free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Peristiwa

Sungai Barito Viral Bak Padang Pasir, Mengapa Airnya Menyusut Drastis?

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

25 - Aug - 2026, 14:29

Loading Placeholder
Potret sungai Barito mengering. (Foto: Instagram @borneosocial)

JATIMTIMES - Sungai Barito di sekitar Desa Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, mengalami penyusutan debit air. Kondisi tersebut membuat bagian sungai yang biasanya dipenuhi air kini terlihat seperti hamparan tanah dan daratan.

Fenomena ini menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial. Dalam unggahan akun Instagram @borneosocial, terlihat seorang pria berjalan di bawah Jembatan Kalahien. Area yang dilaluinya tampak berupa tanah berwarna kuning kecokelatan tanpa genangan air.

Baca Juga : Bangun Keluarga Harmonis, Kodim 0808/Blitar Bekali Prajurit dan Persit Ilmu Parenting

Pemandangan tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa Sungai Barito telah mengering. Benarkah kondisinya demikian? 

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan alur utama Sungai Barito di sekitar Kalahien masih memiliki aliran air. Sungai tersebut juga masih dapat digunakan untuk aktivitas transportasi menggunakan kapal maupun perahu.

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Sandi Eriyanto menjelaskan hamparan pasir yang terlihat dari atas jembatan merupakan bagian sungai yang tidak lagi teraliri air akibat turunnya muka air.

Sementara itu, alur utama Sungai Barito masih memiliki lebar sekitar 100 meter. “Namun, ketika dilakukan pemantauan langsung, masih terlihat alur utama sungai yang berair dan tetap berfungsi sebagai jalur transportasi sungai,” kata Sandi dikutip Antara (25/8/2026).

Penyusutan debit Sungai Barito terjadi di tengah kondisi musim kemarau yang semakin kuat. Dalam beberapa pekan terakhir, curah hujan yang minim membuat pasokan air ke sungai ikut berkurang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah wilayah di Barito Selatan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga sangat panjang.

Periode HTH panjang berada pada kisaran 21-30 hari, sedangkan kategori sangat panjang mencapai 31-60 hari.

Kondisi tersebut membuat air permukaan semakin berkurang sehingga berdampak pada debit sungai. BMKG juga memperkirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah mengalami sifat hujan bawah normal, dengan curah hujan sekitar 0-20 milimeter dan persentase terhadap kondisi normal berada di kisaran 0-50 persen.

Tekanan terhadap ketersediaan air berpotensi semakin besar karena puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah diprediksi berlangsung pada Agustus-September 2026.

Secara hidrologis, berkurangnya pasokan air ke sungai membuat muka air ikut turun. Ketika hujan semakin jarang, air yang meresap ke tanah dan kemudian mengalir menuju sungai juga berkurang.

Di saat yang sama, proses penguapan tetap berlangsung karena kondisi cuaca lebih kering.
Jika periode tanpa hujan berlangsung semakin panjang, debit sungai dapat terus menyusut.

Baca Juga : ODGJ Amuk dan Rusak Kos-Kosan, Selesai dengan Damai

Bagian sungai yang memiliki elevasi lebih tinggi atau alirannya lebih dangkal akan lebih dahulu kehilangan genangan sehingga permukaan pasir mulai terlihat. Kondisi inilah yang terlihat di sekitar Jembatan Kalahien.

BPBD Barito Selatan membenarkan adanya penyusutan debit sungai yang cukup signifikan. Meski begitu, kondisi tersebut tidak berarti seluruh Sungai Barito mengalami kekeringan atau kehilangan aliran air.

Penyusutan debit Sungai Barito menjadi salah satu gambaran tekanan musim kemarau terhadap sumber daya air di wilayah Barito Selatan.

Dampaknya berpotensi dirasakan masyarakat yang selama ini bergantung pada sungai. Aktivitas transportasi, kebutuhan air, perikanan, hingga kegiatan ekonomi di sepanjang bantaran sungai dapat ikut terdampak apabila debit terus menurun.

Kondisi kering juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Periode tanpa hujan yang panjang membuat vegetasi dan lapisan permukaan tanah semakin kering. Kondisi tersebut membuat kawasan lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api.

Karena itu, masyarakat diimbau menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan karhutla, terutama selama periode puncak musim kemarau Agustus-September.

Pemerintah melalui BMKG dan BWS Kalimantan III juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca, muka air, dan kondisi alur Sungai Barito untuk mengantisipasi dampak kemarau yang lebih luas.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa

--- Iklan Sponsor ---