ وَإِخْفَاقِ الْغَاصَّةِ وَمَحْقِ الْبَرَكَاتِ وَكَثْرَةِ الْمَضَارِّ، أَوِ الضَّلَالَةِ وَالظُّلْمِ وَقِيلَ الْمُرَادُ بِالْبَحْرِ قُرَى السَّوَاحِلِ، وَقُرِئَ: وَالْبُحُورِ. بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ بِشُؤْمِ مَعَاصِيْهِمْ أَوْ بِكَسْبِهِمْ إِيَّاهُ
Artinya: “(Kerusakan di darat dan di laut) itu tampak dalam bentuk kekeringan, kematian, banyaknya kebakaran dan tenggelam (banjir atau tsunami), gagalnya usaha, hilangnya keberkahan, meningkatnya mudarat (kesialan), atau berupa kesesatan dan kezaliman. Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laut adalah desa-desa pesisir, dan terdapat pula qira’ah dengan lafaz al-buhur. (Semua itu) disebabkan oleh apa yang diperbuat tangan manusia yakni karena buruknya dampak maksiat mereka atau karena perbuatan mereka sendiri.”
Menurut Al-Baidhawi dalam Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil juz 4 halaman 208, makna fasad yang disebut dalam ayat ini mengarah kepada berbagai bencana alam, mulai dari kekeringan, kematian, banyaknya kebakaran dan tenggelam (seperti banjir atau tsunami), gagalnya usaha, hilangnya keberkahan, meningkatnya mudarat, atau munculnya kesesatan dan kezaliman. Semua itu terjadi karena pengaruh dari kemaksiatan manusia atau akibat tingkah laku mereka sendiri.
Jemaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Fenomena kerusakan lingkungan kini semakin kerap terjadi. Banjir datang lebih sering, udara tidak lagi sejuk, hutan menyempit, dan polusi menjalar di berbagai wilayah. Bencana-bencana ini seakan menjadi peringatan bagi kita untuk menilai kembali sikap kita terhadap lingkungan.
Allah Swt berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 30:
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
Artinya: “Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri, dan (Allah) mengampuni banyak (kesalahan kalian).”
Baca Juga : Jumat Wage 28 November 2025 Bikin Dompet Menipis? Cek Ramalannya di Sini
Menurut Az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir juz 25 halaman 72, berbagai bencana yang menimpa manusia, seperti sakit, kekeringan, banjir, petir, hingga gempa, sering kali merupakan konsekuensi dari tindakan manusia terhadap alam.
Dan kita sedang melihat langsung akibat itu terjadi di sekitar kita. Saat ini, beberapa wilayah di Sumatera, seperti Aceh, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Pulau Nias hingga Padang sedang dilanda banjir bandang. Banyak daerah terisolasi, akses jalan terputus, listrik padam, dan masyarakat harus mengungsi serta kehilangan tempat tinggal.
Semoga Allah memberikan kesabaran, perlindungan, dan kekuatan kepada seluruh korban. Kita berdoa agar air segera surut, kondisi segera pulih, dan aktivitas masyarakat bisa kembali seperti semula. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Kita harus sadar bahwa kerusakan lingkungan adalah takdir yang tidak dapat dihindari. Kerusakan ini juga terjadi karena sikap kita sebagai khalifah di bumi ini. Pasalnya saat keseimbangan alam diganggu, maka bencana kembali kepada manusia sebagai teguran.
Rasulullah Saw mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللّٰهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Artinya: “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sungguh, Allah menjadikan kalian sebagai pengelola (khalifah) di dalamnya untuk melihat bagaimana kalian beramal. Maka berhati-hatilah terhadap godaan dunia, dan berhati-hatilah terhadap godaan perempuan, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada urusan perempuan.” (HR. Muslim)
Oleh sebab itu, menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari ibadah dan wujud ketakwaan kepada Allah Swt. Mulailah dari langkah yang sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menanam pohon, mengurangi sampah, dan menghentikan perbuatan yang merusak bumi.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang amanah dalam merawat bumi, serta melindungi kita dari segala bencana. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ