JATIMTIMES - Di ambang keselamatan, seorang hamba merangkak keluar dari neraka, letih, hangus, dan tersisa hanya secuil harapan. Tubuhnya bergerak menjauhi azab, tetapi wajahnya seolah terpaku pada kobaran yang baru ditinggalkan.
Angin panas masih menyambar pipinya, membuatnya gemetar meski pintu surga sudah menanti. Dalam keadaan rapuh itulah ia berdoa, memohon agar Allah memalingkan wajahnya dari neraka yang membuatnya ngeri hanya dengan melihatnya.
Baca Juga : Heboh Isu Inara Rusli Diduga Jadi Selingkuhan, Unggahan Seorang Influencer Bikin Gempar Media Sosial
Dr. Umar Sulaiman Al-Asygar, dalam Ashash al-Ghaib fii Shahih al-Hadits an-Nabawi, menggambarkan bagaimana hamba itu memohon dengan suara yang nyaris patah: ia meminta agar pandangannya dijauhkan dari api yang hembusannya menyiksa dan kobarannya membakar. Doanya tak berhenti. Ia terus meminta sampai Allah bertanya kepadanya, “Jika Aku kabulkan ini, apakah engkau masih akan meminta yang lain?”.
Dengan tergesa sekaligus takut, ia bersumpah tidak. Ia menyerahkan janji, sumpah, dan bukti apa pun yang Allah kehendaki. Dan Allah pun memalingkan wajahnya dari neraka, memberi sekat antara dirinya dan azab itu, sekat yang lebih menenangkan daripada seluruh harapan yang pernah ia miliki.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Dari kejauhan, ia melihat surga: cahaya yang menyejukkan, sungai-sungai yang mengalir tenang, taman-taman rimbun, dan para penghuninya yang hidup dalam kebahagiaan yang tak bisa ia bayangkan. Keindahan itu seolah mengetuk pintu hatinya, membuat janji yang ia ucapkan tadi mulai terasa goyah.
Rasa ingin tahunya tumbuh, lalu berubah menjadi keinginan. Dan keinginan itu, pelan-pelan, menjadi permohonan. Ia kembali berdoa, meminta agar Allah mendekatkannya ke pintu surga.
Allah menegurnya, tajam tapi adil. “Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta lagi? Betapa mudah engkau mengingkari, wahai anak Adam.”
Namun manusia tetap manusia. Meski ditegur, ia tetap memohon. Ia bersumpah lagi bahwa itu adalah permintaan terakhir. Dengan rahmat-Nya yang tak pernah kering, Allah mengizinkannya berdiri di depan pintu surga.
Dan di sana, dari ambang pintu, keinginannya benar-benar pecah. Ia melihat kenikmatan surga lebih jelas: kesejukan udara, semerbak harum taman, aliran sungai yang damai, kebahagiaan penghuninya. Pemandangan itu membuat kesabarannya runtuh total. Ia ingin bukan hanya dekat, tetapi masuk.
Ia kembali memohon. Lagi. Meski ia baru dua kali mengikrarkan janji yang sama. Allah menegurnya sekali lagi, menyebut janjinya gombal. Namun hamba itu tetap bersimpuh, tetap berharap, tetap ingin melangkah ke dalam surga.
Baca Juga : Mengarungi Laut demi Satu Ayat: Keteguhan Abu Thalhah di Ujung Usia
Pada titik inilah hadis itu menyentuh: Allah tertawa melihat keadaan hamba yang penuh keinginan, penuh kerinduan, dan penuh janji yang mudah retak. Tawa ilahi itu bukan ejekan, melainkan tanda rahmat. Sebab Rasulullah SAW menyebut, siapa yang Allah tertawakan, ia pasti mendapat keberuntungan besar.
Lalu Allah berkata kepadanya:
“Masuklah ke dalam surga.”
Maka tamatlah penderitaannya. Doanya terjawab. Deritanya tersapu bersih. Rahmat Allah turun kepadanya dengan kelembutan yang tak terbayangkan.
Firman-Nya menegaskan keberuntungan itu:
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung.” (QS Ali Imran: 185)
Saat ia sudah berada di surga, Allah memintanya untuk berharap, meminta apa pun yang ia inginkan. Ia menyebut satu demi satu angan, sampai tidak tersisa lagi keinginan di lidah maupun hati. Barulah Allah berfirman: “Semua itu milikmu, dan Aku tambahkan sepertinya, bahkan sepuluh kali lipat.”
Sebagaimana diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri dari hadis Abu Hurairah, limpahan nikmat itu adalah bagian dari janji Nabi kepada umatnya yang mendapatkan ridha Allah di akhir perjalanan.