JATIMTIMES - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang segera melakukan pembangunan plengsengan pada tebing di kawasan SDN 3 Jedong. Upaya penanganan darurat tersebut dilakukan lantaran sejumlah bangunan termasuk dinding sekolahan yang ada di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang tersebut telah mulai rusak akibat berada bersebelahan dengan tebing yang mulai terkikis.
Keluhan tersebut juga turut disampaikan oleh Kepala Sekolah SDN 3 Jedong Sugiarto. Ia menyebut, kondisi tebing yang rawan mengakibatkan bencana lantaran turut terkikis hujan tersebut telah terjadi sejak beberapa tahun silam.
Baca Juga : WAMI Tetap Tagih Royalti Meski Musisi Gratiskan Lagu, Kafe di Malang dan Batu Pilih Aman
"Semenjak saya masuk sini (jadi Kepala Sekolah SDN 3 Jedong) pada tahun 2022, itu kondisinya sudah seperti ini," ujarnya saat ditemui JatimTIMES.
Dari pantauan di lokasi, nampak tebing setinggi sekitar 12 meter dengan panjang 35 meter yang berada tepat di belakang bangunan sekolah. Di mana, jarak tebing dengan bangunan sekolah tersebut hanya sekitar 2 meter. Sementara di bawah tebing, terdapat permukiman warga yang cukup padat penghuninya.
Kondisi itulah yang tergolong sangat mengkhawatirkan baik bagi bangunan sekolah maupun rumah warga. Sebab, saat ini sejumlah dinding bangunan sekolah yang bersebelahan dengan area tebing tersebut juga telah retak. Sehingga, sewaktu-waktu bisa terjadi longsor yang dapat mengakibatkan bangunan sekolah roboh dan menimbun permukiman warga yang ada di bawahnya.
"Kondisi tebing yang ada di belakang SDN 3 Jedong semakin hari semakin mengkhawatirkan. Ditakutkan nanti kalau sudah musim hujan, bambu yang ada di belakang sekolah ini bisa longsor. Akhirnya menimpa permukiman yang ada di bawahnya," ujar Sugiarto.
Menanggapi hal itu, pihak sekolah sempat mengadu ke sejumlah dinas terkait. Termasuk ke Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Hingga akhirnya, aduan tersebut tersampaikan ke Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang yang memang memiliki kewenangan.
"Kami sebenarnya juga telah menyampaikan ke Dinas Pendidikan, kemudian disampaikan bahwa untuk plengsengan itu bukan ranahnya, tapi di Cipta Karya," ujarnya.
Petunjuk tersebut kemudian oleh pihak sekolah dikoordinasikan dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Jedong. Gayung bersambut, upaya dari pihak desa dan sekolahan tersebut akhirnya turut ditanggapi langsung oleh Bupati Malang HM. Sanusi.
"Kemudian kemarin (Minggu, 24/8/2025) Pak Bupati rawuh (datang meninjau) ke sini," tutur Sugiarto.
Sebagaimana diberitakan, Bupati Malang diagendakan melakukan peninjauan bersama sejumlah pihak terkait. Termasuk Kepala DPKPCK Kabupaten Malang Budiar.
Baca Juga : Rapat Paripurna DPRD Jatim Banjir Interupsi, Wagub Emil: Ini Proses Demokrasi yang Baik
Pada serangkaian peninjauan tersebut, Bupati Malang akhirnya memberikan atensi kepada DPKPCK Kabupaten Malang untuk segera melakukan penanganan darurat. Yakni pembangunan plengsengan guna mencegah terjadinya bencana.
Dari hasil peninjauan itulah yang kemudian juga diketahui jika sejumlah bangunan sekolah telah mulai terdampak akibat terkikisnya tebing. Yakni ditemukan sejumlah retakan pada beberapa bagian dinding bangunan sekolah.
"Akhir-akhir ini airnya yang mengalir ke sini sudah berkurang, karena ada bangunan rumah di sana (sekitar sekolahan). Kalau dulu, air langsung mengalir dari ladang ke sekolah. Sehingga kami bangun drainase agar airnya tidak mengalir ke mana-mana dan mengakibatkan tebing semakin terkikis," bebernya.
Selama ini, diakui Sugiarto, para siswa telah dilarang untuk berada di kawasan tebing. Bahkan, pihaknya bersama para guru setiap jam istirahat selalu mengawasi anak didiknya agar tidak bermain di kawasan tebing.
"Selama ini tidak ada siswa yang main ke sini, kami larang, karena memang dapat membahayakan, terlalu curam. Alhamdulillah sejauh ini juga tidak pernah terjadi bencana meski sudah sangat terkikis," imbuhnya.
Sugiarto berharap, pembangunan plengsengan sebagai upaya penanganan darurat bisa segera terealisasi. Sehingga pihak sekolah terutama para siswa di SDN 3 Jedong dengan total sekitar 145 siswa tersebut bisa aman dan tenang saat beraktivitas di sekolah.
"Waktu ditinjau, Pak Bupati juga telah berkoordinasi dengan pihak Cipta Karya, termasuk Inspektorat, untuk kelanjutannya kami masih menunggu. Semoga bisa segera terealisasi," pungkas Sugiarto.