JATIMTIMES - Sekolah Rakyat SMP (SRMP) 16 Kota Malang dan Sekolah Rakyat SMA (SRMA) 22 Kota Malang telah menjalani tes kesehatan pada awal masuk sekolah pada Senin (14/7/2025). Hasilnya didapati beberapa murid terdeteksi mengalami skabies atau penyakit kulit.
Seperti pada SRMP 16 Kota Malang, dari 100 siswanya terdapat dua siswa terdeteksi mengalami skabies. Sehingga dua siswa tersebut harus menjalani perawatan agar sembuh dari penyakit tersebut.
Baca Juga : Dispendik Gandeng Penerbit Erlangga Gelar Seminar Pembelajaran Koding dan AI serta Deep Learning
Dua siswa ini telah dirujuk untuk berobat ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) terdekat dari domisili masing-masing untuk mempermudah proses penyembuhan.
Dengan demikian dua siswa belum diizinkan untuk bergabung dan menginap di asrama hingga dinyatakan sembuh total, mencegah penularan. Hal tersebut diungkapkan Kepala SRMP 16 Kota Malang, Rida Afrilia Santi.
Rida menegaskan langkah ini diambil demi kesehatan seluruh siswa lainnya terjaga. “Mereka harus disembuhkan dulu. Kami siap menerima kembali kapan pun saat mereka sudah benar-benar sembuh,” kata Rida, Rabu (16/7/2025).
Selain tes kesehatan, para calon siswa juga langsung menjalani tes kebugaran yang dibantu oleh guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) serta tim dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Tes ini untuk mendeteksi tingkat kebugaran siswa secara umum.
“Tes kebugaran tidak untuk mendeteksi penyakit, tetapi untuk mengetahui apakah anak itu benar-benar bugar atau tidak,” imbuh Rida.
Dari hasil tes kebugaran, yang salah satu materinya adalah lari sejauh 1,6 kilometer, ditemukan seorang siswa yang memiliki riwayat asma. Hal ini pun menjadi catatan tersendiri untuk sekolah.
“Siswa yang memiliki riwayat asma ini akan menjadi catatan dan mendapat perhatian lebih dari kami,” tegas Rida.
Pihak sekolah telah menyiapkan fasilitas Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dengan obat-obatan dasar dan menjalin kerja sama dengan Puskesmas setempat untuk memastikan penanganan kesehatan siswa dapat dilakukan dengan cepat. Di sana terdapat 45 siswa laki-laki dan 55 siswi perempuan dari berbagai wilayah di Kota Malang.
Sedangkan di SRMA 22 Kota Malang dari 75 siswa ditemukan beberapa kasus penyakit kulit (skabies) dan masalah gigi. Hanya saja, pihak sekolah tetap mengizinkan siswa untuk langsung menempati asrama yang telah disediakan.
Baca Juga : MATSAMA MIN 2 Kota Malang: Gali Potensi, Bentuk Disiplin dan Tanamkan Semangat Belajar
Hal ini diungkapkan Kepala SRMA 22 Kota Malang, Rahmah Dwi Norwita Imtihana. “Hasil tes kesehatan alhamdulillah semua anak dinyatakan sehat, tidak perlu ada yang kembali karena diagnosa serius,” ungkap Wita.
Hasil tes kesehatan tersebut tidak digolongkan sebagai penyakit menular berbahaya yang menghalangi siswa untuk mengikuti program. Pihak Puskesmas setempat yang melakukan pemeriksaan telah memberikan rekomendasi penanganan.
Bagi siswa yang terindikasi skabies akan diberikan obat dan tetap bisa beraktivitas seperti biasanya karena tingkat keparahannya dinilai tidak tinggi. Untuk pengobatan siswa yang memerlukan rujukan, baik masalah gigi maupun kulit, akan ditanggung oleh pemerintah.
Dalam penanganannya dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Kota Malang melalui kepesertaan BPJS yang dimiliki oleh para siswa. “Penangannya ditanggung pemerintah. Karena anak-anak juga memegang kartu BPJS,” kata Wita.
Sementara di sekolah ini menerima 75 siswa, terdiri dari 31 putra dan 44 putri. Para siswa ini terbagi ke dalam tiga kelas. Mayoritas berasal dari Kota Malang, dengan 18 siswa lainnya berasal dari Kabupaten Malang.
Terpisah Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang Donny Sandito mengatakan tes kesehatan menjadi salah satu agenda dalam pelaksanaan MPLS pelajar Sekolah Rakyat. Kemudian ada tes kebugaran, dan tes psikologi.
Serangkaian tes yang dilakukan oleh para siswa begitu penting karena akan menjadi catatan pemberian intervensi oleh pemerintah. “Sesuai arahan Presiden dia nanti disembuhkan dulu, baru setelah itu mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat, pendanaan langsung dari Kementerian Sosial,” ujar Donny.