JATIMTIMES - Kolesterol tidak selamanya jahat. Sebenarnya, ini adalah molekul penting yang melayani banyak fungsi vital dalam tubuh. Akan tetapi, kolesterol yang terlalu tinggi berbahaya karena bisa menyebabkan aterosklerosis, yaitu penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Bahkan, bisa mengarah ke penyakit jantung dan stroke.
Biasanya, orang yang memiliki kolesterol tinggi disarankan untuk mengontrol asupan makanan. Bahkan, beberapa orang sampai 'puasa' makan demi kolesterolnya tidak semakin tinggi.
Baca Juga : Makan Bergizi Gratis Untungkan Produsen Taoge di Kepanjen: Setiap Pekan Pasok 45 Kg
Namun meski sudah mengontrol asupan makanan, kolesterol tak kunjung turun bahkan semakin tinggi. Jika dalam kondisi seperti ini, apa yang harus dilakukan?
Jika dalam kondisi seperti ini, dokter Zaidul Akbar menjelaskan bahwa penyakit fisik dapat berhubungan dengan mental. Misalnya, penyakit kolesterol bisa berhubungan dengan kondisi psikis yang perlu ditangani dengan cara berbeda.
“Contoh, makan sehat apa sehat tapi kok kolesterolnya tinggi. Bagi saya ini menjadi hal menarik karena saya mempelajari dan mencoba mendalami sebetulnya ada hubungan apa antara hati (perasaan/mental) dengan fisik atau jasad kita,” kata Zaidul dalam video di saluran Youtube dr. Zaidul Akbar Official dikutip Minggu, (23/2/2025).
Dengan kata lain, gaya hidup sehat seperti tidur cukup, makan gizi seimbang, aktivitas fisik rutin perlu disertai dengan kesehatan mental dan emosional.
"Salah satu karakternya orang yang kena kolesterol itu adalah enggak lentur hatinya, keras, nah yang kayak gitu itu coba direnungkan. Kalau obatnya udah bener, pola makannya udah bener, tapi enggak turun-turun juga kolesterolnya, berarti ada sesuatu yang lain, yang kalau kita ulik salah satunya faktor emosional," katanya.
dr. Zaidul Akbar kemudian membeberkan cara untuk memperbaiki kondisi mental dan emosional agar kolesterol juga ikut diperbaiki.
"Salah satu cara atau mungkin nasihat saya pribadi ya coba dilenturin hatinya dulu. Dilenturin kayak apa? Jangan terlalu kaku dengan sesuatu, kalau bahasa kita tuh easy going aja lah toh dunia cuman main-main aja, enggak usah terlalu diseriusin. Yang perlu diseriusin itu akhirat,” sarannya.
Tak cukup sampai disitu saja, dr. Zaidul Akbar juga menyarankan beberapa terapi, termasuk terapi bekam dan terapi alam.
“Bekam itu efektif sangat membantu menurunkan kolesterol, bukan dari pengeluaran darahnya ya tapi reaksi setelah pembekaman. Makanya coba sebulan sekali dirutinkan berbekam," kata dr. Zaidul Akbar.
Baca Juga : Studi Menarik, Begadang dan Kurang Tidur Bikin Susah Kenyang dan Lapar Terus
“Pergi ke alam, dekat-dekat sama pohon, mungkin perlu peluk pohon, pohon-pohon itu coba disapa, belum pernah nyobain? Cobain! Asik, enak, ngobrol sama pohon, ngobrol sama kucing, akhirnya itu membuat hati nyaman lagi, lentur lagi,” lanjutnya.
Forest Healing
Rutinitas yang disarankan dr. Zaidul Akbar seperti terapi alam ini dikenal oleh para psikolog dengan sebutan konsep forest healing.
Forest healing adalah salah satu terapi psikologi yang bisa digunakan untuk meredakan berbagai jenis simtom psikologi seperti stres. Terapi ini dilakukan dengan berjalan-jalan di alam atau hutan, memeluk pohon, berbicara dengan tumbuhan, dan memetik bunga liar.
Menurut koordinator program Forest Healing Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Padjadjaran (Unpad) Hammad Zahid Muharram, M.Psi., Psikolog., forest healing menjadi satu terapi yang saat ini mulai banyak digunakan dalam bidang psikologi.
“Forest healing tidak bisa menyembuhkan, karena penyembuhan stres perlu terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy). Akan tetapi, sifatnya meredakan, lebih tidak separah sebelumnya,” kata Zahid mengutip laman resmi Unpad.
Zahid menuturkan, manusia memiliki ikatan kuat dengan alam. Ketika manusia berada di hutan, ia akan merasakan iklim mikro yang berbeda dengan di kota ataupun di luar alam. Iklim mikro tersebut banyak dihasilkan dari zat phytoncide yang dikeluarkan tumbuhan secara alami.“Zat ini dinilai mampu meningkatkan kadar kesehatan manusia selama berada di alam bebas,” ujar Zahid.