JATIMTIMES - Memasuki bulan Safar, masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkannya dengan berbagai anggapan tentang kesialan.
Keyakinan semacam ini telah berlangsung turun-temurun. Padahal Islam mengajarkan bahwa tidak ada satu pun bulan yang membawa keberuntungan ataupun kesialan dengan sendirinya. Semua waktu merupakan ciptaan Allah SWT yang memiliki kesempatan yang sama untuk diisi dengan amal saleh.
Baca Juga : MIN 1 Kota Malang Jadikan Matamuda Instrumen Awal Menanamkan Karakter, Bukan Sekadar Masa Orientasi
Khutbah Jumat kali ini mengajak umat Islam meluruskan pemahaman tentang bulan Safar sesuai tuntunan syariat. Safar bukanlah bulan yang patut ditakuti, melainkan momentum untuk semakin meningkatkan ibadah, memperbanyak amal kebajikan, dan menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan.
Kebaikan akan mendatangkan keberkahan bagi siapa pun yang mengerjakannya, sedangkan kelalaian dan maksiat akan membawa dampak buruk bagi pelakunya, kapan pun dan di bulan apa pun.
Melalui tema ini, jemaah diharapkan dapat meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam, sekaligus menjadikan bulan Safar sebagai kesempatan untuk memperkuat ketakwaan dan memperbanyak amal yang diridhai Allah SWT.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. أَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ أَوَّلاً بِتَقْوَى اللهِ تَعَالىَ وَطَاعَتِهِ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang menjadi bekal terbaik dalam perjalanan hidup, yang menjaga kita dari azab-Nya, sekaligus mengantarkan kita meraih cinta Allah dan kemuliaan di sisi-Nya. Karena itu, marilah kita istiqamah menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ
Artinya: "Berbekallah kamu, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal." (QS Al-Baqarah [2]: 197).
Hadirin jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kini kita berada di bulan Safar, bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Di tengah masyarakat, masih ada anggapan bahwa Safar adalah bulan yang membawa kesialan. Tidak sedikit yang enggan menikah, bepergian jauh, ataupun memulai usaha pada bulan ini karena khawatir tertimpa musibah.
Keyakinan semacam ini sesungguhnya tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Bahkan Rasulullah SAW telah meluruskannya melalui sabda beliau:
لَا عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلا هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ
Artinya: "Tidak ada penularan penyakit yang terjadi dengan sendirinya tanpa kehendak Allah, tidak ada ramalan kesialan, tidak ada keyakinan tentang burung pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar. Namun jauhilah penderita kusta sebagaimana engkau menghindari singa." (HR Bukhari).
Melalui hadis ini, Rasulullah SAW menolak keyakinan masyarakat jahiliyah yang menganggap Safar sebagai bulan pembawa malapetaka. Islam hadir untuk membersihkan akidah umat dari berbagai bentuk tahayul, mitos, dan keyakinan yang tidak memiliki landasan wahyu.
Sesungguhnya tidak ada satu pun bulan yang membawa sial. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Yang membedakan hanyalah bagaimana manusia mengisinya dengan amal saleh ataupun perbuatan maksiat.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Bagi orang yang taat, bulan Safar dapat menjadi bulan yang penuh keberkahan. Sebaliknya, bagi mereka yang gemar bermaksiat, bukan hanya Safar, bahkan seluruh waktu bisa menjadi sebab datangnya kesempitan hidup. Kesialan bukan muncul karena nama bulan, melainkan akibat ulah manusia sendiri.
Allah SWT berfirman:
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ
Artinya: "Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah akibat perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu." (QS Asy-Syura: 30).
Dari ayat ini disimpulkan bahwa musibah yang menimpa seseorang tidak disebabkan oleh hari ataupun bulan tertentu, melainkan karena dosa dan kelalaian manusia. Karena itu, siapa yang senantiasa taat kepada Allah, setiap waktu akan menjadi kesempatan memperoleh keberkahan. Sebaliknya, orang yang terus bergelimang maksiat akan merasakan kesempitan hidup kapan saja.
Sejalan dengan makna tersebut, Imam Ibnu Rajab dalam kitab Lathaiful Ma'arif fi Ma li Mawasimil 'Am minal Wazhaif berkata:
فَكُلُّ زَمَانٍ شَغَلَهُ المُؤْمِنَ بِطَاعَةِ الله فَهُوَ زَمَانٌ مُبَارَكٌ عَلَيْهِ وَكُلُّ زَمَانٍ شَغَلَهُ العَبْدَ بِمَعْصِيَةِ الله فَهُوَ مَشْؤُمٌ عَلَيْهِ
Artinya: "Setiap waktu yang digunakan seorang mukmin untuk taat kepada Allah, maka waktu itu menjadi waktu yang penuh berkah baginya. Sebaliknya, setiap waktu yang diisi dengan kemaksiatan kepada Allah, maka waktu itu menjadi waktu yang membawa kesialan baginya."
Hadirin yang dirahmati Allah,
Baca Juga : Malvinas Jadi Sorotan usai Argentina Kalahkan Inggris, Ini Sejarah Perebutannya
Sejarah juga menunjukkan bahwa bulan Safar justru menyimpan banyak peristiwa mulia. Di antaranya adalah hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah. Hijrah tersebut menjadi awal lahirnya peradaban Islam yang kokoh. Jika Safar benar-benar bulan sial, tentu Allah tidak akan memilih waktu itu sebagai momentum besar dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW.
Demikian pula para ulama salaf. Mereka tidak pernah menghentikan aktivitas karena datangnya bulan Safar. Mereka tetap belajar, berdagang, menikah, berdakwah, bahkan berjihad. Mereka memahami bahwa keberuntungan dan keberkahan sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, bukan ditentukan oleh nama suatu bulan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Karena itu, marilah kita menjadikan bulan Safar sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Bila hidup terasa berat, jangan tergesa-gesa menyalahkan waktu, keadaan, ataupun nasib. Sebaliknya, hendaknya kita melakukan muhasabah.
Boleh jadi kita masih lalai menjaga kejujuran dalam bermuamalah. Bisa jadi salat masih sering kita akhirkan. Mungkin lisan kita masih menyakiti sesama, atau mata, telinga, dan hati kita masih mudah terjerumus dalam kemaksiatan.
Safar semestinya menjadi pengingat bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk kembali kepada jalan-Nya. Barang siapa memperbanyak ketaatan, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan.
Sebaliknya, siapa yang terus membangkang, maka akibat buruk dari perbuatannya akan selalu mengiringinya.
Allah SWT berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: "Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, maka Kami menyiksa mereka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS Al-A'raf: 96).
Ayat ini mengingatkan bahwa sumber keberkahan adalah iman dan takwa, bukan karena memilih hari atau bulan tertentu.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam datang membimbing manusia agar terbebas dari belenggu tahayul dan kepercayaan yang tidak benar. Seorang muslim diajarkan menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT, bukan kepada ramalan maupun anggapan tentang kesialan.
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ: اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ
Artinya: "Barang siapa mengurungkan niatnya karena menganggap suatu pertanda sebagai kesialan, maka sungguh ia telah berbuat syirik." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa kafarahnya?" Beliau menjawab, "Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, tidak ada kebaikan selain kebaikan dari-Mu, tidak ada kesialan selain yang Engkau tetapkan, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau." (HR Ahmad).
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Demikianlah khutbah pada hari ini. Mudah-mudahan Allah SWT meneguhkan keyakinan kita sehingga tidak mudah terpengaruh oleh mitos maupun kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada kami di bulan Safar ini. Jadikanlah bulan ini sebagai waktu yang dipenuhi rahmat, taufik, dan kemudahan. Jauhkan kami dari keburukan akibat dosa-dosa kami sendiri. Bimbinglah kami agar senantiasa berada di jalan ketaatan, serta wafatkanlah kami dalam keadaan beriman dan husnul khatimah. Amin ya Rabbal 'alamin.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ