free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Agama

4 Larangan Rebo Wekasan yang Dipercaya Masyarakat, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

12 - Aug - 2026, 07:48

Loading Placeholder
Ilustrasi menikah, sebagai acara yang sebaiknya dihindari dilakukan saat Rebo Wekasan. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Rebo Wekasan atau Rabu terakhir di bulan Safar kerap dikaitkan dengan berbagai pantangan. Sebagian masyarakat memilih menghindari kegiatan tertentu karena khawatir waktu tersebut membawa kesialan, musibah, atau hal buruk lainnya.

Kepercayaan semacam ini tidak sama di setiap daerah. Ada masyarakat yang menghindari pernikahan, menunda pembangunan rumah, bahkan memilih tidak bepergian jauh ketika Rebo Wekasan tiba.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Rabu Legi 12 Agustus 2026: Hindari Bepergian Hari Ini

Lalu, apakah benar ada larangan khusus pada Rebo Wekasan menurut ajaran Islam? Sebelum membahas hukumnya, berikut sejumlah pantangan yang berkembang di tengah masyarakat.

1. Menikah pada Rebo Wekasan

Pernikahan menjadi salah satu kegiatan yang dipercaya sebagian masyarakat sebaiknya tidak dilakukan pada bulan Safar, termasuk ketika bertepatan dengan Rebo Wekasan.

Ada anggapan bahwa pasangan yang menikah pada waktu tersebut akan menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan rumah tangganya.

Kepercayaan tersebut antara lain tergambar dalam penelitian Abdulloh berjudul Pandangan Tokoh Masyarakat Terhadap Pantangan Pelaksanaan Pernikahan di Bulan Safar Perspektif Hukum Islam (2018).

Penelitian itu membahas kepercayaan masyarakat Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Dalam tradisi setempat, bulan Safar dianggap bukan waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan karena dikhawatirkan menimbulkan kemudaratan bagi pasangan.

2. Melahirkan pada Rebo Wekasan

Pantangan berikutnya berkaitan dengan kelahiran. Dalam kepercayaan sebagian masyarakat, bayi yang lahir pada Rebo Wekasan dikhawatirkan memiliki perangai kurang baik ketika tumbuh dewasa.

Dede Nur Afiyah dalam penelitian Ritual Perayaan Rebo Kasan Desa Girijaya, Kecamatan Saketi, Pandeglang, Banten (2018) mencatat adanya kepercayaan tersebut di Desa Girijaya, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Masyarakat setempat memiliki kekhawatiran bayi yang lahir pada Rebo Kasan akan tumbuh menjadi anak yang nakal dan mudah marah.
Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat setempat dan tidak secara otomatis menjadi ketentuan agama.

3. Membangun Rumah

Membangun rumah pada bulan Safar juga termasuk kegiatan yang dihindari sebagian masyarakat. Masih berdasarkan penelitian Dede Nur Afiyah, masyarakat Desa Girijaya disebut jarang mendirikan rumah pada bulan Safar.

Salah satu alasan yang berkembang adalah adanya keyakinan bahwa pembangunan rumah pada bulan tersebut dapat mengundang kedatangan makhluk gaib.

Kepercayaan itu kemudian membuat sebagian masyarakat memilih menunda pembangunan rumah hingga bulan Safar berakhir.

4. Bepergian Jauh

Bepergian jauh juga menjadi pantangan yang dikenal dalam kepercayaan sebagian masyarakat ketika Rebo Wekasan tiba. Perjalanan pada hari tersebut dikhawatirkan membawa musibah atau malapetaka. Karena itu, ada yang memilih menunda perjalanan dan tetap berada di rumah.

Namun, perlu dibedakan antara tradisi masyarakat dengan ketentuan yang benar-benar ditetapkan syariat.

Baca Juga : APBD 2027 Kota Blitar Berpihak pada Warga, Pendidikan hingga Perlindungan Sosial Diperkuat

Adakah Larangan Khusus Rebo Wekasan dalam Islam?

Rebo Wekasan memang dikenal sebagai Rabu terakhir bulan Safar. Di sejumlah daerah, hari tersebut diisi dengan berbagai tradisi dan amalan.

Namun, anggapan bahwa Rebo Wekasan merupakan hari yang secara khusus membawa kesialan tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

Dilansir dari NU Online, keyakinan mengenai bulan Safar sebagai bulan sial telah dikenal sejak masa Jahiliah. Rasulullah SAW justru membantah anggapan tersebut melalui hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa."

Hadis tersebut menunjukkan bahwa bulan Safar tidak dapat diyakini sebagai bulan yang membawa kesialan secara khusus. Karena itu, tidak tepat apabila seseorang meyakini bahwa menikah, membangun rumah, melahirkan, atau bepergian pada Rebo Wekasan secara otomatis akan mendatangkan musibah hanya karena waktunya bertepatan dengan Rabu terakhir bulan Safar.

Bagaimana dengan Amalan Rebo Wekasan?

Pembahasan mengenai Rebo Wekasan juga tidak terlepas dari amalan tertentu, termasuk salat, doa, zikir dan sedekah. Tradisi Rebo Wekasan bukan bagian dari syariat Islam dan tidak memiliki tata cara khusus yang dijelaskan secara tegas dalam hadis atau kitab fikih.

Namun, sejumlah amalan yang dilakukan di dalamnya, seperti salat sunah, doa, zikir dan sedekah, pada dasarnya memiliki nilai ibadah selama dilakukan sesuai ketentuan syariat.

Khusus mengenai salat Rebo Wekasan, terdapat perbedaan pandangan. Tidak ditemukan nash yang secara khusus menganjurkan salat dengan nama atau tata cara Rebo Wekasan. Karena itu, ulama yang membahas persoalan ini membedakan antara salat yang diniatkan secara khusus sebagai "salat Rebo Wekasan" dengan salat sunah mutlak.

Dengan demikian, persoalan Rebo Wekasan sebaiknya ditempatkan secara proporsional. Tradisi yang berkembang di masyarakat tetap dapat dipahami sebagai bagian dari budaya, tetapi keyakinan bahwa hari atau bulan tertentu secara mutlak membawa kesialan tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Musibah maupun keselamatan pada akhirnya berada dalam ketentuan Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan tetap berikhtiar, berdoa dan melakukan kebaikan tanpa meyakini adanya hari tertentu yang secara pasti membawa kesialan. Semoga informasi ini bermanfaat. 


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Agama

Artikel terkait di Agama

--- Iklan Sponsor ---