JATIMTIMES - Media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Beragam informasi dapat tersebar dalam hitungan detik, begitu pula dengan ucapan, foto, maupun video yang kita unggah. Di balik kemudahan itu, ada tanggung jawab besar yang tidak boleh diabaikan oleh setiap muslim.
Khutbah Jumat kali ini mengingatkan pentingnya menjaga rasa malu kepada Allah SWT di tengah derasnya arus media sosial. Keinginan untuk menjadi viral, mendapatkan banyak pengikut, atau meraih pengakuan dari orang lain jangan sampai membuat seseorang mengabaikan batas-batas syariat. Sebab, setiap perkataan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, meski telah lama terlupakan oleh manusia.
Baca Juga : Dari Negative Legislator ke Constitutional Policymaker: Analisis Kritis Putusan MK Nomor 40/PUU-XXIV/2026
Melalui tema ini, jemaah diajak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk menebarkan ilmu, akhlak mulia, dan pesan-pesan kebaikan. Dengan demikian, setiap jejak digital yang ditinggalkan tidak hanya bermanfaat bagi sesama, tetapi juga menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT, bukan sebaliknya menjadi sebab datangnya penyesalan di kemudian hari.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الزَّمَانَ مِيْدَانًا لِلطَّاعَةِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِعَلَى بَعْضٍ بِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ، فَجَعَلَ مِنْهَا شَهْرَ َذِيْ الْحِجَّةِ شَهْرًا حَرَامًا، وَمُوْسِمًا لِزِيَادَةِ التَّقْوَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْقِذُنَا مِنْ عَذَابِهِ وَتُبَلِّغُنَا رِضْوَانَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ يَحُثُّ أُمَّتَهُ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Ma'asyiral Muslimin, Jemaah Salat Jumat yang Dimuliakan Allah,
Dalam setiap khutbah Jumat, khatib memiliki kewajiban menyampaikan wasiat takwa. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memperkokoh keimanan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan takwa yang benar-benar tertanam dalam hati, insyaallah langkah hidup kita akan selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Takwa mendorong seorang mukmin untuk istiqamah melaksanakan segala perintah Allah sekaligus menjauhi seluruh larangan-Nya.
Lebih dari itu, takwa merupakan bekal utama dalam menghadapi perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat. Kita hidup pada masa ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, membawa perubahan besar terhadap cara hidup, pola pikir, hingga karakter masyarakat.
Dahulu seseorang dikenal karena keluasan ilmu, kemuliaan akhlak, atau jasa yang diberikannya kepada masyarakat. Kini, melalui internet dan media sosial, seseorang dapat menjadi terkenal hanya dalam waktu singkat dan memiliki jutaan pengikut.
Akibatnya, ukuran keberhasilan pun perlahan berubah. Tidak sedikit orang yang merasa bangga ketika videonya ditonton jutaan kali, unggahannya dibanjiri tanda suka, atau jumlah pengikutnya terus bertambah. Padahal, tidak semua konten yang populer memperhatikan batas halal dan haram.
Demi mengejar perhatian publik, sebagian orang rela membuka aibnya sendiri, mempertontonkan aurat, mempermalukan orang lain, menyebarkan berita bohong, membuat candaan yang merendahkan agama, bahkan menayangkan kemaksiatan secara terang-terangan. Yang lebih memprihatinkan, semua itu perlahan dianggap lumrah dan akhirnya dinormalisasi.
Ma'asyiral Muslimin, Jemaah Salat Jumat yang Dimuliakan Allah,
Di tengah budaya mengejar viral dan gemar pamer seperti saat ini, kita perlu menghidupkan kembali salah satu akhlak mulia yang menjadi benteng dari berbagai bentuk kemaksiatan, yaitu sifat malu (al-hayâ').
Rasulullah SAW bersabda:
اَلْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ
Artinya: "Rasa malu merupakan bagian dari keimanan." (HR Tirmidzi).
Dalam Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa rasa malu adalah akhlak yang mendorong seseorang menjauhi segala keburukan sekaligus mencegahnya mengabaikan hak-hak yang wajib ditunaikan kepada Allah.
خُلُقٌ يَبْعَثُ عَلَى اجْتِنَابِ الْقَبِيحِ وَيَمْنَعُ مِنَ التَّقْصِيرِ فِي حَقِّ ذِي الْحَقِّ
Artinya: "Rasa malu adalah akhlak yang mendorong seseorang meninggalkan perkara-perkara buruk serta mencegahnya bersikap lalai terhadap hak-hak yang semestinya ditunaikan kepada Allah."
Sayangnya, perkembangan media sosial sering kali justru mengikis sifat malu tersebut. Demi mengejar popularitas, ada orang yang tidak lagi merasa sungkan mempertontonkan aurat, memamerkan kemewahan secara berlebihan, mengucapkan kata-kata kasar, bahkan menjadikan ajaran agama sebagai bahan candaan. Ketika rasa malu mulai hilang, berbagai pintu kemaksiatan pun terbuka lebar.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الْأَنْصَارِيِّ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. رواه البخاري
Artinya: "Dari Abu Mas'ud Uqbah bin 'Amr Al-Anshari RA, Rasulullah SAW bersabda, 'Di antara pesan para nabi terdahulu yang masih dikenal manusia adalah: apabila engkau sudah tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu.'" (HR Al-Bukhari).
Hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu bukan hanya ajaran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga merupakan pesan yang diwariskan oleh para nabi terdahulu kepada umat manusia.
Ma'asyiral Muslimin, Jemaah Salat Jumat yang Dimuliakan Allah,
Sifat malu akan menjadi penuntun bagi seorang mukmin agar mampu menahan diri dari berbagai perbuatan tercela, terutama ketika bermedia sosial. Dengan rasa malu kepada Allah, seseorang akan menyadari bahwa seluruh ucapan dan perbuatannya senantiasa berada dalam pengawasan-Nya.
Allah SWT berfirman:
اَلَمْ يَعْلَمْ بِاَنَّ اللّٰهَ يَرٰىۗ ١٤
Artinya: "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?" (QS Al-'Alaq: 14).
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada satu pun aktivitas manusia yang tersembunyi dari pengawasan Allah. Setiap komentar yang kita tulis, foto yang kita unggah, video yang kita saksikan, maupun jejak digital lainnya, semuanya diketahui oleh Allah SWT.
Baca Juga : Parkir Ilegal Pia Cap Mangkok Tak Dibongkar, Satpol PP Jatim Turun
Karena itu, sebelum jari-jari kita menekan tombol kirim atau unggah, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita rela jika semua itu diperlihatkan di hadapan Allah pada hari kiamat?
Selain tersimpan dalam sistem digital, seluruh ucapan dan perbuatan kita juga dicatat oleh para malaikat sebagaimana firman Allah SWT:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨
Artinya: "Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat." (QS Qaf: 18).
Apabila setiap ucapan dicatat, tentu tulisan, komentar, unggahan, maupun berbagai aktivitas kita di ruang digital juga termasuk bagian dari amal yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah SWT juga berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Artinya: "Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban." (QS Al-Isra': 36).
Ma'asyiral Muslimin, Jemaah Salat Jumat yang Dimuliakan Allah,
Lantas, bagaimana menumbuhkan rasa malu kepada Allah? Salah satunya ialah dengan memperkuat keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik, ucapan, dan perbuatan kita. Kesadaran inilah yang akan membuat kita lebih berhati-hati dalam berbicara, bertindak, maupun menggunakan media sosial.
Di samping itu, kita juga perlu memilih lingkungan digital yang baik. Bertemanlah dengan orang-orang yang mengajak kepada ilmu, akhlak mulia, dan amal saleh. Hindarilah lingkungan yang hanya mengejar sensasi, menyebarkan kemaksiatan, atau menjadikan popularitas dan materi sebagai tujuan utama.
Ingatlah, popularitas hanyalah sementara. Hari ini seseorang dipuji, esok bisa saja dilupakan. Hari ini namanya viral, beberapa hari kemudian masyarakat telah beralih kepada peristiwa lain. Akan tetapi, pahala maupun dosa tidak akan pernah hilang. Semuanya tetap tercatat hingga hari perhitungan.
Karena itu, jangan sampai kita lebih takut kehilangan pengikut di media sosial daripada kehilangan rida Allah SWT. Jangan pula kita lebih sibuk mengejar tanda suka dari manusia dibandingkan mencari cinta Allah. Jadikanlah media sosial sebagai sarana menyebarkan ilmu, mempererat ukhuwah Islamiyah, mengajak kepada kebaikan, serta meninggalkan jejak amal saleh yang pahalanya terus mengalir.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita hati yang dipenuhi rasa malu kepada-Nya, lisan yang senantiasa berkata benar, serta kemampuan memanfaatkan seluruh kemajuan teknologi sebagai jalan menuju kebaikan dan keberkahan. Amin ya Rabbal 'alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَظَّمَ شَهْرَ ذِيْ الْحِجَّةِ وَجَعَلَهُ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَدَعَانَا فِيْهِ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ وَالْإِكْثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ، لِنَزْدَادَ تَقْوًى وَقُرْبًا إِلَيْهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ.
وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ