JATIMTIMES - Penutupan total Jalur Gumitir yang menghubungkan Jember-Banyuwangi sejak 24 Juli 2025 lalu menuai polemik. Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) Ubaidillah buka suara terkait hal tersebut.
"Kami minta kebijakan penutupan penuh di Jalur Gumitir ditinjau ulang, karena merugikan perekonomian rakyat," ungkap Wakil Sekretaris Fraksi PKB DPRD Jatim itu, Rabu (30/7/2025).
Baca Juga : Pemimpin Muda Penakluk Badai
Diketahui, Jalur Gumitir ditutup total sejak 24 Juli 2025 dan masih berlangsung hingga saat ini. Penutupan dilakukan karena adanya proyek perbaikan jalan dan pengamanan lereng, yang diperkirakan rampung dalam beberapa minggu ke depan.
Legislator asal Dapil Jatim IV yang meliputi wilayah Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso itu menilai, penutupan Jalur Gumitir berdampak langsung terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat di kawasan tersebut.
Ubaid menilai, tidak hanya warga Jember dan Banyuwangi yang terdampak, tetapi juga sejumlah kabupaten lain di sekitarnya. menyebut, warga Situbondo dan Bondowoso juga merasakan akibatnya.
Salah satu dampak yang paling nyata adalah kelangkaan BBM akibat tersendatnya pasokan. "Ini menimbulkan kepanikan di Situbondo, Jember, dan Bondowoso karena kelangkaan BBM," papar anggota Komisi A DPRD Jatim itu.
Karena itu, kondisi ini menjadi perhatian serius bagi Ubaidillah sebagai wakil rakyat. "Harus ada solusi konkret agar tidak semakin menyusahkan masyarakat," tegas Ubaid.
Baca Juga : Bupati Bondowoso Pantau SPBU dengan Bersepeda, Pastikan Distribusi BBM Mulai Normal
Lebih lanjut, ia mengusulkan sejumlah solusi terhadap persoalan tersebut. Ia mendorong agar pemerintah melakukan kajian lebih matang dan lebih memilih untuk menerapkan sistem tutup sebagian.
Artinya, kendaraan masih bisa melintas meski dengan kapasitas jalan yang terbatas. Hal ini untuk mengantisipasi tersendatnya kebutuhan masyarakat, khususnya terkait dengan pangan dan bahan bakar.
"Perlu jalan alternatif yang bisa mengurangi beban jalan Situbondo- Banyuwangi. Pemerintah juga harus menyediakan truk BBM yang lebih banyak di daerah Jember, Bondowoso, dan Situbondo," tandasnya.