JATIMTIMES – Rencana Kementerian Agama (Kemenag) memasukkan materi edukasi pencegahan penyebaran budaya LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer) ke dalam kurikulum pendidikan mulai kelas IV Sekolah Dasar (SD) mendapat dukungan penuh dari Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur (Jatim) Puguh Wiji Pamungkas.
Menurut Puguh, langkah tersebut merupakan bentuk upaya preventif yang krusial dalam menanamkan pemahaman mengenai nilai-nilai agama dan norma sosial kepada anak sejak usia dini.
Baca Juga : DPRD Magetan Garansi Tak Ada Penggusuran Pedagang Pasar Saat Pembangunan Gedung Bioskop
“Saya pikir rencana Kementerian Agama ini bagus. Salah satu solusi yang mendasar dalam mencegah penyimpangan seksual adalah memberikan pemahaman agama yang baik sejak dini. Pemahaman agama menjadi fondasi penting untuk membangun karakter anak,” ujar Puguh, Jumat (24/7/2026).
Kendati mendukung, legislator PKS dari Daerah Pemilihan Malang Raya tersebut mengingatkan agar penyusunan materi dilakukan secara matang dan cermat. Cara penyampaian harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia peserta didik agar tujuan edukasi tercapai tanpa memicu salah tafsir atau rasa penasaran berlebihan.
“Materinya harus disusun secara utuh, lengkap, dan disampaikan dengan pendekatan yang tepat. Guru-guru yang mengajarkan juga harus memiliki pemahaman dan perspektif yang sama, sehingga pesan yang diterima siswa tidak menimbulkan salah tafsir,” katanya.
Ia menegaskan bahwa proses pembelajaran di kelas harus benar-benar menjadi media edukasi yang efektif dalam membina ketahanan moral dan karakter peserta didik.
Selain penguatan pembelajaran formal di sekolah, Puguh menekankan bahwa keterlibatan orang tua merupakan faktor kunci yang sangat menentukan. Sebab, porsi waktu anak bersama keluarga jauh lebih banyak dibandingkan di lingkungan sekolah.
“Pembelajaran di kelas sangat baik sebagai langkah preventif, tetapi juga perlu ada penyuluhan atau edukasi kepada para orang tua. Waktu anak bersama keluarga jauh lebih banyak dibandingkan di sekolah, sehingga peran orang tua menjadi sangat menentukan,” tegasnya.
Baca Juga : 53 Pasangan Nikah Massal di Dalam VW Combi, Pecahkan Rekor MURI
Puguh berharap setiap satuan pendidikan nantinya tidak hanya memberikan materi kepada siswa, tetapi juga menyelenggarakan kegiatan edukasi bagi para wali murid agar tercipta keselarasan antara pendidikan di sekolah dan pola pengasuhan di rumah.
Mengingat Jawa Timur menghadapi tantangan sosial yang tidak ringan, ia mendesak agar langkah pencegahan dilakukan secara komprehensif melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Fenomena ini harus menjadi perhatian bersama. Generasi muda adalah aset bangsa yang harus kita jaga. Karena itu, pendidikan karakter, penguatan nilai-nilai agama, serta keterlibatan keluarga harus berjalan beriringan agar mampu melindungi anak-anak dari berbagai pengaruh yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat,” pungkas Puguh.