JATIMTIMES - Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) di MIN 1 Kota Malang resmi dimulai dengan semangat pembaruan dan komitmen kuat dalam membentuk karakter siswa sejak dini. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini bukan sekadar ajang perkenalan lingkungan madrasah, tetapi menjadi titik awal dalam menanamkan nilai-nilai keislaman, karakter kebangsaan, serta literasi digital dan antikorupsi secara menyenangkan.
Kepala MIN 1 Kota Malang, Hj. Siti Aisah, S.Ag., M.Pd.I, menjelaskan bahwa Matsama tahun ini digelar secara optimal selama empat hari, dimulai dari Selasa (15/7/2025) hingga Jumat (18/7/2025). “Sesuai juknis, Matsama minimal tiga hari. Tapi karena kami memulai di hari Selasa, maka kegiatan kami padatkan dalam empat hari penuh. Hari Senin depan sudah mulai pembelajaran,” ujarnya saat ditemui, Rabu, (16/7/2025).

Dalam pembukaan Matsama yang digelar secara khidmat, turut dilakukan simbolisasi penyerahan peserta didik dari orang tua kepada pihak madrasah. Momen ini bukan sekadar seremoni, tetapi menandai lahirnya tanggung jawab bersama antara madrasah dan keluarga dalam mendidik anak-anak. “Kami menerima mereka dengan tulus, dan sejak hari ini, mereka menjadi bagian dari keluarga besar MIN 1 Kota Malang,” tegas Aisah.
Ia menambahkan, madrasah memiliki komitmen mendalam dalam mendampingi siswa, sejalan dengan visi lembaga: membentuk generasi bertakwa, berakhlak mulia, unggul dalam prestasi, melek teknologi, dan peduli lingkungan. “Tahun ini, kami juga sedang mendaftarkan diri dalam ajang Adiwiyata tingkat nasional,” ujarnya dengan optimis.
Menurut Aisah, keberhasilan pendidikan tidak bisa dilakukan madrasah sendiri. Dibutuhkan sinergi yang erat dengan orang tua. Ia mencontohkan pentingnya kebiasaan mengaji, yang perlu terus dilatih di rumah, bukan hanya di madrasah. “Kalau di madrasah sudah kami biasakan, maka di rumah harus dilanjutkan. Itu artinya kita satu visi dalam mendidik,” tuturnya.

Salah satu program unggulan dalam Matsama tahun ini adalah penguatan nilai moderasi beragama. MIN 1 Kota Malang menggandeng tim Bunda Modis gerakan dari Dharma Wanita Kemenag. Program ini melibatkan berbagai lapisan pendidik dan siswa dalam struktur kaderisasi: mulai dari agen moderasi (guru-guru), hingga duta moderasi (siswa terpilih).
Para duta ini tidak hanya menerima sosialisasi, tetapi juga memiliki tugas jangka panjang untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi dan keberagaman kepada teman-temannya. Mereka diseleksi dari berbagai tingkat kelas dan dikukuhkan melalui Surat Keputusan resmi.
“Duta moderasi ini tidak hanya aktif selama Matsama. Mereka akan terus bergiliran menyampaikan materi seperti moderasi beragama, antikorupsi, dan lainnya saat upacara Senin,” jelas Aisah.

Kegiatan Matsama tidak hanya padat, tetapi juga penuh variasi. Materi-materi yang disampaikan mencakup program Madrasah Ramah Anak, Madrasah Digital, Madrasah Literasi, Madrasah Anti-Korupsi, hingga Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Tak ketinggalan, madrasah juga mengenalkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia sebagai bagian dari pembiasaan karakter.
Baca Juga : 25 Desa di Jatim Disusupi Narkoba, 944 Desa Lain Dinyatakan Waspada
Meskipun materi beragam dan padat, semuanya dikemas dengan pendekatan menyenangkan dan berbasis permainan. Hal ini dimaksudkan agar siswa merasa nyaman dan antusias selama mengikuti kegiatan. Matsama bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi menjadi ruang tumbuh bagi siswa baru untuk mengenal, beradaptasi, dan membangun identitas bersama madrasah.
“Yang penting bukan hanya mengenal lingkungan, tapi mengenal nilai. Dan nilai-nilai itu yang akan kami jaga dan tumbuhkan bersama,” pungkas Aisah.