JATIMTIMES - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai berdampak ke sejumlah wilayah Malaysia. Sebanyak 29 wilayah tercatat memiliki kualitas udara dalam kategori tidak sehat pada Selasa (25/8/2026) sore.
Berdasarkan data Air Pollutant Index Management System (APIMS) Malaysia pukul 16.00 waktu setempat, sejumlah wilayah mencatat indeks pencemaran udara (API) di atas 100.
Baca Juga : Sungai Barito Viral Bak Padang Pasir, Mengapa Airnya Menyusut Drastis?
Serian menjadi wilayah dengan angka API tertinggi, yakni 183. Kemudian Johan Setia 172, Sri Aman 171, Shah Alam di Selangor 160, Taiping 157, Tanjung Malim 157, Kuching 157, dan Tasek Ipoh 156.
Kualitas udara tidak sehat juga tercatat di Minden dengan API 155, Putrajaya 155, Nilai 155, Samarahan 155, Bukit Rimbai 154, Sarikei 154, Sungai Petani 153, Pegoh Ipoh 153, Batu Muda di Kuala Lumpur 153, serta Seberang Perai 152.
Berikutnya, Seri Manjung mencatat API 152, Kuala Selangor 152, Seremban 152, Alor Gajah 152, Segamat 152, Tangkak 151, Petaling Jaya 151, Banting 151, dan Batu Pahat 151. Sedangkan Klang mencatat API 141 dan Balik Pulau 114.
Dalam kategori API Malaysia, angka 101 hingga 200 masuk kategori tidak sehat. Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat di wilayah terdampak perlu membatasi paparan terhadap udara luar.
Kementerian Kesehatan Malaysia mengimbau masyarakat yang berada di kawasan terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada di atas angka 100.
Warga juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan. Pemeriksaan medis dianjurkan apabila muncul keluhan seperti sesak napas atau batuk yang berlangsung terus-menerus.
Pemerintah Malaysia turut meningkatkan pemantauan terhadap penyakit yang berkaitan dengan kabut asap. Kesiapan fasilitas kesehatan, termasuk ketersediaan obat-obatan dan tenaga medis, juga diperkuat untuk menghadapi dampak buruk kualitas udara.
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Malaysia terjadi di tengah karhutla yang masih ditangani di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan.
Pergerakan asap dapat dipengaruhi kondisi meteorologi, termasuk arah dan kecepatan angin. Karena itu, dampak karhutla dapat dirasakan hingga melewati batas wilayah Indonesia.
BMKG sebelumnya juga menekankan bahwa pergerakan asap perlu dipantau menggunakan data meteorologi, satelit, dan kondisi lapangan. Hal tersebut penting untuk mengetahui arah penyebaran asap sekaligus menentukan langkah penanganan.
Indonesia sendiri telah mengerahkan berbagai sumber daya untuk mengatasi karhutla. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara, patroli, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Personel TNI dan Polri, pemerintah daerah, masyarakat, serta unsur penanggulangan bencana juga dilibatkan dalam penanganan kebakaran.
Baca Juga : Karhutla dan Dosa Merusak Bumi dalam Perspektif Islam
Dampak kabut asap lintas batas membuat BNPB meminta negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura, tidak saling menyalahkan terkait sumber asap.
Plt Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB Berton Pandjaitan mengatakan karhutla tidak mengenal batas administrasi maupun batas negara. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan bersama.
“Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas,” kata Berton dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026) lalu.
Berton menegaskan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap kemungkinan dampak asap lintas batas.
Menurutnya, Indonesia telah mengerahkan sumber daya besar untuk mengendalikan karhutla. Penanganan dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, pemadaman udara, water bombing, OMC, hingga penguatan personel TNI-Polri bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
BNPB juga menyebut 52 pesawat telah dikerahkan untuk operasi penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 30 pesawat beroperasi di Kalimantan dan 22 lainnya ditempatkan di Sumatra.
Persoalan kabut asap lintas batas juga menjadi perhatian di tingkat regional. Malaysia menggunakan jalur ASEAN untuk membahas dan menangani persoalan tersebut bersama negara-negara kawasan.
Langkah ini menunjukkan bahwa kabut asap bukan hanya persoalan satu negara. Ketika asap bergerak melewati perbatasan, dampaknya dapat dirasakan masyarakat di negara lain sehingga membutuhkan koordinasi dan kerja sama regional.
Sementara Indonesia terus berupaya mengendalikan sumber kebakaran, Malaysia juga melakukan langkah antisipasi terhadap dampaknya bagi masyarakat.
Dengan 29 wilayah berada dalam kategori kualitas udara tidak sehat, persoalan karhutla kembali menjadi perhatian serius di Asia Tenggara. Pengendalian titik api di Indonesia dan kerja sama antarnegara menjadi bagian penting untuk menekan dampak kabut asap lintas batas.