JATIMTIMES - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino masih akan memengaruhi kondisi cuaca Indonesia hingga awal 2027. Kondisi tersebut diperkirakan membuat musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Berdasarkan informasi terbaru yang dirilis BMKG, peluang El Nino mencapai kategori sangat kuat pada pertengahan Juli 2026 mencapai sekitar 75 persen. Dampaknya, sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami penurunan curah hujan, kekeringan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setidaknya sampai Oktober 2026.
Baca Juga : AIESEC in UNEJ Eksplorasi Potensi Wisata Jember dalam Proyek On The Map 2026 melalui Kunjungan ke Teluk Love
BMKG menyatakan prakiraan tersebut akan terus diperbarui mengikuti perkembangan iklim global. Masyarakat juga diminta rutin memantau informasi resmi agar dapat mengantisipasi perubahan cuaca secara lebih dini.
Apa Itu El Nino?
El Nino merupakan fenomena iklim yang terjadi akibat meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pemanasan tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer sehingga pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia berkurang.
Akibatnya, curah hujan menurun, musim kemarau berlangsung lebih lama, dan kondisi udara menjadi lebih kering. Situasi ini berpotensi memicu kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan, serta memengaruhi berbagai sektor mulai dari pertanian, kesehatan, hingga energi.
Agustus 2026 Jadi Puncak Musim Kemarau di Hampir Separuh Wilayah Indonesia
Selain memperbarui perkembangan El Nino, BMKG juga merilis prakiraan puncak musim kemarau 2026 yang berlangsung secara bertahap di berbagai daerah.
Juli 2026
Pada Juli, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia.
Daerah yang terdampak meliputi sebagian wilayah Sumatera, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, hingga Papua bagian timur.
Agustus 2026
Memasuki Agustus, cakupan wilayah yang memasuki puncak musim kemarau meningkat drastis menjadi 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia.
Wilayah yang diperkirakan mengalami puncak kemarau meliputi:
• Sumatera bagian tengah.
• Sebagian besar Pulau Jawa.
• Bali.
• Nusa Tenggara Barat (NTB).
• Sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
• Sebagian besar Kalimantan.
• Sebagian wilayah Sulawesi.
• Sebagian Maluku dan Maluku Utara.
• Sebagian besar Pulau Papua.
September 2026
Pada September, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di 169 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 25,41 persen wilayah Indonesia.
Wilayah yang terdampak meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Pulau Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, hingga kawasan pegunungan Papua bagian tengah.
Baca Juga : Pemerintah Tetapkan 2 Libur Nasional pada Agustus 2026, Catat Tanggalnya dan Peluang Long Weekend
Dampak El Nino yang Perlu Diwaspadai
BMKG mengingatkan bahwa kemarau panjang akibat El Nino tidak hanya menyebabkan cuaca terasa lebih panas, tetapi juga berpotensi memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Di sektor pertanian, berkurangnya curah hujan dapat mengurangi ketersediaan air untuk irigasi sehingga berisiko menurunkan produktivitas tanaman. Kondisi ini juga dapat berdampak pada pasokan pangan apabila kekeringan berlangsung dalam waktu lama.
Di sisi lain, menurunnya cadangan air di sungai, waduk, dan embung berpotensi memicu krisis air bersih di sejumlah daerah. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) apabila debit air terus menurun.
Risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat seiring mengeringnya vegetasi. Asap yang ditimbulkan dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak menggunakan air, menghindari aktivitas pembakaran lahan, serta tetap memperhatikan kondisi kesehatan selama musim kemarau berlangsung.
BMKG Berikan Sejumlah Rekomendasi
Menghadapi musim kemarau yang dipengaruhi El Nino, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi bagi berbagai sektor agar dampaknya dapat ditekan.
Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering dan membutuhkan air lebih sedikit.
Pemerintah daerah juga diminta mengoptimalkan pengelolaan waduk, bendungan, embung, dan sumber air lainnya sebagai cadangan selama musim kemarau.
Pada sektor energi, ketersediaan air di bendungan perlu dijaga agar operasional PLTA tetap berjalan optimal meski debit air mengalami penurunan.
Sementara di bidang kesehatan, pemerintah daerah diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan yang dapat memicu peningkatan kasus ISPA.
BMKG juga mendorong penguatan sistem peringatan dini, patroli terpadu, serta respons cepat dalam pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi lembaga tersebut. Pembaruan mengenai prakiraan musim, cuaca harian, hingga perkembangan El Nino akan terus disampaikan sebagai acuan bagi masyarakat dalam mengambil langkah antisipasi.
Dengan peluang El Nino yang diperkirakan tetap tinggi hingga awal 2027, kewaspadaan perlu terus ditingkatkan. Upaya sederhana seperti menghemat penggunaan air, menjaga kesehatan saat cuaca panas, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta mengikuti informasi resmi BMKG dapat membantu mengurangi dampak musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang pada tahun ini.