free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Agama

Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Jangan Hanya Merayakan, Sudahkah Kita Teladani Akhlak Rasulullah?

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

28 - Aug - 2026, 07:20

Loading Placeholder
Potret khutbah Jumat. (Foto: Polres Berau)

JATIMTIMES - Bulan Rabiul Awal kembali menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi adalah kesempatan untuk kembali membuka lembaran perjalanan hidup beliau dan mengambil pelajaran dari akhlak yang ditunjukkan dalam keseharian.

Rasulullah saw dikenal sebagai sosok yang memiliki budi pekerti luhur. Cara beliau memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, bahkan orang yang berbeda pandangan menjadi teladan yang tetap relevan untuk kehidupan umat Islam hingga hari ini. Karena itu, kecintaan kepada Nabi semestinya tidak berhenti pada peringatan Maulid, tetapi diwujudkan melalui usaha mengikuti akhlak dan ajaran beliau.

Baca Juga : 3 Doa Lepas dari Jeratan Utang, Diajarkan Nabi kepada Ali bin Abi Thalib

Khutbah Jumat kali ini mengajak jemaah menjadikan bulan Maulid sebagai waktu untuk bercermin. Sejauh mana akhlak Rasulullah telah hadir dalam ucapan, sikap, dan hubungan kita dengan orang lain? Sebab, mengenal dan mencintai Nabi akan semakin bermakna ketika disertai ikhtiar untuk meneladani akhlak mulia yang beliau wariskan kepada umat.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita mengawali khutbah ini dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan dari-Nya, kita masih dapat berjumpa dengan hari Jumat dalam keadaan sehat dan dapat menunaikan kewajiban salat Jumat.

Selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, serta seluruh umatnya yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran beliau hingga akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan mengajak jemaah sekalian untuk terus memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT. Mari kita buktikan ketakwaan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Sebab, sebaik-baik bekal yang kita bawa menghadap Allah adalah iman dan takwa.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita sekarang berada di bulan Rabiul Awal. Bulan ini memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam karena mengingatkan kita kepada sosok manusia pilihan, Nabi Muhammad SAW.

Di bulan Maulid ini, nama Rasulullah SAW semakin sering disebut. Selawat menggema di berbagai tempat. Kisah kelahiran, perjuangan, dan perjalanan dakwah beliau kembali dipelajari. Majelis-majelis maulid pun banyak digelar sebagai bentuk kecintaan umat kepada Baginda Nabi.

Semua itu merupakan bagian dari ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW. Namun, ada hal yang perlu kita renungkan lebih dalam, apakah kecintaan itu sudah tampak dalam perilaku kita sehari-hari?

Sebab, mencintai Rasulullah tidak berhenti pada ucapan. Berselawat adalah bentuk cinta, menghadiri majelis maulid juga merupakan bentuk kecintaan. Namun, cinta kepada Rasulullah akan semakin bermakna ketika ia mendorong kita untuk mengikuti akhlak dan tuntunan beliau.

Apa artinya kita rajin menyebut nama Rasulullah, jika lisan masih mudah menyakiti orang lain? Apa artinya kita mengaku mencintai beliau, jika amarah masih sulit dikendalikan, memaafkan terasa berat, dan tangan kita masih enggan membantu orang yang membutuhkan?

Cinta sejati akan mendorong seseorang untuk mengikuti orang yang dicintainya. Ketika seseorang menjadikan Rasulullah sebagai teladan, tentu ia akan berusaha meniru akhlak beliau, mengikuti perilakunya, dan menerapkan ajarannya dalam kehidupan.

Allah SWT memberikan gambaran yang jelas tentang bukti kecintaan kepada-Nya. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran: 31).

Ayat tersebut memang berbicara tentang bukti kecintaan kepada Allah. Namun, ada pelajaran penting yang dapat kita ambil. Cinta bukan sekadar pengakuan. Cinta perlu diwujudkan melalui sikap mengikuti dan meneladani sosok yang dicintai.

Karena itu, bulan Maulid hendaknya menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat kembali diri masing-masing. Jangan sampai kita mudah mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah, sementara akhlak dan perilaku beliau belum banyak kita hadirkan dalam kehidupan.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Salah satu bukti kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah berusaha mengikuti akhlak beliau.
Suatu ketika, Sayyidah Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW. Jawaban beliau sangat singkat, namun memberikan gambaran yang dalam tentang pribadi Nabi. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

Artinya: “Aku (Abu Abdillah al-Jadali) pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah. Ia menjawab: ‘Beliau bukanlah orang yang berkata keji, bukan pula orang yang berbuat keji, tidak suka berteriak-teriak di pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan memaafkan dan berlapang dada.’” (HR At-Tirmidzi).

Jemaah yang dimuliakan Allah,

Perhatikan bagaimana Rasulullah menjaga akhlaknya. Beliau tidak membiasakan ucapan kotor, tidak suka membuat keributan, serta tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Ketika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, beliau memilih memaafkan. Saat menghadapi keburukan dari orang lain, beliau menunjukkan kelapangan hati.
Akhlak seperti inilah yang perlu kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika sedang marah kepada pasangan, bagaimana cara kita berbicara? Ketika anak melakukan kesalahan, apakah kita langsung membentak atau berusaha membimbingnya dengan baik? Ketika tetangga melakukan sesuatu yang membuat kita tidak nyaman, apakah kita memilih membalas? Saat ada seseorang yang menyakiti hati, apakah kita mampu menahan diri?

Di situlah kecintaan kepada Rasulullah diuji. Cinta kepada Nabi bukan hanya terlihat ketika lisan kita mengucapkan selawat. Cinta itu juga tampak ketika kita mampu menjaga ucapan, menahan amarah, memaafkan kesalahan, dan tetap berbuat baik kepada orang lain.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Akhlak Rasulullah SAW begitu luas. Selain kelembutan dan kelapangan hati, beliau juga dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah merupakan manusia yang paling dermawan.

Kedermawanan beliau bahkan semakin besar ketika memasuki bulan Ramadhan. Imam Bukhari meriwayatkan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah saw. adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Baca Juga : Kalender Jawa Jumat Pahing 28 Agustus 2026: Rezeki akan Lancar

Keteladanan ini mengajarkan kepada kita bahwa rezeki yang Allah titipkan tidak semestinya hanya dinikmati untuk kepentingan diri sendiri.

Di sekitar kita selalu ada orang yang membutuhkan. Ada saudara yang sedang mengalami kesulitan, ada keluarga yang berjuang mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan mungkin ada seseorang yang pertolongannya sangat dekat dengan kita.

Karena itu, mari membiasakan diri untuk berbagi. Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya. Tidak harus menunggu memiliki harta berlimpah. Dari rezeki yang ada, sisihkan sebagian untuk membantu sesama. Meneladani Rasulullah juga berarti belajar menjadikan tangan kita ringan ketika memberi.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Keteladanan Rasulullah juga terlihat dari cara beliau menghargai orang lain. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa ketika seseorang bertemu dengan Rasulullah SAW lalu mengulurkan tangan untuk berjabat, Nabi tidak segera melepaskan tangannya. Beliau menunggu sampai orang tersebut lebih dahulu melepaskan tangannya.

Begitu pula ketika berbicara dengan seseorang, Rasulullah tidak memalingkan wajah sebelum orang yang berada di hadapannya itu terlebih dahulu memalingkan wajah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَقْبَلَهُ الرَّجُلُ فَصَافَحَهُ لَا يَنْزِعُ يَدَهُ مِنْ يَدِهِ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ يَنْزِعُ وَلَا يَصْرِفُ وَجْهَهُ عَنْ وَجْهِهِ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ الَّذِي يَصْرِفُهُ

Artinya: “Nabi apabila seseorang menemuinya lalu berjabat tangan dengannya, beliau tidak melepaskan tangannya dari orang tersebut sampai orang itu yang melepasnya. Nabi juga tidak memalingkan wajahnya dari wajah orang tersebut sampai ia sendiri yang memalingkannya.” (HR At-Tirmidzi).

Begitulah Rasulullah memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Beliau membuat orang lain merasa dihargai dan diperhatikan.

Dari sini kita belajar bahwa menghormati orang lain tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Terkadang cukup dengan mau mendengarkan ketika seseorang berbicara, memberikan perhatian, tidak sibuk sendiri, dan tidak tergesa-gesa meninggalkan orang yang sedang berhadapan dengan kita.

Hal sederhana seperti itu pun bisa menjadi bagian dari akhlak Nabi yang kita hidupkan kembali.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Maka, selagi kita berada di bulan Maulid, mari kita bercermin kepada diri sendiri.

Sudahkah ucapan kita menjadi lebih santun?

Sudahkah kita lebih mampu menahan amarah? 

Apakah kita semakin mudah memaafkan? 

Apakah tangan kita semakin ringan membantu orang lain? 

Dan sudahkah kita belajar menghargai orang-orang yang berada di sekitar kita?

Jika jawabannya belum, jangan biarkan bulan Maulid berlalu tanpa perubahan. Jangan berhenti pada kegiatan mengenang kelahiran Rasulullah SAW. 

Jadikan bulan ini sebagai titik awal untuk memperbaiki akhlak. Mulailah dari perkara yang dekat dengan kehidupan kita, seperti menjaga lisan, mengendalikan emosi, membantu sesama, memaafkan kesalahan, dan menghormati orang lain.

Bagi yang sudah terbiasa melakukan sebagian dari akhlak tersebut, jangan merasa sudah cukup. Teruslah memperbaiki diri. Sebab, menjadi umat yang mencintai Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering nama beliau kita sebut, tetapi juga tentang seberapa sungguh-sungguh kita mengikuti akhlak dan ajarannya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari umat Nabi Muhammad SAW yang benar-benar mencintai beliau. Cinta yang hidup dalam hati, terucap melalui lisan, dan terlihat dalam perbuatan.

Semoga selawat yang kita lantunkan semakin menumbuhkan kerinduan untuk mengikuti jalan hidup Rasulullah SAW. Dan semoga kelak di hari kiamat, kita termasuk umat yang mendapatkan syafaat beliau. Amin ya Rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Agama

Artikel terkait di Agama

--- Iklan Sponsor ---