JATIMTIMES - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mulai menggandeng pihak perguruan tinggi (PT) untuk terus menekan angka stunting. Setidaknya ada sebanyak 27 perguruan tinggi yang akan dilibatkan dalam upaya tersebut.
Keputusan untuk melibatkan perguruan tinggi ini juga menyusul meningkatnya prevalensi stunting berdasarkan survey status gizi Indonesia (SSGI). Dimana berdasarkan hasil survey tahun 2024 lalu, prevalensi stunting di Kota Malang sebesar 22,4 persen.
Baca Juga : Angka Harapan Hidup di Surabaya Tinggi, 640 Lansia Ikuti Senam di Balai Kota
Sedangkan pada tahun 2023 lalu, prevalensi stunting di Kota Malang sebesar 17 persen. Itu artinya ada peningkatan sekitar 5 persen. Pelibatan perguruan tinggi akan dilakukan dalam bentuk pengabdian masyarakat melalui program Kampus Bergerak Peduli Stunting (Kabar Penting).
"Kita buat satu pola bagaimana perguruan tinggi di Kota Malang yang basis kesehatan mampu berperan aktif dalam peduli stunting ini. Melalui Kabar Penting, perguruan tinggi terlibat di dalam pembinaan, pemantauan di wilayah," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Husnul Muarif.
Ada sejumlah program studi (prodi) di bidang kesehatan yang dilibatkan dalam program tersebut. Yakni kedokteran, kebidanan, keperawatan, kesehatan masyarakat, dan juga gizi.
Rencananya, masing-masing perguruan tinggi akan membina 2-3 kelurahan. Selanjutnya untuj dilakukan evaluasi pada 2 bulan sekali, termasuk di akhir tahun.
"Nanti kolaborasi tentang bagaimana asuhan keperawatannya, asuhan kebidanannya, atau bagaimana pembinaan pada balita stunting yang mempunyai gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Makanya kita juga libatkan organisasi profesi," tuturnya.
Salah satu kelurahan yang menjadi atensi ialah Mergosono yang menempati kasus stunting tertinggi di Kota Malang. Jumlah tim pengmas yang dikerahkan oleh perguruan tinggi pun akan disesuaikan dengan kondisi di setiap kelurahan.
Baca Juga : Tidak Terlhat Tumpukan Sampah Pasca Event JFC, Bukti Kesigapan DLH Jember
"Rencananya dimulai bulan Agustus 2025 ini. Sekarang konsepnya supaya mereka punya satu pemikiran dengan kita sehingga masing-masing sudah punya program kerja di wilayah," jelasnya.
Melalui program tersebut, ditargetkan angka stunting di Kota Malang dapat turun menjadi 14-17 persen saat survei SSGI untuk tahun 2025. Termasuk untuk memenuhi kebutuhan tenaga agar upaya penekanan angka stunting dapat semakin maksimal.
"Dari sisi tenaga kesehatan, kami sudah pembinaan, tapi terbatas untuk Posyandu dan areanya. Kampus punya Tri Dharma Perguruan Tinggi, akan menerjunkan mahasiswa semester atas yang sudah punya dasar kuat atau pengetahuan tentang stunting," pungkasnya.