JATIMTIMES – Suasana di Balai Kusumowicitro pada Senin, 24 Maret 2024, tampak lebih ramai dari biasanya. Ratusan warga berkumpul, sebagian besar mengenakan busana sederhana. Kali ini, mereka datang bukan untuk bekerja, melainkan untuk menerima apresiasi.
Pemerintah Kota Blitar, melalui Dinas Lingkungan Hidup, menyerahkan 400 paket bingkisan Lebaran kepada mereka yang selama ini berjibaku dengan pengelolaan sampah, mulai dari pengirit dan pemilah sampah, pengurus bank sampah, hingga warga yang terdampak di sekitar TPA Ngegong.
Baca Juga : Penerimaan ZIS di Kota Batu Alami Fluktuasi: Libatkan Perbankan Permudah Pembayaran Digital
Wali Kota Blitar, H. Syauqul Muhibbin, yang akrab disapa Mas Ibin, menyatakan bahwa bingkisan ini bukan sekadar bantuan, tetapi bentuk penghargaan atas peran masyarakat dalam menjaga kebersihan kota. “Persoalan sampah adalah tantangan semua daerah urban. Volume sampah terus meningkat, sementara lahan terbuka makin terbatas. Tanpa peran pengirit, pemilah, dan bank sampah, beban TPA akan jauh lebih berat,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mas Ibin juga menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak, termasuk sektor swasta, untuk mendukung pengelolaan sampah. Ia berharap semakin banyak donatur dan perusahaan yang berkontribusi melalui program CSR mereka.
“Sampah bukan hanya masalah pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Jika dikelola dengan baik, bahkan bisa memberikan manfaat ekonomi,” tambahnya.
Sebanyak 400 paket bingkisan yang dibagikan terdiri dari 203 paket untuk pengirit dan pemilah sampah, 86 paket untuk pengurus bank sampah, serta 111 paket bagi warga terdampak di sekitar TPA Ngegong. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar, Jajuk Indihartati, masyarakat memiliki peran strategis dalam mengurangi beban TPA dengan memilah sampah sejak dari sumbernya.
“Sampah yang langsung dibawa ke TPA itu menjadi beban besar. Peran bank sampah dan pemilah sangat membantu mengurangi jumlah sampah yang harus ditampung,” jelasnya.
Selain menyerahkan bingkisan, Mas Ibin juga menyinggung pentingnya perbaikan sistem pengelolaan sampah di Kota Blitar. Salah satu fokusnya adalah relokasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dari ruang publik ke lokasi yang lebih sesuai.
“TPS di dekat fasilitas umum, seperti di sekitar RS Budi Rahayu, harus dipindah. Bau yang dihasilkan mengganggu kenyamanan masyarakat. Begitu pula dengan TPS di Kelurahan Gedog yang sudah hampir penuh. Ini harus segera mendapat solusi,” katanya.
Langkah ini sejalan dengan upaya Pemkot Blitar dalam menata kota agar lebih bersih dan nyaman. Mas Ibin meminta dukungan masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah tangga masing-masing. “Tong sampah terpilah sudah tersedia di berbagai titik, tapi masih banyak warga yang membuang sampah tanpa memilahnya. Ini yang perlu kita benahi bersama,” tuturnya.
Menanggapi rencana Wali Kota Blitar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar, Jajuk Indihartati, menegaskan bahwa pihaknya saat ini tengah bekerja keras menata Tempat Penampungan Sementara (TPS) di ruang publik agar lebih tertata secara estetika. Menurutnya, beberapa TPS yang telah lama berdiri kini menjadi tantangan seiring dengan perkembangan wilayah perkotaan.
"TPS-TPS tersebut awalnya dibangun sebagai fasilitas pendukung. Namun, dengan perkembangan kota, keberadaannya di ruang publik menjadi kurang sesuai dari segi estetika. Oleh karena itu, kami menyiapkan solusi agar pengelolaan sampah tetap berjalan dengan baik," ujarnya.
Baca Juga : Hasan Ali: Syekh Siti Jenar Palsu dari Cirebon, Keturunan Prabu Siliwangi
Jajuk menjelaskan bahwa salah satu langkah yang akan diambil adalah menutup TPS yang lokasinya kurang strategis dan mengalihkan penampungan sampah ke TPS lain yang lebih memadai. Salah satu TPS yang akan ditutup dalam waktu dekat adalah yang berada di Jalan Ahmad Yani, karena lokasinya berdekatan dengan rumah sakit dan kawasan kuliner.
"TPS di Jalan Ahmad Yani akan dialihkan ke beberapa titik, seperti TPS Karanglo, TPS Karangtengah, dan TPS di dekat kantor DLH di Gedog. Dengan begitu, distribusi sampah tetap terkendali tanpa mengganggu kenyamanan ruang publik," katanya.
Selain itu, Pemkot Blitar juga berencana membangun kembali TPS di beberapa lokasi sebagai alternatif agar masyarakat tidak kesulitan membuang sampah sebelum diangkut oleh truk DLH.
"Jika TPS dihapus begitu saja, masyarakat akan kesulitan karena harus membuang sampah langsung ke TPA. Karena itu, kami menyiapkan solusi agar mereka tetap memiliki akses ke TPS yang lebih layak," tambahnya.
Ke depan, Jajuk berharap jumlah TPS di Kota Blitar dapat terus berkurang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri.
"Harapannya, sampah bisa dikelola langsung dari sumbernya dengan sistem pilah dan pilih. Dengan begitu, volume sampah yang masuk ke TPS semakin berkurang, bahkan idealnya tidak ada lagi TPS di ruang publik," pungkasnya.
Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks, Pemkot Blitar menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi. Dari relokasi TPS hingga optimalisasi bank sampah, upaya ini bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
“Hari ini kita berbagi kebahagiaan, tapi lebih dari itu, kita ingin membangun kesadaran bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Mas Ibin.