free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Profil

Kartini di Jalanan: Kisah Supeltas Perempuan Berkebaya

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Dede Nana

21 - Apr - 2026, 10:28

Loading Placeholder
Sukarni (55), Supeltas di Jalan Soekarno-Hatta yang mengenakan kebaya saat momen Hari Kartini sejak 6 tahun lalu (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pagi baru saja merekah di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang. Deru mesin kendaraan saling bersahutan, klakson bersilang, dan langkah warga berpacu dengan waktu. Di tengah riuh itu, berdiri seorang perempuan berkebaya, menggenggam peluit, mengayunkan tangan dengan tegas namun penuh kelembutan. Dialah Sukarni (55), Supeltas yang setia menjaga simpang jalan dengan sepenuh hati.

Di momen Hari Kartini, kehadirannya terasa berbeda. Kebaya yang ia kenakan bukan sekadar busana, melainkan simbol keteguhan dan cinta pada peran yang ia jalani. Sambil sesekali meniup peluit dan memberi aba-aba, Sukarni berbagi makna tentang hari istimewa itu.

Baca Juga : Mengapa Kebaya Identik dengan Hari Kartini? Ini Sejarah, Makna, dan Filosofinya

“Untuk memperingati Hari Kartini, tanggapannya ya, ya harus luar biasa sebagai kaum wanita bagi kaum wanita semuanya di seluruh Indonesia,” ucap Sukarni, di sela arus kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti.

Baginya, Hari Kartini adalah pengingat bahwa perempuan harus kuat, teguh, dan terus melangkah maju. Di tengah panas aspal dan kepulan debu jalanan, ia merawat keyakinan itu dalam diam yang bekerja.

“Ya, istimewa ya. Istimewa menunjukkan, ya seperti tadi, kaum wanita itu harus berpendirian teguh, kuat segalanya, dan kita untuk maju ke depannya sesuai dengan apa yang diharapkan kaum wanita Indonesia,” katanya.

Jarum jam belum lama meninggalkan pukul enam pagi saat Sukarni sudah berdiri di titiknya. Sejak selepas Subuh, ia telah bersiap. Kebaya sudah dipilih beberapa hari sebelumnya, dijahit dengan tangannya sendiri. Rias wajah sederhana, secukupnya. Tak ada yang berlebihan, semua mengalir apa adanya.

“Kalau dandan sih ya paling nggak sekitar selesai Subuh lah. Selesai Subuh kita, sebelumnya kalau masalah kebaya sudah kita siapkan seminggu atau beberapa hari, karena pakaian selalu ada. Kalau cuma makeup saja ya seadanya sebagai emak-emak kan biasa saja,” tutur Sukarni tersenyum ringan.

Kebaya itu telah ia kenakan setiap 21 April, selama bertahun-tahun menjadi Supeltas. Bahkan saat dulu tak ada yang melakukan hal serupa, ia tetap melangkah dengan pilihannya sendiri.

“Saya setiap tahun, selama menjadi Supeltas selalu pakai pakaian kebaya setiap tanggal 21 April. Jadi, dulu-dulu itu nggak pernah ada yang makai, apalagi selesai Corona ya. Jadi, saya pakai sendiri, diketawain orang, wis biasa saja. Jadi, tetep saya jalankan pakai ini,” kenangnya.

Di simpang ini, Sukarni hafal betul ritme kota. Ia tahu kapan arus mulai meninggi, kapan kesabaran pengendara diuji. Pukul 06.30 hingga 07.30 adalah waktu paling padat, ketika jalan seolah tak lagi punya ruang bernapas.

“Kalau macet itu antara jam 06.30. Jam 06.30 sampai 07.30, jam 08.00 itu kadang masih macet juga,” ujarnya, sambil mengarahkan kendaraan yang saling berebut jalan.

Namun bagi Sukarni, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini panggilan hati. Hampir 15 tahun ia bertahan, menyatu dengan jalanan, menghadapi segala kemungkinan yang tak selalu ramah.

“Kalau hambatan itu pasti ada ya, nggak mungkin kita selalu mulus-mulus saja, nggak pasti itu. Jadi ya kita harus sabar saja,” katanya lirih.

Ia tahu betul bagaimana wajah jalanan yang sebenarnya. Dari pengendara yang taat hingga yang abai, dari momen tenang hingga kecelakaan yang tak terduga. Semua ia hadapi dengan kesabaran yang tak banyak terlihat, namun terasa.

Baca Juga : Hukum Menyakiti Diri dalam Islam: Larangan Tegas dan Konsekuensinya dalam Al-Qur’an dan Hadis

Di balik semua itu, ada pelatihan dan kedisiplinan yang ia pegang. Ia bukan sekadar meniup peluit, tetapi juga membawa nilai-nilai yang diajarkan.

“Kita kalau resmi setiap bulan sekali selalu ada pelatihan. Di samping ada pelatihan, nanti kita dikasih wawasan, jadi bukan hanya sekadar untuk prit-prit-prit ya, itu nggak. Kita diberi baju, seragam, jadi bisa membedakan antara yang resmi sama yang nggak resmi. Kalau masalah yang resmi, kita anak didik dari Polres selalu dididik. Jadi kita 5S itu harus salam, senyum, sapa, sopan, santun, itu tetap kita terapkan di jalan,” jelasnya.

Hari itu, di antara deru kendaraan, Sukarni menerima setangkai bunga dari pengguna jalan. Sebuah gestur sederhana, namun menghangatkan hati yang telah lama akrab dengan kerasnya jalanan.

“Iya, alhamdulillah. Ya, itu tadi ada ya orang jalan aja, terus minta foto, ‘Bu, di sini dulu ya, jangan pulang.’ ‘Oh iya.’ Baru dikasih bunga,” katanya.

“Alhamdulillah, seneng-seneng sekali. Tahun kemarin juga dapat bunga, semenjak ya semenjak sebelum Corona itu lho. Kalau dulu ya nggak dapat apa-apa, dapat ketawaan. Tapi suka dukanya memang seneng banget,” lanjutnya, matanya berbinar.

Sukarni tak pernah punya alasan rumit untuk bertahan. Semua berawal dari hati yang tergerak melihat kemacetan yang tak kunjung usai.

“Karena di samping hati nurani ya. Hati nurani terketuk terus melihat kemacetan di Malang itu kok luar biasa. Terus gimana caranya supaya nggak macet, terutama di Suhat pagi itu kan rawan banget,” ujarnya.

Di Hari Kartini, dari tengah simpang yang riuh, ia juga menitipkan pesan sederhana untuk generasi muda. Tentang semangat, tentang harapan, tentang keyakinan bahwa setiap langkah punya arti.

“Oh iya. Pesan saya, harus satu, patuh orang tua pasti ya. Terus maju terus dan semangat. Kerjakan apa yang menurut kalian bisa. Jangan putus asa. Semua pasti bisa,” pesannya.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Dede Nana

Profil

Artikel terkait di Profil

--- Iklan Sponsor ---