free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Pemerintahan

Desa Lampeni Sulap Buah Pepaya Menjadi Gummy dan Abon, Berkah Pelatihan dari Tim Dosen FTP UNEJ

Penulis : Moh. Ali Mahrus - Editor : A Yahya

16 - Aug - 2026, 10:09

Loading Placeholder
Warga bersama tim Dosen FTP Unej saat pelatihan di balai desa Lempeni

JATIMTIMES - Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, selama ini dikenal sebagai salah satu sentra pepaya di wilayah tersebut, sebelum kedatangan Tim Dosen Mengabdi dan Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) di desa tersebut, warga lebih banyak menjual pepaya dalam bentuk buah segar kepada pengepul.

 Tentu dengan menjual buah secara langsung ke pengepul, nilai jual buah pepaya tidak stabil dan mengikuti kebutuhan pasar, bahkan tidak jarang, dijual dengan harga murah, bahkan sampai busuk di pohon.

Baca Juga : Bupati Sanusi Tinjau Kawasan Gunung Bromo Usai Alami Kebakaran Via Jemplang

 Namun berkat ketelatenan tim dari Dosen Mengabdi diketuai oleh Dr. Nidya Shara Mahardhika, S.TP., M.P., bersama Dr. (cand) Andi Eko Wiyono, S.TP., M.P., Suwita Tri Prihani, S.T.P., M.P., dan Dr. Nita Kuswardhani, S.TP., M.Eng., IPM., dengan dukungan mahasiswa Risma Vita Anggraini, Asmi Putri Wijayanti, Dita Nova Kharisma, dan Agisna Safaratul Jannah yang nantinya akan mengawal kegiatan untuk konversi SKS KKN. 

Tim Dosen bersama Mahasiswa dalam melakukan bimbingan dan pelatihan pada warga, agar pepaya tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar  tapi juga menjadi olahan lain yang memiliki nilai lebih tinggi, yakni menyulap buah pepaya menjadi olahan Gummy dan juga Abon yang diberi nama BONAYA (Abon Pepaya).

Tim Dosen Mengabdi dan Mahasiswa KKN, juga melibatkan BUMDes dan menggagas serta mendorong hadirnya program ‘Pengembangan Unit Usaha BUMDes Melalui Diversifikasi Olahan Pepaya dan Penguatan Pemasaran di Desa Lempeni Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang’.

“Di desa ini pohon pepaya cukup banyak. Biasanya setelah panen langsung dijual ke pengepul,” ujar salah seorang warga Desa Lempeni saat mengikuti diskusi sebelum digelarnya pelatihan mengolah buah pepaya menjadi Gummu dan juga Abon oleh Tim Dosen Mengabdi UNEJ dan Mahasiswa, yang diikuti oleh 20 anggota BUMDes dan ibu-ibu desa Lempeni.

Dalam pelatihan tersebut, Tim Dosen membimbing dan melatih peserta cara pengolahan buah pepaya menjadi gummy pepaya dan abon seperti memilih bahan baku, seperti mengolah pepaya menjadi puree, seperti proses pemasakan, pencetakan dan pendinginan. Tidak hanya pelatihan tim Dosen Mengabdi juga memberikan pendampingan peserta agar mampu menghasilkan gummy dengan tekstur kenyal, rasa yang pas, bentuk seragam, dan hasil yang konsisten.

“Buah pepaya yang diolah menjadi gummy maupun abon, harus dipilah, untuk bahan baku abon, pepaya yang digunakan adalah pepaya muda yang di olah dan diberi rempah rempah dengan cita rasa gurih seperti abon daging, sehingga cocok untuk lauk pauk, sedangkan untuk pepaya yang dijadikan bahan baku olahan Gummy, adalah pepaya yang sudah matang,” ujar salah satu mahasiswa yang nantinya akan memprogram  konversi KKN melalui kegiatan pengabdian ini.

Sedangkan ketua Tim Dosen Mengabdi Dr. Nidya Shara Mahardhika, S.TP., M.P, dalam kesempatan tersebut menyampaikan, bahwa kegiatan ini untuk mendorong pemanfaatan buah pepaya menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.

 “Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong pemanfaatan pepaya menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah. Selama ini pepaya lebih banyak dijual dalam bentuk buah segar, padahal masih ada peluang untuk mengembangkannya menjadi produk lain,” ujar Dr. Nidya Shara Mahardhika, S.TP., M.P/

Sementara Ketua TP-PKK Desa Lempeni, Riszeila Ruhil, menyambut baik kegiatan ini, tidak hanya menciptakan lapangan kerja warga desa, tapi juga memberikan ketrampilan dan pengetahuan baru tentang mengolah buah pepaya.

 “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi ibu-ibu di Desa Lempeni, terutama karena memberikan pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah pepaya. Harapannya, BONAYA tidak hanya menjadi produk pelatihan, tetapi juga bisa terus dikembangkan dan dipasarkan,” ujarnya.

Baca Juga : Muktamar NU di Ambang Pintu: Benarkah Prof Nasaruddin Umar Terganjal AD/ART?

Sebagai kelanjutan dari sesi praktik, BUMDes dan ibu-ibu Desa Lempeni mendapat pendampingan penyusunan Harga Pokok Produksi (HPP) serta pengembangan kemasan untuk kedua produk. Materi HPP disampaikan mahasiswa dengan melibatkan peserta langsung menghitung biaya bahan baku, bahan tambahan, kemasan, dan biaya produksi lainnya sebagai dasar menentukan harga jual.

Materi kemasan mencakup ukuran, tampilan, informasi produk, hingga kesesuaiannya dengan karakteristik masing-masing produk  gummy dikemas agar menonjolkan warna dan bentuk cetakannya, sementara BONAYA dikemas menggunakan kemasan yang praktis dan lebih tahan terhadap kelembapan. Peserta diberi pemahaman bahwa kemasan bukan sekadar pelindung produk, melainkan juga bagian dari identitas dan daya tarik di mata konsumen.

Tidak hanya itu, produk hasil praktik sebelumnya turut diujicobakan, dengan mencicipi olahan antar peserta pelatihan sebagai bagian dari evaluasi, serta diberikan kuisioner untuk mengukur tingkat pemahaman peserta pelatihan, dimana hasilnya 60 persen peserta mengaku cukup paham degan materi yang diberikan.

“Saya tertarik untuk melanjutkan membuat Bonaya ini, karena pepaya disini melimpah dan bahan bakunya mudah didapat, bahkan bisa dibilang tidak perlu membeli, jadi dari pada pepaya hanya dijual atau tidak dimanfaatkan, lebih baik diolah mejadi abon yang bisa dijual dan menghasilkan tambahan pendapatan,” ujar Ibu Yuni salah satu peserta.

Mayoritas ibu-ibu menunjukkan ketertarikan untuk melanjutkan pengembangan BONAYA maupun gummy pepaya menjadi produk yang siap dipasarkan. Pemahaman soal HPP dan kemasan dinilai memberi gambaran lebih jelas tentang bagaimana olahan pepaya dapat berkembang menjadi usaha bernilai ekonomi bagi warga dan BUMDes Desa Lempeni.

Melalui dua inovasi ini, pepaya Desa Lempeni tak lagi sekadar dijual sebagai buah segar. Perpaduan produk yang inovatif, perhitungan biaya yang tepat, dan kemasan yang menarik menjadi bekal penting bagi BUMDes dan warga Lempeni untuk bersaing di pasar produk olahan berbasis komoditas lokal.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena sebelumnya tidak pernah terpikirkan bahwa pepaya muda bisa dibuat menjadi abon. Ternyata pepaya muda dapat diolah menjadi produk yang enak dan memiliki nilai jual,” ujar Ibu Reni, salah satu perangkat Desa Lempeni. (*)


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Moh. Ali Mahrus

Editor

A Yahya

Pemerintahan

Artikel terkait di Pemerintahan

--- Iklan Sponsor ---