JATIMTIMES - Waktu merupakan nikmat yang paling sering diabaikan manusia, padahal setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Dalam pandangan para ulama Salafus Shalih, waktu bukan sekadar hitungan jam atau hari, melainkan hakikat umur manusia yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Al-Qur'an memberikan penekanan yang sangat kuat mengenai pentingnya waktu. Bahkan Allah SWT bersumpah atas nama waktu dalam Surah Al Ashr, sebuah isyarat bahwa setiap fase kehidupan memiliki nilai yang menentukan keselamatan seseorang.
Baca Juga : Birokrasi Semu Jadi Alasan Fraksi NasDem-PSI Abstain: APBD Belum Jadi Solusi Masalah Kota Malang
Allah SWT berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS Al Ashr: 1-3).
Ayat tersebut menjadi peringatan bahwa kerugian terbesar bukanlah kehilangan harta atau jabatan, melainkan ketika umur habis tanpa diisi dengan keimanan, amal saleh, serta manfaat bagi sesama.
Fenomena zaman modern justru memperlihatkan waktu seakan bergerak semakin cepat. Rasulullah SAW telah mengabarkan kondisi tersebut melalui sabdanya:
"Kiamat tidak akan terjadi hingga waktu terasa berlalu begitu cepat. Satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti satu pekan, satu pekan seperti satu hari, satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti kedipan mata." (HR Ahmad).
Pesan itu semakin relevan ketika manusia kini disibukkan berbagai aktivitas, namun tidak sedikit yang merasa hari-harinya berlalu tanpa menghasilkan amal yang berarti.
Al Habib Quraisy Baharun menyampaikan sejumlah petuah para Salafus Shalih yang menggambarkan betapa berharganya setiap detik kehidupan. Salah satu nasihat yang paling mendasar berbunyi, "Waktu manusia sejatinya adalah usianya sendiri." Kalimat singkat tersebut mengandung makna bahwa nilai kehidupan seseorang diukur dari bagaimana ia memanfaatkan waktu yang Allah anugerahkan.
Dalam nasihat lainnya disebutkan bahwa waktu merupakan bekal menuju kehidupan abadi. Waktu dapat menjadi jalan menuju surga yang penuh kenikmatan apabila dipenuhi dengan ketaatan. Sebaliknya, waktu yang dihabiskan dalam kemaksiatan dan kelalaian dapat menjadi sebab datangnya penyesalan dan azab.
Para ulama Salaf juga mengingatkan bahwa waktu bergerak lebih cepat daripada awan yang berarak di langit. Karena itu, setiap kesempatan beramal tidak layak ditunda, sebab apa yang telah berlalu tidak akan pernah dapat diulang kembali.
Baca Juga : Tanaman Cepat Kering saat Musim Kemarau? Ini Waktu Terbaik Menyiram agar Tetap Subur dan Tidak Layu
"Barang siapa yang waktunya dipergunakan hanya untuk Allah dan karena Allah, maka itulah kehidupan dan usianya yang sesungguhnya," demikian salah satu petuah Salafus Shalih yang diriwayatkan Al Habib Quraisy Baharun.
Sebaliknya, mereka memberikan peringatan keras kepada orang yang menghabiskan hari-harinya dalam kelalaian, angan-angan kosong, serta kesia-siaan. Bahkan disebutkan, apabila waktu lebih banyak diisi dengan kemalasan, tidur tanpa kebutuhan, dan aktivitas yang tidak bermanfaat, maka kehidupan seperti itu kehilangan maknanya.
Kesadaran bahwa umur terus berkurang semestinya mendorong setiap Muslim untuk lebih selektif menggunakan waktunya. Sebab pada akhirnya, bukan panjangnya usia yang menjadi ukuran keberhasilan, melainkan keberkahan setiap waktu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebagai penutup, para ulama juga menganjurkan umat Islam memohon keberkahan waktu kepada Allah SWT melalui doa:
"Ya Allah, jadikanlah hari ini sebagai hari yang penuh keberkahan. Awalnya dipenuhi kesalehan, pertengahannya kemenangan, dan akhirnya keberhasilan, ampunan, serta pembebasan dari api neraka. Berikanlah jalan keluar dari setiap kesulitan, kemudahan dalam setiap urusan, keselamatan dari segala bencana, serta ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin."