free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Internasional

3 Negara yang Sukses Ubah Sampah Jadi Energi Hijau, Bisa Jadi Inspirasi Indonesia

Penulis : Mutmainah J - Editor : Nurlayla Ratri

06 - Jun - 2026, 17:10

Loading Placeholder
Ilustrasi sampah. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di berbagai negara, baik negara berkembang maupun negara maju. Seiring meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi, volume sampah yang dihasilkan setiap tahun juga terus bertambah.

Namun, sejumlah negara berhasil mengubah masalah tersebut menjadi peluang melalui teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WtE). Teknologi ini memungkinkan limbah diolah menjadi listrik, panas, maupun bahan bakar terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Selain mengurangi penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), metode ini juga membantu menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Baca Juga : Buruan Daftar! 10 Beasiswa LPDP 2026 yang Masih Buka, Terakhir 30 Juni

Beberapa negara bahkan telah membuktikan bahwa sampah dapat menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi tinggi. Dilansir dari berbagai sumber, berikut tiga negara yang dinilai berhasil menerapkan sistem pengolahan sampah menjadi energi hijau.

1. Swedia, Daur Ulang Hampir 99 Persen Sampah

Swedia kerap disebut sebagai salah satu negara paling sukses dalam pengelolaan sampah. Negara ini mampu mendaur ulang dan memanfaatkan kembali hampir 99 persen limahnya, sehingga kurang dari 1 persen sampah yang berakhir di TPA.

Sistem Waste-to-Energy di Swedia berjalan sangat efisien. Bahkan, negara tersebut mengimpor sampah dari beberapa negara Eropa untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik tenaga sampah.

Menurut laporan Blue Ocean Strategy, Swedia memperoleh manfaat ekonomi sekaligus lingkungan dari sistem tersebut. Negara-negara seperti Inggris, Norwegia, Irlandia, dan Italia mengirimkan limbah ke Swedia untuk diolah menjadi energi.

Melalui proses pembakaran yang terkendali, sampah diubah menjadi listrik dan energi panas yang kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor bisnis. Sekitar 52 persen sampah di Swedia digunakan untuk menghasilkan energi, sementara 47 persen lainnya didaur ulang.

Energi yang dihasilkan dari sampah tersebut bahkan mampu memenuhi kebutuhan pemanas bagi sekitar satu juta rumah dan menyediakan listrik untuk ratusan ribu rumah tangga lainnya.

2. Denmark, Punya Pembangkit Sampah Sekaligus Tempat Wisata

Denmark juga menjadi salah satu negara yang dianggap berhasil mengembangkan teknologi Waste-to-Energy modern. Salah satu contoh paling terkenal adalah fasilitas CopenHill di Kopenhagen.

Pembangkit ini tidak hanya mengolah sampah menjadi listrik dan energi panas, tetapi juga dirancang sebagai ruang publik yang ramah lingkungan. Atap bangunannya dimanfaatkan sebagai area rekreasi, termasuk jalur hiking dan arena ski buatan yang dapat digunakan masyarakat.

Keberhasilan Denmark dalam mengembangkan ekonomi hijau menarik perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Belum lama ini, pemerintah Indonesia menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Denmark dalam pengembangan lapangan kerja hijau atau green jobs.

Kerja sama tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari pengelolaan sampah, energi bersih, hingga ekonomi karbon. Dalam pertemuan antara Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat dan Duta Besar Denmark untuk Indonesia Sten Frimodt Nielsen, kedua pihak membahas peluang pengembangan ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Baca Juga : IHSG Indonesia Jadi yang Terburuk dari 90 Negara, Ini Penjelasannya 

Pemerintah menilai sektor pengelolaan lingkungan memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.

3. Singapura, Maksimalkan Lahan Terbatas untuk Energi Hijau

Singapura menjadi contoh menarik dalam pengelolaan sampah karena memiliki keterbatasan lahan yang cukup signifikan. Meski demikian, negara kota tersebut mampu mengembangkan sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi.

Pemerintah Singapura menggabungkan pengolahan limbah padat dan air limbah untuk menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan kembali. Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional menuju pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon.

Dikutip dari AIM Press, Singapura menargetkan tercapainya emisi nol bersih atau net zero emission pada pertengahan abad ini. Selain itu, negara tersebut juga berupaya mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir hingga 30 persen pada tahun 2030.

Untuk mencapai target tersebut, Singapura menerapkan berbagai kebijakan ekonomi sirkular yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan limbah tidak hanya dibuang, tetapi juga dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Keberhasilan Swedia, Denmark, dan Singapura menunjukkan bahwa sampah tidak selalu menjadi masalah apabila dikelola dengan teknologi dan kebijakan yang tepat. Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, pengolahan sampah menjadi energi juga dapat menciptakan lapangan kerja baru serta mendukung ketahanan energi nasional.

Dengan jumlah penduduk yang besar dan volume sampah yang terus meningkat setiap tahun, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan teknologi Waste-to-Energy sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Mutmainah J

Editor

Nurlayla Ratri

Internasional

Artikel terkait di Internasional

--- Iklan Sponsor ---