JATIMTIMES - Memiliki perut buncit, khususnya bagi kaum hawa, ternyata mempunyai risiko tinggi terhadap pernyakit kanker. Hal ini dibuktikan dengan adanya studi terbaru dari Korea Selatan pada 22 Agustus 2025.
Studi terbaru ini dirilis dari South Korean National Health Insurance Service yang dibeberkan ilmuwan sekaligus doktor Felix Zulhendri. Felix mengatakan studi ini bertujuan untuk meneliti apakah paparan obesitas abdominal (kondisi penumpulan lemak) secara kumulatif pada wanita muda berhubungan dengan perkembangan kanker endometrium.
Baca Juga : Pemkot Surabaya Terapkan Tiga Strategi Optimalisasi Aset Daerah
“Dalam studi terbaru dari negara yang dikenal sebagai K-POP (Korean-POP), perut buncit menaikkan risiko kanker pada wanita,” ujar Felix, Senin (25/8/2025).
Penelitian tersebut juga dilakukan kepada wanita berusia 20–39 tahun dengan jumlah hampir 450 ribu orang. Mereka pun telah menyelesaikan empat kali pemeriksaan kesehatan tahunan berturut-turut antara tahun 2009 hingga 2012.
Mereka yang menjalani pemeriksaan ini dan tidak memiliki riwayat kanker pada awal penelitian. “Studinya dilakukan pada hampir 450 ribu orang wanita ya. Jadi, bukan data kecil-kecilan,” ujar Felix.
Partisipan dikategorikan ke dalam lima kelompok berdasarkan jumlah paparan obesitas abdominal (lingkar pinggang ≥85 cm. Jumlah paparan berkisar antara 0 hingga 4, menunjukkan frekuensi obesitas abdominal dalam empat pemeriksaan kesehatan selama 4 tahun.
Yang diamati adalah diagnosis baru kanker endometrium, yang dipantau hingga tahun 2020 dengan masa tindak lanjut rata-rata 7,5 tahun. Kanker endometrium merupakan kanker yang tumbuh pada lapisan dalam rahim.
Baca Juga : Jangan Biasakan Makan Malam Terlalu Larut, Ini 5 Risikonya untuk Kesehatan
ÞInsidensi kanker endometrium meningkat secara progresif seiring dengan bertambahnya paparan obesitas abdominal. Menurut Felix, risikonya bukan hanya jenis kanker endometrium saja dan bukan hanya pada wanita.
“Jadi, bukan hanya terjadi pada wanita. Tapi obesitas dan perut buncit sudah ditunjukkan sebagai faktor risiko di kanker payudara, kolon, pankreas dan lain-lain,” tutup Felix.