free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Pemerintahan

Pimpin Upacara HUT Ke-81 RI, Wali Kota Blitar Serukan Persatuan: NKRI dan Merah Putih Harga Mati

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

17 - Aug - 2026, 14:14

Loading Placeholder
Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin memimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Alun-Alun Kota Blitar, Senin (17/8/2026).(Foto: Dani Elang Sakti/Mahardhika FM)

JATIMTIMES – Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin menegaskan persatuan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Merah Putih tidak boleh ditawar. Pesan kebangsaan itu disampaikan pria yang akrab disapa Mas Ibin tersebut seusai memimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Alun-Alun Kota Blitar, Senin (17/8/2026).

Upacara yang dimulai pukul 09.00 WIB itu menempatkan Mas Ibin sebagai inspektur upacara. Ketua DPRD Kota Blitar dr. Syahrul Alim membacakan teks Proklamasi. Sementara pengibaran Merah Putih dipercayakan kepada Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Blitar 2026.

Baca Juga : Perdana Pemkab Situbondo Laksanakan Upacara HUT RI di Alun-alun Besuki, Ini Kata Bupati Mas Rio

Di bawah terik matahari, upacara berlangsung khidmat. Mas Ibin mengatakan peringatan kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Delapan puluh satu tahun kemerdekaan harus menjadi pengingat bahwa Republik Indonesia lahir melalui perjuangan panjang yang dibayar dengan darah, keringat, air mata, dan nyawa.

HUT ke-81 Republik Indonesia tentu menjadi hari yang dirayakan seluruh bangsa. Tetapi bangsa Indonesia lahir merdeka tidak begitu saja. Ada tetesan darah, keringat, cucuran air mata, dan apa pun dilakukan oleh para pendiri bangsa serta para pahlawan,” kata Mas Ibin.

Menurut dia, generasi hari ini perlu terus menghadirkan ingatan terhadap perjuangan tersebut. Bahkan mengikuti upacara di tengah panas matahari, kata dia, menjadi cara sederhana untuk merasakan bahwa kemerdekaan dahulu direbut dalam keadaan jauh lebih berat.

“Kami tadi mengikuti upacara dengan cara yang sama dengan peserta, sama-sama panas-panasan. Saya kira ini bentuk bahwa Indonesia diperjuangkan dengan cara yang tidak mudah. Merebut kemerdekaan adalah hal yang luar biasa dan semuanya dipertaruhkan,” ujarnya.

NKRI dan Merah Putih Tak Boleh Ditawar

Merah putih

Mas Ibin kemudian memberi penekanan pada tantangan menjaga persatuan di tengah kehidupan bangsa saat ini. Ia mengingatkan generasi penerus agar perbedaan pandangan, kepentingan maupun identitas kedaerahan tidak berkembang menjadi sikap yang mempertanyakan keutuhan Indonesia.

Baginya, kemerdekaan justru mengandung tanggung jawab untuk menjaga apa yang telah diperjuangkan para pendahulu. Sejarah penjajahan Belanda dan Jepang serta perjuangan para pahlawan, kata dia, seharusnya menjadi pelajaran bahwa persatuan tidak diperoleh dengan mudah.

“NKRI dan Merah Putih itu harga mati, tidak boleh ditawar. Tidak ada suku Jawa, luar Jawa atau suku-suku bangsa. Yang ada adalah Indonesia,” tegas Mas Ibin.

Ia mengajak seluruh generasi bangsa menempatkan kepentingan Indonesia di atas perbedaan. Pesan tersebut, menurut dia, sejalan dengan peringatan Bung Karno bahwa tantangan generasi setelah kemerdekaan akan berbeda karena persoalan bangsa dapat muncul dari dalam masyarakat sendiri.

“Kita harus ingat kata-kata Bung Karno dan memedomani kemerdekaan ini dengan baik untuk menghargai para pahlawan,” ujarnya.

Upacara turut menampilkan putra-putri terbaik Kota Blitar dalam pasukan inti Paskibraka. Gian Santang Habibi dari SMAN 3 Blitar bertugas sebagai pembentang bendera, Muhammad Arjuna Sakti Dewantoro dari SMAN 1 Blitar sebagai komandan kelompok, Galih Maulana dari SMKS Islam 1 Blitar sebagai pengerek, dan Saura Amaranta Rahardjo dari SMAN 1 Blitar sebagai pembawa baki. Kompi Paskibraka dipimpin IPDA Apristian Indra Yahya dari Polres Blitar Kota.

Keterlibatan pelajar dalam tugas utama pengibaran Merah Putih sekaligus menjadi simbol regenerasi: kemerdekaan yang diwariskan para pejuang kini berada di tangan generasi muda untuk dijaga dan diisi melalui prestasi serta kontribusi bagi bangsa.

Rangkaian peringatan HUT ke-81 RI juga diwarnai pemberian remisi kepada warga binaan Lapas Kelas IIB Blitar. Dari total 540 warga binaan, sebanyak 341 orang memperoleh remisi. Dua di antaranya langsung bebas setelah masing-masing mendapat pengurangan masa pidana lima bulan dan tiga bulan.

Ziarah Nasional, Mas Ibin Kenang Pahlawan dan Jejak Merah Putih di Monumen Potlot

Potlot

Selepas upacara, rangkaian peringatan kemerdekaan dilanjutkan dengan Ziarah Nasional di Taman Makam Pahlawan (TMP) Raden Wijaya sekitar pukul 10.30 WIB. Di tempat itu, pesan Mas Ibin tentang persatuan menemukan konteks yang lebih dalam.

Baca Juga : Empati Korban Gempa NTT, Jajaran Forkopimda Jember Berdiri Selama Upacara HUT RI Berlangsung

Ia mengaku terharu melihat sejumlah pusara bertuliskan pahlawan tak dikenal. Mereka gugur untuk Indonesia, tetapi bahkan nama mereka tidak tercatat.

“Begitu ikhlasnya beliau-beliau berjuang untuk kemerdekaan Indonesia sampai namanya saja tidak dikenal. Pahlawan tak dikenal itu menunjukkan pengorbanan yang luar biasa untuk bangsa Indonesia,” katanya.

Karena itu, menurut Mas Ibin, generasi yang menikmati kemerdekaan tidak semestinya meremehkan persatuan maupun simbol negara. Ia kembali menegaskan bahwa penghormatan terbaik kepada mereka yang gugur bukan sekadar tabur bunga, melainkan menjaga Indonesia yang mereka perjuangkan.

“Sekali merdeka tetap merdeka, sekali NKRI tetap NKRI, sekali Merah Putih tetap Merah Putih. Merah Putih harus ada di dada kita,” tegasnya.

Ziarah tersebut sekaligus mengingatkan jejak penting Blitar menuju kemerdekaan. Mas Ibin menyinggung Monumen Potlot di kawasan TMP Raden Wijaya, penanda lokasi pengibaran Merah Putih oleh Shodanco Parthohardjono saat Pemberontakan PETA Blitar pada 14 Februari 1945, sekitar enam bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan.

Jejak sejarah itu, menurut Mas Ibin, menjadi kebanggaan sekaligus pengingat bahwa Blitar memiliki mata rantai penting dalam perjuangan menuju Indonesia merdeka.

“Untuk warga Blitar, kita patut berbangga. Karena kemerdekaan ini juga memiliki jejak perjuangan yang kuat dari Blitar pada 14 Februari 1945,” ujarnya.

Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, bentuk perjuangan telah berubah. Bagi Pemerintah Kota Blitar, semangat kemerdekaan kini harus diwujudkan melalui persatuan, pembangunan, pelayanan kepada masyarakat, serta kerja bersama menjaga kota dan Indonesia. Pesan dari Alun-Alun hingga TMP Raden Wijaya pun tetap sama: kemerdekaan adalah warisan perjuangan, sementara menjaganya menjadi tanggung jawab setiap generasi.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana

Pemerintahan

Artikel terkait di Pemerintahan

--- Iklan Sponsor ---